loading...
Ilustrasi. Foto:Teras.id/BNPB
Oleh : Anas Syahirul

Istri Pak RT ini juga perawat. Makanya kita gagal paham mengapa Pak RT di RT 06 RW 08 Desa Suwakul, Ungaran, Semarang ini justru menolak pemakaman seorang perawat yang jelas-jelas tengah berjuang untuk menyelamatkan nyawa manusia yang akhirnya malah nyawanya sendiri yang tidak terselamatkan. Kejadian ini akan jadi aib berkepanjangan bagi warga Suwakul akibat ulah sebagian oknum warganya yang tidak punya hati nurani yang dengan pongahnya menolak  pemakaman seorang perawat yang menangani jiwa pasien Covid-19.

Tenaga medis, khususnya dokter dan perawat yang merawat ODP, PDP dan suspect Covid-19 lagi dalam posisi penuh ujian.Yang lain mungkin bisa Work From Home (WFH), bisa bergantian piket atau jam kerja dikurangi, atau mengoptimalkan kumpul keluarga. Tapi para tenaga medis ini justru harus tetap hadir di rumah sakit, bahkan jam kerja bertambah dengan beban yang bertambah pula. Mereka juga menjaga jarak dengan anggota keluarganya agar tidak terjadi sesuatu.

Perjuangan mereka masih panjang. Mereka juga harus menyiasati keterbatasan APD (Alat Pelindung Diri) yang selalu dijanjikan pemerintah untuk dipasok. Untung saja banyak elemen masyarakat dan swasta yang bergerak membantu penyediaan APD ini. Saya menyaksikan sendiri, di sebuah RSUD sejumlah perawat yang mengenakan APD dari plastik yang sudah sobek-sobek. Padahal kabupaten itu sudah menetapkan diri sebagai KLB corona lantaran peningkatan jumlah pasiennya cukup signifikan. Ada juga di tempat lain yang mengabarkan tenaga medis menggunakan APD dari mantol plastik dan bentuk-bentuk keterbatasan yang lain.

Perjuangan mereka masih berlanjut. Tak berhenti disana, mereka juga dihadapkan dengan mental dan jiwa sebagai manusia. Mereka harus menguatkan mentalnya sendiri tetap berani masuk kerja untuk merawat para pasien. Terus bertambahnya pasien yang tertular virus ini, kemudian makin bertambahnya jumlah pasien yang meninggal akibat corona, maka tak urung tentu menyurutkan mental mereka. Sebagai manusia, wajar kalau ada ketakutan mereka akan tertular jika daya tahan tubuhnya (imun) drop.  Apalagi kalau mereka mengingat jumlah perawat dan dokter yang meninggal saat menangani wabah ini jumlahnya terus bertambah. Sampai saat ini ada lebih dari 25 dokter dan perawat meninggal yang diduga tertular virus ini (jumlah yang besar jika dibandikan kematian tenaga medis di negara lain dengan jumlah perbandingan pasiennya). Wajar kalau nyali mereka ciut saat akan berangkat kerja. Tapi tanggung jawab profesi dan kemanusiaan, ketakutan yang menyertainya itu mereka lawan. Bertumbangannya sejawat mereka, ibarat dua sisi mata uang. Berpengaruh terhadap surutnya nyali dan mental, tetapi juga menjadi pelecut semangat sekuat tenaga untuk mengabdikan diri menyelamatkan jiwa manusia.   

Baca Juga :  THE NEW WUHAN

Perjuangan mereka masih berlanjut. Mereka harus menghadapi entah itu cibiran atau lebih tepatnya mungkin ketakutan masyarakat terhadap keberadaan tenaga medis di lingkungannya. Banyak dokter/perawat/petugas lab sampai petugas kebersihan rumah sakit yang dijauhi oleh warga, ada pula perawat atau tenaga lab yang disuruh pindah kos, ada pula keluarga perawat yang diminta pindah kontrakan rumah dulu, ada pula yang saat berangkat atau pulang pintu rumah tetangganya langsung ditutup dan sejumlah perlakuan kurang mengenakkan lainnya. Data di survei Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia (FKUI) setidaknya sudah ada 135 kasus perawat Covid-19 yang diminta meninggalkan tempat tinggal mereka.

