JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Memprihatinkan, Begini Kondisi Rumah Orangtua Balita Asal Sukodono Sragen Yang Alami Tumor di Jari dan Beberapa Bagian Tubuh. Orangtua Menangis Tiap Dengar Kata Amputasi!

Kondisi rumah kecil yang ditempati pasangan Wanto-Etik di Dukuh Dayu, Desa Jatitengah, Sukodono, Sragen. Foto kolase/Wardoyo
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

IMG 20200307 144527
Kondisi rumah kecil yang ditempati pasangan Wanto-Etik di Dukuh Dayu, Desa Jatitengah, Sukodono, Sragen. Foto kolase/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Penderitaan pasangan Wanto (30)- Etik Susilowati (29), pasutri asal Dukuh Dayu RT 17, Desa Jatitengah, Kecamatan Sukodono, Sragen yang balitanya divonis mengarah tumor di jari dan beberapa bagian tubuh, mencuatkan fakta miris.

Pasangan buruh serabutan itu diketahui tinggal di rumah sangat sederhana. Saat disambangi JOGLOSEMARNEWS.COM , rumah pasutri itu sangat kecil hampir mirip dengan gubug.

Bersebelahan di samping rumah orangtua mereka, rumah itu berdinding anyaman bambu dan berukuran kecil. Di dalamnya juga nyaris tak ada perabotan mewah.

Ruangan pun menyatu dengan dapur. Di dekat dapur ada dipan atau ranjang kayu yang di situlah tempat Etik menaruh putrinya hingga kemudian digigit kutu kucing alias pinjal.

“Iya seadanya Mas. Bapaknya (Wanto) juga cuma mburuh serabutan,” papar Etik kepada wartawan, Jumat (6/3/2020).

Etik menuturkan dengan penghasilan pas-pasan, ia pun terpaksa harus ngutang sana sini untuk memback up pengobatan putri keduanya, Samara Khumaira Mariba (10 bulan) yang divonis mengalami tumor pada bagian jari manis tangan kanannya.

Baca Juga :  Doa Bersama Untuk Bangsa, 15 Jaringan Laskar Santri Sragen Tolak Dakwah Berbau Kebencian dan Provokatif. Dukung TNI-Polri Tindak Tegas Oknum dan Kelompok Perongrong Pemerintah

Meski biaya pengobatan ditanggung BJPS, namun untuk akomodasi dan menebus resep harus merogoh kocek sendiri.

“Saya total semua biaya sudah habis Rp 11 juta. Karena resep nebus sendiri. Kadang Rp 150.000 kadang Rp 300.000 sekali resep. Belum juga biaya mengantar ke rumah sakit Mas. Semua hasil ngutang,” terang Etik.

Wanto, menuturkan dirinya bekerja sebagai buruh serabutan. Kadang bekerja buruh sawah, kadang kerja di proyek dan apapun yang membutuhkan tenaganya, ia lakoni.

Namun penghasilannya juga tak bisa diandalkan untuk membiayai pengobatan putrinya. Karenanya, dirinya terpaksa harus cari utangan kesana kemari demi bisa mengupayakan kesembuhan buah hatinya.

“Harapan saya, mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah atau siapa pun agar putri saya bisa segera tertangani. Kalau harus operasi, kami sudah nggak punya biaya lagi. Harapannya jangan sampai diamputasi Mas, kasihan saya nggak tega,” tuturnya.

Baca Juga :  100an Petugas KPPS di Sragen Dilaporkan Reaktif Rapid Test. Kasus Terus Melonjak, Kapasitas Isolasi di Technopark Sampai Penuh
IMG20200306134229 816x612 1
Kondisi Samara Khumaira Mariba, balita 10 bulan yang mengalami pembengkakan bagian jari dan beberapa bagian tubuhnya. Foto/Wardoyo

Tak hanya Wanto dan Etik, kedua orangtua mereka atau kakek nenek Samara, juga tak tega melihat apa yang dialami Samara. Bahkan acapkali teringat saran dokter bahwa jika tak segera tertangani harus diamputasi, mereka langsung menangis.

Sementara, Ketua RT 17, Muhammad Amin membenarkan kondisi Wanto dan Etik adalah warga kurang mampu. Bahkan untuk berobat dan kontrol ke rumah sakit, kadang dirinya yang mengantar.

Ia juga berharap segera ada perhatian dan penanganan terhadap penyakit yang diderita Khumaira. Sehingga bisa sembuh seperti sedia kala tanpa harus diamputasi.

“Mudah-mudahan segera ada penanganan dari pemerintah. Saya sendiri sampai nggak tega melihatnya Mas. Anak sekecil itu harus menanggung sakit yang berat dan kelihatann penyakitnya sudah menyebar ke beberapa bagian tubuh lainnya,” tandasnya. Wardoyo