JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Demonstrasi George Floyd Memuncak, Trump Sempat Diungsikan ke Dalam Bunker

US Park Police mengenakan perisai antihuru-hara di Lafayette Square seberang Gedung Putih ketika demonstrasi menuntut keadilan bagi George Floyd menyebar ke Washington DC, 31 Mei 2020 / tempo.co
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
US Park Police mengenakan perisai antihuru-hara di Lafayette Square seberang Gedung Putih ketika demonstrasi menuntut keadilan bagi George Floyd menyebar ke Washington DC, 31 Mei 2020 / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM  –
Demonstrasi atas kematian George Floyd, seorang warga kulit hitam di Amerika Serikat (AS) memuncak hingga sampai ke Washington DC.

Akibatnya, Presiden Donald Trump sempat diungsikan ke bunker bawah tanah Gedung Putih, menurut laporan New York Times dan CNN.

Pejabat Gedung Putih dan sumber keamanan mengkonfirmasi kepada CNN, Trump sempat dievakuasi ke dalam bunker bawah tanah selama satu jam sebelum kembali ke lantai atas.

Tidak jelas apakah Melania Trump dan Barron Trump, putranya, juga dibawa bersama Trump ke bunker.

Menurut laporan New York Times, 1 Juni 2020, selama protes berakhir ricuh sampai ke Washington DC, agen US Secret Service tiba-tiba membawa presiden ke bunker bawah tanah yang digunakan di masa lalu selama serangan teroris.

The Times melaporkan peristiwa itu terjadi pada Jumat malam, digambarkan oleh seseorang yang memiliki pengetahuan langsung, ketika demonstrasi menyebar setelah kematian seorang pria kulit hitam bernama George Floyd yang tewas saat ditangkap oleh polisi.

Polisi kulit putih bernama Derek Chauvin menekan leher Floyd ke aspal dengan lutut meski dia meminta dilepaskan karena tidak bisa bernapas.

Protes sampai ke sekitar Gedung Putih setelah protes yang diwarnai kekerasan untuk malam ketiga pada hari Minggu.

Ribuan pengunjuk rasa berdemonstrasi dengan damai di dekat Gedung Putih pada siang hari, tetapi pada malam hari, dengan ratusan massa masih di jalan-jalan, pemandangan berubah membara ketika kerumunan melonjak ke depan barisan polisi antihuru-hara dengan perisai plastik ketika kedua kubu bentrok untuk menguasai Lafayette Square di seberang Gedung Putih.

Baca Juga :  Sepasang Lansia Tewas Bersama Saat Lockdown, Baru Ketahuan Beberapa Bulan Kemudian

Para pengunjuk rasa melemparkan botol-botol air, menyalakan kembang api dan membakar tumpukan kayu dan setidaknya satu mobil.

Salah satu kebakaran terjadi di H Street NW, satu blok dari Gedung Putih yang mungkin telah menyebar karena tak lama kemudian kebakaran terjadi di ruang bawah tanah Gereja Episkopal St. John, yang merupakan gereja kepresidenan.

Namun, kebakaran berhasil dikendalikan oleh petugas pemadam kebakaran. Bisnis yang jauh dari Gedung Putih ditutup untuk berjaga-jaga terhadap vandalisme, dan Wali Kota Muriel E. Bowser memberlakan jam malam pada pukul 11:00 pm. Gedung Putih mematikan beberapa lampu luarnya.

US Secret Service mengatakan bahwa US Park Police dan DC Metropolitan Police berada di lokasi Jumat malam. Protes di Washington DC adalah di antara banyak demonstrasi yang meletus di seluruh negara selama akhir pekan sebagai tanggapan terhadap pembunuhan George Floyd, seorang pria kulit hitam yang tidak bersenjata, di tahanan polisi Minneapolis.

Rekaman video penangkapan Floyd menunjukkan pria itu memohon untuk hidupnya sementara seorang petugas berlutut di leher Floyd selama beberapa menit.

Presiden Trump mengecam Wali Kota Washington DC Muriel Bowser, seorang Demokrat, dalam sebuah tweet Minggu pagi setelah protes, menuduhnya tidak mengizinkan polisi DC untuk membantu agen Secret Service.

Baca Juga :  Cegah Covid-19, Pria Ini Kenakan Masker Emas Seharga Rp 58 Juta

Bowser bereaksi terhadap Trump dalam sebuah pernyataan, menyatakan bahwa dia bersama dengan pengunjuk rasa yang menyerukan keadilan setelah kematian Floyd dan berjanji bahwa polisi D.C. akan melindungi semua penduduk kota.

“Departemen kepolisian saya akan selalu melindungi DC dan semua yang ada di dalamnya apakah saya setuju dengan mereka (seperti mereka yang menggunakan Hak Amandemen Pertama mereka) atau mereka yang tidak saya setujui (yaitu, @realdonaldtrump),” twit Bowser, dikutip dari The Hill.

“Sementara dia bersembunyi di balik pagar dengan takut/sendirian, saya berdiri bersama orang-orang dengan damai melakukan Amandemen Pertama mereka tepat setelah pembunuhan #GeorgeFloyd & ratusan tahun rasisme institusional,” papar Bowser.

“Saya menyerukan kota dan bangsa kita untuk menahan diri meski Presiden ini terus berusaha memecah belah kita. Kekuatan kami dalam damai, dalam suara kami dan pada akhirnya di kotak suara pada bulan November.”

Trump tetap dievakuasi di dalam dan secara berkala mengirimkan pesan Twitter seperti “HUKUM & KETERTIBAN!” sampai malam hari.

Sementara beberapa ajudan mendesaknya untuk tidak menggunakan Twitter, Trump tidak dapat menahan diri untuk tidak melontarkan serangkaian pesan pada hari sebelumnya, yang mencaci-maki Demokrat karena tidak cukup keras meredam demonstrasi George Floyd dan menghubungkan kekacauan itu dengan kaum kiri radikal.

www.tempo.co