JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Pasutri di Solo ini Tinggal di Rumah Ukuran 5×7 Meter Persegi dengan 15 Anak, Begini Kisah Perjuangannya

Bandono (56) (kanan) menceritakan perjuangan hidupnya bersama istri dan 15 anak. Triawati

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Banyak anak banyak rejeki. Mungkin itulah yang diyakini seorang pemilik nama Bandono (56). Tidak tanggung-tanggung, penjaga SDN Mijen, Jagalan, Jebres Solo tersebut memiliki 15 anak buah cintanya bersama sang istri, Nur Wigati (50).

Putra pertama pasangan tersebut lahir tahun 1989 dan ditutup dengan kelahiran putra terakhirnya tahun 2011 lalu. Dengan kata lain, bisa diperkirakan Nur melahirkan setiap satu setengah tahunnya.

Awal menikah tanggal 22 September 1988 lalu, pasangan Bandono dan Nur tidak merencanakan untuk memiliki anak banyak. Pun mereka juga tidak menyangka akan memiliki anak sebanyak itu. Namun takdir berkata lain, Tuhan memberikan mereka kepercayaan untuk menimang 15 bayi setiap satu setengah tahunnya.

“Ya awalnya Ndak nyangka bisa punya banyak anak. Karena istri tidak memakai alat kontrasepsi atau KB. Dulu pernah memakai KB, pil KB. Tapi kemudian pusing, jadi dihentikan,” tuturnya menerawang kisah awalnya memiliki anak.

Setahun setelah menikah, mereka langsung dikaruniai putri pertama dan disusul anak kedua tahun 1990. Bandono dan anak-anaknya tinggal di rumah dinas penjaga SDN Mijen dengan luas hanya sekitar 5×7 meter persegi.

Baca Juga :  10 Tersangka Sudah Dibekuk, Polisi Buru 5 DPO Termasuk Otak Kasus Penyerangan Mertodranan Solo

Kini di masa tuanya, Bandono beserta istri masih harus berjuang menuntaskan pendidikan tiga anak terakhirnya.

“Masih ada anak yang sekolah di SMP dan dua anak terakhir di SD. Saya bertekad menyelesaikan pendidikan mereka setidaknya sampai tamat SMA,” imbuhnya, Rabu (22/1/2020).

Selain berprofesi sebagai penjaga sekolah, Bandono juga berjualan cacing umpan ikan untuk menambah pemasukan. Dia juga membuat dan menjual sapu dari hasil belajar kepada Kepala SDN Mijen (dulu SDN 1 Mijen) yang menjabat saat itu.

“Sejak berdirinya sekolah ini tahun 1981, saya sudah bekerja menjadi penjaga di sekolah ini. Lalu tahun 1988 saya menikah. Alhamdulillah selang dua tahun sejak itu, tahun 1990 saya sudah diangkat menjadi pegawai negeri sipil (ASN-red),” beber Bandono.

Sedangkan istri Bandono, Nur Wigati berjualan makanan di kantin sekolah untuk menambah pendapatan suaminya. Namun beberapa waktu terakhir Nur tidak lagi berjualan karena alasan tertentu. Dia hanya dirumah mengasuh anak-anak.

Baca Juga :  Aparat Gabungan Amankan Beberapa Pemuda di Kawasan Plasa Manahan, Ada yang Bawa Kaos dan KTA PSHT

Laki-laki ramah tersebut mengaku banyak menemui kendala dalam membesarkan 15 anaknya. Namun sepenuhnya dia sadar perjuangannya mengasuh dan membesarkan anak-anak belum selesai.

“Alhamdulillah anak-anak saya sejak kecil sampai besar banyak yang sehat. Harapan orang tua kepada anak ya bisa menyekolahkan mereka sampai selesai. Walau kendalanya ya banyak. Saya dan istri akan terus berjuang semampu kami,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala SDN Mijen, Joko Santosa menceritakan, Bandono merupakan sosok yang rajin dan bertanggungjawab. Setiap hari dia rutin membuka pintu gerbang sekolah, menyapu halaman, membersihkan toilet, serta menyiram tanaman.

“Namun sejak jatuh sakit tiga bulan lalu kinerja Bandono mulai menurun. Apalagi Bandono sempat dua kali menjalani rawat inap di rumah sakit. Istrinya pun tidak lagi berjualan di kantin, lebih banyak di rumah. Nggak tahu alasannya apa,” ungkapnya. Triawati PP