Perjuangannya terus berlanjut, tapi kali ini dilanjutkan oleh sejawat dan keluarganya. Karena sang tenaga medis sudah tidak lagi bisa berjuang sendiri, mengingat dia telah mendahului pasien yang dirawatnya. Dilanjutkan keluarganya, berjuang agar jenazahnya bisa dikuburkan dengan lancar. Karena masih ada orang-orang yang jiwa dan akalnya tumpul sehingga menolak jenazah tenaga medis yang diindikasi tertular covid-19 untuk dimakamkan di tempat tinggal mereka. Itu berlangsung di sejumlah tempat.  

PARA PERAWAT JUGA MANUSIA

Kalau disuruh memilih tentu mereka memilih tidak merawat pasien Covid-19 tersebut, tapi karena tanggung jawab profesi dan kemanusiaan maka itulah yang harus dia kerjakan. Kalau disuruh memilih, ia tentu juga tidak ingin meninggal duluan apalagi meninggal usai berjuang keras menyelamatkan jiwa orang lain. Dia tentu menginginkan semua selamat sehat kembali, tapi Tuhan berkehendak lain karena sang perawat yang harus mendahului.

Beragam tekanan dan tantangan ini harus dihadapi dengan tabah. Saat ini adalah ujian bagian profesi tenaga medis. Ada dokter yang sementara waktu mengungsikan keluarganya ke rumah neneknya di desa agar tidak terkena dampak, ada perawat dan petugas lab yang pindah kos dan kontrakan dan lainnya.  Dan yang mengejutkan, banyak perawat yang menyembunyikan identitas atau status pekerjaan mereka. Mereka tidak mau profesi yang disandangnya justru berdampak dalam kehidupan sosialnya. Mereka juga takut diejek, dijauhi, ditolak kehadirannya. Bukan saja dirinya, tapi juga keluarganya ikut terkena dampak.

Baca Juga :  THE NEW WUHAN

Tentu mereka pun harus menyikapi hal itu dengan tabah karena bisa jadi ada persepsi yang salah dari sebagian masyarakat. Memang stigma negatif akibat persepsi yang salah di sebagian masyarakat tersebut menimbulkan masalah psikososial seperti stres, sedih dan malu. Namun itu harus tetap dihadapi dengan bahagia dan tetap gembira. Karena persepsi yang salah itu hanya menimpa sebagian warga, masih banyak yang mendukung dan menyemangati pengabdian tenaga medis itu.

Disinilah peran negara dan civil society harus hadir mengatasi persolan ini bersama-sama. Karena pemerintah tak mampu bekerja sendiri. Pemerintah memperbanyak penyediaan APD dan segera mendistribusikan ke daerah-daerah. Elemen masyarakat sudah banyak yang bergerak membangun solidaritas membantu APD, asupan gizi dan lainnya.  Negara dengan perangkatnya juga hadir mengkondisikan pemakaman para korban Covid-19. Jangan sampai ada penolakan-penolakan pemakaman lagi, kelancaran pemakaman juga harus dibantu. Negara punya TNI, Polisi, Satpol PP hingga perangkat sampai desa dan kampung. Pak RT itu juga perangkat negara (meski tidak digaji), jadi harus membantu kelancarannya. Jangan seperti Pak RT dan sebagian warga di Ungaran Semarang yang malah bikin ulah. Ditangkapnya para penolak pemakaman itu dan dijerat pasal berlapis, adalah salah satu bukti  kehadiran negara yang responsif.

Kehadiran negara yang lain adalah menyediakan akomodasi dan transportasi bagi tenaga medis. Butuh tempat khusus untuk menampung para tenaga medis yang mengalami masalah sosial di lingkungannya. Langkah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan menyediakan hotel khusus tersendiri untuk menampung bagi tenaga medis adalah salah satu langkah yang tepat. Mereka juga disediakan kebutuhan makan hingga transportasi khusus.

Apalagi sekarang dunia perhotelan di daerah-daerah juga sedang terpuruk terkena dampak covid-19. Hotel-hotel di daerah juga nyaris okupansinya nol. Maka ini bisa dimanfaatkan, diberdayakan, disewa pemerintah untuk menampung tenaga medis tersebut. Bisa juga dipakai untuk karantina mandiri, tentunya dengan protokol yang benar. Di daerah-daerah khususnya yang intensitas peningkatan pasien cukup signifikan sudah mulai memperhitungkan masalah ini. Mulai APD, akomodasi, mobilitas dan asupan gizi bagi tenaga medis dan pihak yang berurusan langsung dengan penanganan pasien Covid-19.

Kemudian, tugas kita bersama selanjutnya adalah tidak berhenti untuk terus mengedukasi masyarakat . Bergandengan tangan menyelesaikan pandemi ini. (*)