JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Kisah Ngenes Korban Janji Keraton Agung Sejagat. Buruh Tani Ini Rogoh Kocek Rp 2 Juta Hanya Untuk Seragam Keraton

Tribunnews
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM  – 
Keraton Agung Sejagat berhasil memukau dan menipu banyak orang, termasuk seorang buruh tani yang harus merogoh kocek hingga Rp 2 juta untuk seragam kirab Keraton palsu tersebut.

Akhirnya, banyak korban dari anggota Keraton Agung Sejagat (KAS) yang buka suara.

Seperti diketahui, keberadaan KAS menjadi buah bibir di masyarakat. KAS dipimpin oleh ‘raja’ yang dipanggil Sinuhun yang bernama asli Toto Santoso Hadiningrat.

Sementara ‘ratu’ yang dipanggil Kanjeng Ratu Dyah Gitarja dan bernama asli Fanni Aminadia.

KAS telah mendirikan bangunan seperti keraton di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo.

KAS memiliki banyak pengikut meski baru dibentuk belum terlalu lama. KAS disebut-sebut telah memiliki pengikut sekitar 450 orang.

Salah satunya adalah buruh tani yang harus membayar Rp 2 juta untuk seragam kirab.

Kasnan (40), seorang buruh tani asal Dusun Conegaran, Desa Triharjo, Kapanewon Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, adalah salah satu pengikut Kerajaan Agung Sejagat.

Ia adalah salah satu orang yang ikut berbaris membawa panji-panji bertuliskan aksara jawa saat kirab di Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, sepekan yang lalu.

Untuk mengikuti kirab tersebut, Kasnan harus merogoh uang Rp 2 juta untuk membeli seragam dan topi.

Uang itu juga syarat untuk mendaftar menjadi anggota Keraton Agung Sejagat.

Baju tersebut berwarna hitam dengan kancing emas. Terdapat pangkat bertuliskan aksara jawa di pundak, serta bordiran emas di lengan bahu dan sekitar kerah baju.

“Istri belum tahu waktu itu. Saya dapat pakaian Kamis, saya pakai di sana (sebelum kirab). Kalau saya pakai sejak dari sini (Conegaran), bisa heboh kampung,” kata Kasnan, Jumat (17/1/2020).

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani itu mengaku tidak mengerti aksara jawa di panji yang ia bawa.

Ia hanya diminta untuk membawa panji tersebut dengan berjalan selangkah demi selangkah sejauh 1 kilometer. Namun, ternyata ia harus menempuh jarak sejauh 3 kilometer.

“Saya jalan 3 kilometer sambil bawa bendera. Itu jauh sekali. Katanya 1 kilo saja, ternyata jauh. Kaki saya mudah sakit kalau jalan jauh. Waktu itu rasanya ingin lepas saja dari barisan. Habis jalan, saya langsung tidur di mobil,” kata Kasnan.

Kegiatan kemanusiaan

Kasnan mengaku telah beberapa kali mengikuti acara yang digelar Keraton Agung Sejagat. Namun, ia belum sepenuhnya yakin akan terlibat di dalam komunitas tersebut.

Menurut bapak empat anak itu, saat pertemuan Keraton Agung Sejagat, mereka lebih banyak berbicara tentang kemanusiaan dan sosial kemasyarakatan.

Bahkan, mereka mendata warga yang layak mendapatkan bantuan.

Rencana kegiatan kemanusiaan tersebut membuat Kasnan tergugah dan mau bergabung dengan Keraton Agung Sejagat.

“Tapi, tidak serta-merta ikut. Saya bukan orang yang cepat langsung log in gitu saja. Saya harus berpikir panjang. Akhirnya ikut, siapa tahu bagus,” kata Kasnan.

Setelah sang Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat ditangkap, Kasnan menyadari ada yang salah dalam komunitas itu.

Saat ini ia hanya bisa memantau perkembangan kasus tersebut dan tidak mau mengingat ketika ia masih bergabung dalam keraton fiktif tersebut.

“Saya sudah putuskan semalam untuk melupakan,” katanya.

Ia juga bersyukur istri dan anak-anaknya tetap baik dan menghargai dirinya.

“Ini jadi ujian bagi keluarga kami. Saya menerima semua masukan dari istri dan anak-anak. Kalau keluarga tidak ada yang piye piye, (hati) saya jadi tenang. Kalau keruh ya malah tidak enak,” katanya.

Kasna juga bercerita, tetangga tetap bersikap seperti biasanya dan tidak ada tudingan miring bagi dirinya.

“Saya memilih diam saja. Kalaupun ada yang mem-bully, saya juga tetap diam saja. Mem-bully berarti perhatian. Saya tidak benci. Biarlah. Saya ini orang santai. Saya berdoa saja,” katanya.

Sementara itu, di Klaten, Jawa Tengah, ada 28 orang yang diduga menjadi pengikut Keraton Agung Sejagat

Para pengikut kerajaan buatan Toto Santoso ini tersebar di Kecamatan Prambanan, Kecamatan Jogonalan, dan Kecamatan Wedi ada dua orang.

“Ada beberapa yang kami mintai keterangan atau klarifikasi mereka mengikuti kegiatan yang di Purworejo,” kata Kapolres kepada wartawan di Klaten, Jawa Tengah, Jumat (17/1/2020).

Dari beberapa pengikut yang diperiksa, di antaranya ada yang dijanjikan jabatan sebagai mahamenteri oleh Toto Santoso.

Pada saat diperiksa, para warga Klaten yang menjadi pengikut Keraton Agung Sejagat semua memiliki seragam.

Mereka juga memiliki KTA. Bahkan, setiap warga memiliki tiga KTA.

www.tribunnews.com

Baca Juga :  LP3ES: Kalau Serius Reshuffle, Jokowi Tak Perlu Mengancam, Namun Langsung Eksekusi