JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Indef: Pelonggaran PSBB Bisa Picu Angka Kematian Akibat Covid-19 Naik 61 Persen

Suasana sepi di Mall Ciputra Cibubur, Kota Bekasi, Jumat, 22 Mei 2020. Supermarket dan toko penjual makanan dikecualikan selama pemberlakuan PSBB) di Kota Bekasi dan masih diperbolehkan buka / tempo.co
Suasana sepi di Mall Ciputra Cibubur, Kota Bekasi, Jumat, 22 Mei 2020. Supermarket dan toko penjual makanan dikecualikan selama pemberlakuan PSBB) di Kota Bekasi dan masih diperbolehkan buka / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM  –
Kebijakan pelonggaran transportasi di tengah pandemi Corona turut berdampak signifikan pada pertumbuhan angka kasus Covid-19 di Indonesia.

Demikian salah satu point hasil kajian oleh
Institute for Development of Economics and Finance (Indef). Diketahui, Indef membuat kajian terkait efektivitas pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Selain itu, lembaga tersebut juga menghitung dampak dari berbagai skenario PSBB, baik yang diperketat atau dilonggarkan terhadap penyebaran virus selama 1 bulan ke depan.

“Secara ringkas, temuan utama policy brief ini mencakup lima aspek,” bebernya, seperti dilansir, Minggu (24/5/2020).

Beberapa point tersebut adalah, pertama, beberapa intervensi pemerintah cukup efektif memaksa masyarakat agar tetap berada di rumah. Namun, kebijakan Pelonggaran Transportasi pada tanggal 7 Mei menghasilkan efek sebaliknya.

Baca Juga :  Kantongi Identitas Pelaku Pemerasan dan Pelecehan Seksual di Bandara Soekarno-Hatta, Polisi Tetapkan Oknum Petugas Rapid Test Itu sebagai Tersangka

Kedua, efektivitas PSBB terhadap pembatasan pergerakan masyarakat sangat berbeda antara satu provinsi dengan provinsi lainnya. Hal ini turut mempengaruhi tren penyebaran virus di wilayah tersebut.

Ketiga, berbagai aspek seperti proporsi pekerja di sektor informal, akses terhadap sanitasi layak, serta provinsi di pulau Jawa/non-Jawa, turut mempengaruhi pola pergerakan aktivitas masyarakat.

Sementara faktor lainnya seperti angka kemiskinan, tingkat pendidikan dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Jokowi-Ma’ruf tidak mempengaruhi pola pergerakan masyarakat.

Keempat, anggapan bahwa PSBB tidak mengurangi jumlah kasus Covid-19 adalah tidak benar. Dengan skenario PSBB lebih diperketat, akan terjadi penurunan angka kasus positif Covid-19 dan berbagai Provinsi di Indonesia akan memiliki jumlah kasus kematian secara signifikan dalam kurun waktu satu bulan ke depan.

Baca Juga :  Korban Pemerasan dan Pelecehan Seksual di Bandara Soekarno-Hatta Tak Kunjung Buat Laporan, Polisi akan Jemput Bola ke Bali: Supaya Terang Benderang

Sedangkan sebaliknya, pelonggaran PSBB akan menyebabkan peningkatan jumlah kematian hingga 61 persen dalam 1 bulan ke depan.

Kelima, mengingat masih tingginya angka penyebaran kasus, policy brief ini menunjukkan bahwa kontrol terhadap pergerakan masyarakat masih sangat diperlukan.

Jika efektif, akan terjadi penurunan angka kasus yang sangat signifikan selama satu bulan ke depan, sehingga kemudian masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

www.tempo.co