JOGLOSEMARNEWS.COM Market Ekbis

Optimisme Konsumen Tertahan, Ini Saham yang Pas untuk Konsumer

ilustrasi / tempo.co
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pakar saham Indonesia, Ellen May menjelaskan, survei konsumen Bank Indonesia (BI) pada bulan Maret 2020 menunjukkan optimisme konsumen masih berada pada level positif.

Namun demikian, jelas Ellen, seperti telah diprediksikan sebelumnya, bahwa  Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di bulan Maret 2020 akan sedikit tertahan.

Pertanyaan yang perlu mendapat kejelasan dalam konteks ini, menurut Ellen, adalah saham konsumer apa yang dapat dikoleksi untuk investasi.

Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia merilis data bahwa IKK Maret 2020 tetap berada pada level optimis (di atas 100) yaitu sebesar 113,8, meski tidak sekuat optimisme bulan sebelumnya dengan IKK sebesar 117,7.

Optimisme konsumen yang tertahan disebabkan oleh menurunnya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi kondisi ekonomi di masa depan.

Persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dipengaruhi oleh ketersediaan lapangan kerja yang lebih terbatas serta pembelian barang tahan lama yang mulai dikurangi dan lebih dialihkan pada kebutuhan kesehatan yang saat ini dinilai lebih penting.

Sedangkan ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan, jelas Ellen, tertahan akibat menurunnya kegiatan usaha yang berdampak pada penghasilan yang berkurang.

Baca Juga :  Ekosistem Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja Jamin Fleksibilitas Investor

Di samping itu juga karena adanya PHK oleh beberapa perusahaan yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja yang memadai.

Menurut Ellen, hasil survei BI mengindikasikan pengeluaran konsumsi untuk tiga  bulan mendatang (Juni 2020) diperkirakan sebesar 165,5 masih relatif stabil dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Tetap terjaganya pengeluaran konsumsi tersebut terutama didorong oleh permintaan yang diperkirakan meningkat pada bulan puasa Ramadhan dan perayaan Hari Raya Idul Fitri.

“Dari data survei BI tersebut, kami melihat sektor konsumer masih mempunyai peluang investasi jangka panjang yang cukup menarik,” jelasnya.

Meskipun pandemi Corona juga berdampak pada perusahaan konsumer, namun masyarakat masih akan tetap membeli kebutuhan pokok dalam jangka panjang.

“Adapun saham yang bisa dijadikan pilihan investasi yaitu UNVR, ICBP atau INDF,” lanjut Ellen May.

Ellen menjelaskan, rasio profitabilitas perlu menjadi pertimbangan dilihat dari EPS atau laba bersih per lembar saham dengan pertumbuhan EPS sustainable dari tahun ke tahun.

Ketiga perusahaan memiliki EPS yang positif dan bertumbuh sustainable sehingga mampu menghasilkan profit konsisten.

Sedangkan untuk diskon valuasi, pihaknya melihat dari PER secara historis, di mana UNVR sangat terdiskon secara valuasi.

Baca Juga :  Ekosistem Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja Jamin Fleksibilitas Investor

“Harga saham yang masih cukup terdiskon adalah INDF, namun perlu diperhatikan secara mounthly teknikal bahwa saham INDF relatif lebih sideways dibanding UNVR dan ICBP yang cukup uptrend,” paparnya.

Bagi investor dengan tipikal suka memanfatkan deviden yang dibagikan perusahaan, jelas Ellen, maka UNVR kemudian INDF bisa menjadi pilihan.

Dikatakan, dibanding INDF,  ICBP lebih menjadi pilihan karena inisiatif yang dilakukan oleh emiten ICBP mampu meningkatkan penjualan.

“Terutama iklan dan produk-produk baru yang menyasar generasi milineal dengan sistem pemasaran yang cukup baik ke daerah-daerah,” imbunya.

Ellen melihat, saham UNVR adalah saham yang paling menarik untuk diinvestasikan di sektor konsumer.

UNVR dianggap memiliki valuasi yang mahal jika dibandingkan dengan sektoralnya. Meski demikian, dengan mempertimbangkan bisnis model, manajemen, dan profitabilitasnya lebih sustainable, wajar jika valuasi perusahaan lebih mahal atau premium.

Bagi yang ingin berinvestasi di saham UNVR, jelas Ellen, bisa memperhatikan area 6300an untuk cicil beli.  Sedangkan untuk ICBP dan INDF bisa perhatikan area 9300an dan 6000an. Saat ini portfolio investasi jangka panjang EMtrade baru menggunakan 5% dari total dana investasi.

“Namun jika profil risiko investasi Anda cukup agresif, nominal pembelian untuk investasi dapat Anda tingkatkan menjadi 10% dari total dana investasi. Jumlah saham maksimal untuk investasi cukup 5 saham saja,” beber Ellen, dalam rilis ke Joglosemarnews. suhamdani