JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Semarang

Kerajaan Keraton Agung Sejagat, Misteri Batu Prasasti Berukuran Besar Berwarna Coklat, Warga Takut Tapi Penasaran

Salah satu punggawa kerajaan saat menjaga batu besar yang dianggap sebagai prasasti Kerajaan Keraton Agung Sejagat, pada Senin (13/1/2020). TRIBUNJATENG/Permata Putra Sejati
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

PURWOREJO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kemunculan kerajaan Keraton Agung Sejagat di Purworejo masih menjadi perbincangan hangat masyarakat dan netizen. Salah satu hal yang mendapat perhatian dan membuat penasaran publik adalah munculnya secara tiba-tiba sebuah batu besar berwarna coklat.

Batu tersebut memiliki ukiran tulisan jawa yang belum diketahui apa arti tulisan tersebut. Namun demikian, keberadaan batu besar membuat sejumlah warga merasa takut dan heran sekaligus penasaran.

“Batu besar kala itu datang sekira pukul 03.00 WIB pagi.

Saya melihat ternyata sudah dibungkus kain kafan seperti kain mori,” ujar Sumarni kepada Tribunjateng.com, Senin (13/1/2020).

Disekitar batu itu tidak lupa ada berbagai macam sesaji dan dupa-dupa. Selain itu, para pengikut pada waktu Subuh sudah hadir dan menghadap ke selatan seperti seakan memuja batu besar tersebut.

Baca Juga :  Selama Pandemi Covid-19, Para Kaum Istri Blora Disarankan Tunda Kehamilan

“Otomatis anak-anak kecil yang pada melihat merasa ngeri saat itu, bahkan membuat anak-anak malam harinya yang biasanya berangkat mengaji merasa takut dan tidak mengaji,” imbuhnya.

Ketika ditanya kenapa anak-anak itu hanya bisa menjawab takut dan menganggap batu itu hidup. Karena menyita perhatian, Sumarni (56) akhirnya sempat menegur dan meminta menurunkan kain kafan tersebut.

Puncaknya adalah pada saat kirab, dan dua hari sebelumnya melakukan gladi bersih.

Baca Juga :  Cegah Penyebaran Covid-19, Pasar Sidorejo Kendal Ditutup Sementara

“Mereka itu sempat menggunakan pengeras suara saat ada adzan maghrib,” terangnya.

Sumarni sudah memeringatkan dan membuat surat yang pada intinya adalah meminta mereka menghentikan berbagai macam aktifitas saat adzan dan ibadah.

Kedua adalah tidak melakukan aktifitas yang mengganggu warga saat saat istirahat.

Ketiga, adalah membersihkan lingkungan warga dari sesaji-sesaji.

“Itulah tuntutan warga dan yang jelas kami tidak ingin terganggu dengan mereka yang datangnya berbondong-bondong.Terutama yang disesalkan adalah sesaji,” pungkasnya. (Tribunjateng/jati)

Salah satu punggawa kerajaan saat menjaga batu besar yang dianggap sebagai prasasti Kerajaan Keraton Agung Sejagat, pada Senin (13/1/2020).

www.tribunnews.com