JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Setelah Beberapa Bulan Gabung, WNI Ini Baru Tahu Kebobrokan ISIS

Suasana pengungsian di Al-Hawl, Suriah, 23 Mei 2019 / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM  – WNI eks ISIS, Aleeyah Mujahid (bukan nama sebenarnya), mengaku tak ikut-ikutan seperti WNI lainnya yang membakar paspor ketika bergabung dengan ISIS.

“Kalau saya dulu enggak ada pikiran untuk ngehapus jejak Indonesia saya. Sayang, lagian ah paspor baru, cap-cap di dalemnya buat kenang-kenangan pernah mampir di bumi Allah bagian negara mana saja,” kata Aleeyah kepada Tempo, Kamis ( 6/2/2020).

Aleeyah mengatakan, sebagian besar yang membakar paspor biasanya dilakukan sukarela. Sebab, tak ada yang menyarankan para pendatang baru ke kelompok ISIS untuk menghancurkan paspor.

Adapun paspor Aleeyah dirampas pihak ISIS begitu ia tiba di Suriah.

“Janjinya bakal dibalikin ternyata enggak,” kata dia.

Meski begitu, wanita berusia 25 tahun asal Jakarta ini masih memiliki salinan paspornya yang ia tinggalkan di rumah orang tuanya di Jakarta. Ia juga sempat membuat KTP elektronik pada 2015.

Namun, ketika berangkat ke Suriah, ia hanya membawa KTP lamanya.

“Sedangkan e-KTP tak tinggal di meja belajar. Buat jaga-jaga.”

Aleeyah pertama kali meninggalkan Jakarta pada Desember 2015. Melalui Turki, ia memasuki wilayah ISIS di Suriah pada Juli 2016 bersama suaminya.

Ia mengatakan, niatnya ke sana untuk mencari kehidupan lebih baik. Bukan soal ekonomi, tetapi keselamatan agama.

Ia ingin tinggal bersama umat muslim dari seluruh penjuru dunia dan rela diatur hukum Islam berdasarkan Al Quran dan sunnah.

Beberapa bulan menetap di sana, Aleeyah mulai melihat kebobrokan ISIS, terutama setelah kejatuhan Mosul pada akhir Oktober-awal November 2016.

Berdasarkan pengalamannya, bergabung dengan ISIS sama seperti terlibat dalam sebuah kelompok gangster atau mafia bertopeng Islam.

“Pas lo mau keluar, susah. They will never leave you alone.”

Ketika ISIS mulai digempur habis-habisan pada 2017, Aleeyah dan anaknya pun dibawa ke kamp pengungsian hingga berakhir di kamp Rojava. Selama lebih dari 2 tahun ia berdoa dan berharap untuk bisa pulang ke Indonesia.

www.tempo.co

Baca Juga :  Merasa Bantuan Kuota Internet dari Kemdikbud Kurang, Banyak Warga Mengadu ke KPAI