JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Gelombang PHK Besar-Besaran di Sragen Terus Meluas, Ribuan Buruh Jadi Pengangguran Baru. Sejumlah Pabrik Mulai Terapkan Oglangan 

1974
Ilustrasi korban PHK
loading...
Loading...
Ilustrasi korban PHK

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Gelombang pemutusan kontrak atau hubungan kerja (PHK) kalangan buruh di Sragen dilaporkan terus meluas.

Kondisi kelesuan pasar dan efek perang dagang ditengarai makin memicu menurunnya produktivitas sejumlah pabrik besar di Sragen hingga terpaksa harus memangkas jumlah pekerja.

Pemberhentian itu mayoritas melanda kalangan buruh yang berstatus tenaga kontrak. Mereka diberhentikan dengan bahasa tidak lagi diperpanjang kontraknya.

“Saya sudah awal bulan ini nggak kerja Mas karena kontrak nggak diperpanjang. Barengan saya ada banyak yang juga diputus kontraknya. Alasannya katanya pasar lagi lesu, produk nggak laku. Kalau dihitung selama dua bulan ini sudah ada sekitar 400an yang dirumahkan,” papar Marno, salah satu buruh kontrak asal Sragen yang barusaja dirumahkan dari pabrik tempatnya bekerja di pabrik mainan di Masaran, Sragen, Sabtu (7/12/2019).

Ia menuturkan mayoritas yang dirumahkan memang pekerja kontrak yang relatif baru. Penghentian kontrak biasanya didasarkan pada keaktivan.

Pihak pabrik sempat memberikan janji jika kondisi manajemen dan pasar pulih, maka akan dipanggil lagi.

“Ya mau gimana lagi Mas. Ya terpaksa nganggur sambil nyari-nyari lowongan. Tapi juga bingung, karena hampir semua pabrik besar saat ini juga banyak ngurangi karyawan,” tuturnya.

Salah satu Satpam di salah satu pabrik tekstil terbesar di Purwosuman Sidoharjo berinisial STN tidak menampik kondisi itu. Di pabrik tempatnya bekerja, juga banyak pengurangan karyawan terutama mereka yang berstatus buruh kontrak.

Motifnya memang tidak memperpanjang kontrak bagi yang sudah habis masa kontraknya.

“Kondisi ekonomi memang agak menurun. Produk tekstil yang tujuan ekspor sekarang ordernya agak menurun sehingga produksi juga dikurangi. Jadi mau nggak mau, pabrik memang harus ngurangi beban biaya dengan merumahkan buruh yang kontrak. Saya nggak tahu persis tapi kalau ratusan ya ada yang sudah dirumahkan. Kelihatannya yang paling drop perusahaan tekstil, tapi yang diluar tekstil pun juga ikut terimbas. Karena ibaratnya bahan bakunya dari impor, tapi produk yang dibuat nggak bisa terlempar ke luar. Permintaan dari luar sangat menurun,” terangnya.

Baca Juga :  Puluhan TNI Dikerahkan Bersihkan Sampah Sungai Mungkung, Dandim Sragen Ingatkan Buang Sampah Denda Rp 50 Juta

Senada, Nur, salah satu karyawan unit di pabrik tekstil Sidoharjo juga menuturkan pengurangan buruh juga terjadi di tempatnya.

Menurutnya pengurangan terjadi sejak hampir empat bulan terakhir dengan jumlah makin lama makin banyak. Bahkan, menurunnya produksi terpaksa membuat buruh yang ada dimasukkan tidak penuh sebulan akan tetapi dioglang hanya beberapa minggu saja.

“Kalau di tempat kami malah ada unit produksi yang terpaksa ditutup karena memang ordernya menurun drastis. Sehingga yang kerja di unit itu dan statusnya kontrak terpaksa dirumahkan. Tapi yang sudah lama, dipindahkan ke unit lain dengan konsekuensi akhirnya dioglang masuknya. Nggak full sebulan penuh, tapi ada yang dimasukkan cuma 10 hari, ada yang dua minggu, nanti gantian. Kalau buruh ya pasrah saja Mas, karena situasinya begini. Yang nggak tahan dan milih keluar sendiri, juga ada,” urainya.

Terpisah, Plt Kepala Disnaker Sragen, Sarwaka mengaku sejauh ini belum ada laporan pasti dari perusahaan-perusahaan soal gelombang PHK besar-besaran itu.

Namun ia berharap jika memang ada kelesuan produksi, sebisa mungkin agar perusahaan tak sampai memberhentikan atau merumahkan pekerja.

“Kalau laporan resmi belum ada. Coba nanti kami akan cek ke lapangan. Harapan kami kalau bisa sesulit apapun kondisinya, jangan sampai ada PHK,” tukasnya.

Baca Juga :  Sedang Pakai Jilbab di Kamar, Warga Tunjungan Sragen Histeris Rumahnya Kemasukan Perampok. Pelaku Sempat Sekap dan Ancam Pakai Obeng

Meluasnya PHK itu menambah panjang daftar jumlah korban PHK di Sragen. Medio bulan November lalu, Ketua SPSI Sragen, Rawuh Suprijanto mengungkapkan hingga kini banyak pabrik-pabrik di Sragen yang mulai merumahkan buruhnya.

Data yang tercatat di SPSI, total ada sekitar 4.000 lebih buruh yang sudah dirumahkan sejak tiga bulan lalu.

Menurut Rawuh, sepinya order dan lesunya perekonomian menjadi alasan pabrik-pabrik itu memutuskan merumahkan buruh-buruh mereka.

“Saat ini kondisi perusahaan-perusahaan sedang sakit. Dengan bukti sudah ada 4.000 buruh yang saat ini sudah dirumahkan,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM, Minggu (17/11/2019).

Rawuh menguraikan ribuan pabrik yang dirumahkan itu terdeteksi berasal dari tujuh pabrik di Sragen. Mayoritas adalah pabrik-pabrik tekstil seperti BATI, DMST 1 hingga 3.

Hampir semua buruh yang dirumahkan itu adalah buruh dengan status kontrak. Sehingga secara posisi, mereka juga lemah untuk bisa menuntut pesangon.

“Rata-rata pasrah dan nggak nuntut. Lha gimana wong statusnya hanya kontrak,” terangnya.

Rawuh menambahkan aksi PHK massal itu terjadi rata-rata karena pabrik beralasan order sepi dan perekonomian lesu.

“Rata-rata alasannya sedang sepi sehingga harus mengurangi buruh,” tukasnya. Wardoyo

 

Loading...