JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Gelombang PHK Besar-Besaran di Sragen Terus Meluas, Ribuan Buruh Jadi Pengangguran Baru. Sejumlah Pabrik Mulai Terapkan Oglangan 

Ilustrasi pusing
Ilustrasi korban PHK

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Gelombang pemutusan kontrak atau hubungan kerja (PHK) kalangan buruh di Sragen dilaporkan terus meluas.

Kondisi kelesuan pasar dan efek perang dagang ditengarai makin memicu menurunnya produktivitas sejumlah pabrik besar di Sragen hingga terpaksa harus memangkas jumlah pekerja.

Pemberhentian itu mayoritas melanda kalangan buruh yang berstatus tenaga kontrak. Mereka diberhentikan dengan bahasa tidak lagi diperpanjang kontraknya.

“Saya sudah awal bulan ini nggak kerja Mas karena kontrak nggak diperpanjang. Barengan saya ada banyak yang juga diputus kontraknya. Alasannya katanya pasar lagi lesu, produk nggak laku. Kalau dihitung selama dua bulan ini sudah ada sekitar 400an yang dirumahkan,” papar Marno, salah satu buruh kontrak asal Sragen yang barusaja dirumahkan dari pabrik tempatnya bekerja di pabrik mainan di Masaran, Sragen, Sabtu (7/12/2019).

Ia menuturkan mayoritas yang dirumahkan memang pekerja kontrak yang relatif baru. Penghentian kontrak biasanya didasarkan pada keaktivan.

Pihak pabrik sempat memberikan janji jika kondisi manajemen dan pasar pulih, maka akan dipanggil lagi.

Baca Juga :  Mirip Kasus Sambo, Perkara Galian C Ilegal Seret Pengusaha di Sragen. Tersangka Ditahan Tapi Barang Bukti Diduga Dihilangkan

“Ya mau gimana lagi Mas. Ya terpaksa nganggur sambil nyari-nyari lowongan. Tapi juga bingung, karena hampir semua pabrik besar saat ini juga banyak ngurangi karyawan,” tuturnya.

Salah satu Satpam di salah satu pabrik tekstil terbesar di Purwosuman Sidoharjo berinisial STN tidak menampik kondisi itu. Di pabrik tempatnya bekerja, juga banyak pengurangan karyawan terutama mereka yang berstatus buruh kontrak.

Motifnya memang tidak memperpanjang kontrak bagi yang sudah habis masa kontraknya.

“Kondisi ekonomi memang agak menurun. Produk tekstil yang tujuan ekspor sekarang ordernya agak menurun sehingga produksi juga dikurangi. Jadi mau nggak mau, pabrik memang harus ngurangi beban biaya dengan merumahkan buruh yang kontrak. Saya nggak tahu persis tapi kalau ratusan ya ada yang sudah dirumahkan. Kelihatannya yang paling drop perusahaan tekstil, tapi yang diluar tekstil pun juga ikut terimbas. Karena ibaratnya bahan bakunya dari impor, tapi produk yang dibuat nggak bisa terlempar ke luar. Permintaan dari luar sangat menurun,” terangnya.

Baca Juga :  Berikut Daftar Lengkap 12 Korban Tewas dan Luka-Luka Kecelakaan Maut Elf Terseret Fuso di Tol Bawen!

Senada, Nur, salah satu karyawan unit di pabrik tekstil Sidoharjo juga menuturkan pengurangan buruh juga terjadi di tempatnya.

Menurutnya pengurangan terjadi sejak hampir empat bulan terakhir dengan jumlah makin lama makin banyak. Bahkan, menurunnya produksi terpaksa membuat buruh yang ada dimasukkan tidak penuh sebulan akan tetapi dioglang hanya beberapa minggu saja.

“Kalau di tempat kami malah ada unit produksi yang terpaksa ditutup karena memang ordernya menurun drastis. Sehingga yang kerja di unit itu dan statusnya kontrak terpaksa dirumahkan. Tapi yang sudah lama, dipindahkan ke unit lain dengan konsekuensi akhirnya dioglang masuknya. Nggak full sebulan penuh, tapi ada yang dimasukkan cuma 10 hari, ada yang dua minggu, nanti gantian. Kalau buruh ya pasrah saja Mas, karena situasinya begini. Yang nggak tahan dan milih keluar sendiri, juga ada,” urainya.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com