JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Era New Normal, Ini Wajah Baru Andong di Yogyakarta

Presiden Jokowi bersalaman dengan warga saat menaiki andong bersama cucunya, Jan Ethes pada hari kedua Lebaran di kawasan Malioboro, Yogyakarta, Kamis, 6 Juni 2019. Pada siang harinya, Jokowi juga mengajak cucu pertamanya itu untuk bersilaturahmi dengan warga dan wartawan di Gedung Induk Istana Kepresidenan Yogyakarta / tempo.co

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Setelah tak muncul lagi selama wabah Corona, andong bakal muncul kembali pada Senin (22/6/2020). Namun, kendaraan tradisional tersebut bakal muncul dengan wajah baru di era new normal.

Para kusir andong sendiri telah menyatakan siap beroperasi lagi dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penularan Covid-19.

Ketua Paguyuban Andong DIY, Purwanto mengatakan, ada tiga poin protokol kesehatan yang disepakati antara Unit Pengelola Teknis (UPT) Malioboro dengan para pengemudi andong.

“Bagi pengemudi yang tak mematuhi tiga poin protokol kesehatan ini, kami minta keluar dari kawasan Malioboro,” ujar Purwanto, Jumat (19/6/2020).

Berikut tiga poin kesepakatan protokol kesehatan untuk mengemudi andong:

Kusir wajib pakai masker

Seluruh kusir andong wajib memakai masker dan pelindung wajah atau face shield serta menyediakan hand sanitizer.

Baca Juga :  Bantu UMKM, Pemkot Yogya Tetapkan Jalur Sepeda Wisata

Sekat kusir dengan penumpang

Kusir wajib memasang sekat antara pengemudi dengan penumpang.

Jumlah penumpang

Satu andong maksimal mengangkut lima orang. “Penumpang andong biasanya satu keluarga, jadi sulit kami terapkan pembatasan seperti pada penumpang bus (ada jarak satu kursi antar penumpang). Sebab itu kami atur maksimal lima penumpang orang,” ujarnya.

Purwanto menjelaskan sejak pandemi Covid-19 terjadi pada Maret 2020, para kusir andong di Yogyakarta kehilangan pendapatan. Tidak ada wisatawan atau penumpang yang hendak diantar. Mereka juga tak punya pekerjaan sampingan, sehingga harus berupaya keras untuk bertahan.

Sebagian kusir mengandalkan sisa tabungan. Namun tak sedikit yang menjual kudanya karena benar-benar terdesak.

“Ada yang jual kuda untuk beli pakan dan membiayai kebutuhan hidup sehari-hari,” ujar Purwanto.
Setelah Lebaran, dia mengakui ada beberapa anggota paguyuban yang beroperasi kembali. Namun tetap saja sepi karena belum ada wisatawan.

Baca Juga :  Sendratari Sang Ratu Digelar di Pantai Cemoro Sewu dengan Protokol Ketat

Mengenai bantuan dari pemerintah, Purwanto mengatakan sebanyak 75 persen anggota paguyuban telah menerima bantuan pemerintah berupa uang sebesar Rp 600.000.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro, Ekwanto mengatakan bukan hanya pengunjung Malioboro yang wajib mematuhi protokol kesehatan.

“Seluruh masyarakat, termasuk para pengayuh becak dan kusir andong juga harus mematuhi protokol kesehatan yang berlaku, khususnya wajib pakai masker,” kata dia.

Ketentuan itu, menurut dia, sudah disosialisasikan kepada seluruh pengayuh becak dan kusir andong beberapa waktu lalu.

“Kalau untuk becak sudah ada penyekat, tetapi biasanya digulung. Di masa new normal nanti kami minta untuk digunakan. Begitupun andong harus menyediakan penyekat antara kusir dengan penumpang,” ujarnya.

www.tempo.co