JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Opini

Indonesia Harus Lebih Progresif Meningkatkan Produktivitas dan Nilai Elspor Pertanian di Pasar Dunia

Luluk Nur Hamidah, Anggota Komisi IV FPKB DPR RI/ Daerah Pemilihan Jateng IV. Dok. Pribadi
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Luluk Nur Hamidah, Anggota Komisi IV FPKB DPR RI/ Daerah Pemilihan Jateng IV. Dok. Pribadi

Luluk Nur Hamidah

Anggota DPR RI Fraksi PKB, Komisi IV dan BKSAP/ Dapil Jateng IV/ Ketua DPP PKB Bidang Hubungan Internasional

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sebagai negara agraris tropis terbesar kedua di dunia setelah Brazil, Indonesia sudah semestinya menjadi pemain terdepan dalam ekspor produk pertanian dan perkebunan. Terutama produk tanaman tropis yang sangat diminati pasar dunia seperti rempah-rempah; lada hitam, lada putih, kayu manis, vanili dan seterusnya.

Saat perjalanan ke Washington DC, Amerika Serikat dalam rangka memenuhi undangan International Democrat Union (IDU) 3 – 6 Desember 2019, dan informal meeting dengan KBRI Washington DC bersama Deputi Dubes dan Atase Pertanian, pihak kedutaan menginformasikan bahwa Amerika akan menyediakan anggaran sekitar USD 10 juta sampai USD 12 juta.

Anggaran itu untuk memberikan dukungan dan fasilitasi bagi peningkatan kualitas, kuantitas dan keberlanjutan produk unggulan rempah-rempah seperti lada, kayu manis, dan vanili. Peluang ini seharusnya dapat ditangkap pemerintah, mengingat Indonesia memiliki sejarah sebagai produsen rempah-rempah dunia.

Selain itu pada 2020, Amerika Serikat akan mengadakan pameran produk pertanian berskala besar yang akan dihadiri oleh seluruh importirnya. Termasuk perusahaan distributor produk pertanian yang memiliki jaringan di seluruh negara bagian Amerika.

Momentum ini pun harus cepat direspon pemerintah untuk mendapatkan manfaat yang besar.
Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian sudah semestinya lebih progresif dalam mencari pasar baru bagi produk pertanian unggulan Indonesia. Tidak hanya terfokus kepada kelapa sawit yang menghasilkan devisa sangat besar. Atau karet, kopra dan kakao yang sudah dikenal dunia. Tetapi berusaha untuk mempromosikan produk pertanian lainnya terutama rempah-rempah yang mulai memudar.

Penting untuk mengekspor produk pertanian yang beragam. Karena apabila salah satu komoditas harganya jatuh dipasar dunia maka dapat ditutupi oleh komoditas lainnya. Seperti komoditas karet dan kopra yang harganya saat ini sangat jatuh sekali.

Pasar Amerika Serikat sendiri sangat menjanjikan bagi produk pertanian Indonesia. Sayangnya pemerintah belum memaksimalkan pasar yang besar tersebut. Dari 10 negara eksportir komoditas pertanian ke Amerika Serikat, Indonesia berada pada peringkat ke 8, dibawah Brazil, India dan Italia serta sedikit di atas Vietnam.

Permintaan terhadap komoditas pertanian yang paling besar di Amerika dalam beberapa tahun belakangan ini adalah kakao, vanili, lada hitam, lada putih, dan kayu manis. Tanaman tersebut merupakan tanaman tropis yang di Indonesia telah memiliki sejarah panjang dalam membudidayakannya. Sehingga sangat aneh jika Indonesia tidak mengambil peluang tersebut.

Begitupun trend pasar di Amerika menunjukkan permintaan yang besar terhadap jenis produk makanan olahan khususnya dari produk pertanian organik. Kesadaran warga Amerika akan makanan yang sehat dan berkualitas mendorong meningkatnya pesanan produk makanan organik dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Produk makanan ringan seperti kacang-kacangan, minuman buah segar, sarang burung wallet dan kopi dibutuhkan dalam jumlah yang besar. Komoditas-komoditas itu pun sangat familiar di berbagai daerah sehingga dapat dipenuhi oleh Indonesia.

Dengan demikian selama ini kesiapan pemerintah dan pelaku usaha dalam menangkap pasar ekspor produk pertanian dan makanan olahan belum maksimal. Salah satu contohnya adalah adanya pesanan terhadap telor asin matang dari Indonesia untuk pasar Amerika sebanyak tiga puluh ribu perhari yang tidak dapat dipenuhi.

Oleh sebab itu yang harus segera dilakukan pemerintah adalah;
1. Buat peta dan data produk unggulan pertanian, baik organik maupun non organik yang memiliki kualitas ekspor.
2. Berikan pelatihan dan pendampingan bagi petani, kelompok usaha tani serta pelaku bisnis komoditas pertanian agar produk pertaniannya dapat bersaing dengan negara-negara lainnya.
3. Petani berhak untuk memiliki pengetahuan bertani yang baik, untuk itu ajarkan petani dalam membuat perencanaan usaha pertaniannya agar dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan mereka.
4. Bantu petani dan pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam mengolah bahan produk pertanian menjadi bahan makanan olahan yang siap jadi sehingga memiliki nilai tambah.
5. Berikan akses dan informasi terkait pasar internasional yang bisa ditembus untuk memasarkan produk unggulan pertanian dan produk makanan olahan siap saji mereka.
6. Manfaatkan semaksimal mungkin forum-forum pameran internasional yang ada di negara tujuan ekspor dan kerjasama yang bernilai, termasuk mengikutsertakan pemerintah daerah untuk ikut aktif mempromosikan produk unggulannya.
7. Maksimalkan peran Atase Pertanian karena mereka memiliki data “Market Intelijen” yang sangat berharga. Kalau perlu ditambah personilnya karena dengan hanya 4 Atase Pertanian yang dimiliki Indonesia, terkesan kurang serius dan kurang progresif dalam menigkatkan ekspor pertanian Indonesia.
8. Pemerintah harus lebih responsif dalam menyikapi semua informasi pasar dunia dan manfaatkan data serta informasi yang diberikan oleh perwakilan Indonesia di luar negeri untuk menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan secara cepat, akurat, efektif dan bernilai.
9. Mendorong diplomasi Parlemen baik kelembagaan ataupun personal di dunia internasional dalam berbagai bidang, tidak hanya politik tetapi juga ekonomi dan budaya. Aria