JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Cerita di Balik Lokasi Penemuan 2 Jenglot di Embung Bontit Pare Sragen Yang Dikenal Angker. Ada Gunung Kecil di Tengahnya, Begini Penampakannya!

Penampakan Embung Bontit di Desa Pare, Mondokan, Sragen yang dikenal angker dan sempat ditemukan dua jenglot. Foto/Wardoyo
Penampakan Embung Bontit di Desa Pare, Mondokan, Sragen yang dikenal angker dan sempat ditemukan dua jenglot. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Masih ingat dengan kehebohan penemuan dua makhluk yang diyakini sebagai jenglot di Desa Pare, Kecamatan Mondokan Sragen, beberapa waktu lalu?

Ya, penemuan dua benda mirip boneka kayu berambut panjang itu hingga kini masih menjadi perbincangan.

Bukan persoalan jenglot yang ditemukan, akan tetapi perbincangan lebih mengarah pada sisik melik Embung Bontit, lokasi ditemukannya dua jenglot itu.

Rupanya, beredar kabar bahwa keberadaan Embung Bontit itu sudah lama dikenal memiliki riwayat mistis dan keangkeran.

Boleh percaya boleh tidak, cerita yang berkembang di kalangan warga memang mengungkap bahwa embung yang selama ini menjadi andalan irigasi petani itu memiliki sisi lain yang tak bisa diabaikan.

“Dua jenglot itu ditemukan di Embung Bontit. Yang satu mengapung 10 meter dari bendungan. Satu lagi mengapung tepat di bawah jembatan bendungan,” ujar Kepala Desa Pare, Samdani, bersama wartawan saat menyambangi Embung Bontit, kemarin.

Baca Juga :  Wilayah Rawan Kekeringan di Sragen Meluas. BPBD Sebut Naik 70 % Menjadi 249 Dukuh, Warga Tangen Mengaku Sudah Malu dan Bosan Didroping

Pantauan JOGLOSEMARNEWS.COM , Embung Bontit berlokasi di pinggir tepo Desa Pare. Jaraknya sekitar 500 meter dari pemukiman warga, dan hampir satu kilometer dari jalur kecamatan Mondokan-Sumberlawang.

Pantauan situasi pada pukul 14.00 WIB, lokasi embung nan luas penuh pepohonan di sekitarnya itu memang relatif sepi. Namun tampak beberapa remaja sedang asyik memancing sekitar 50 meter dari bibir bendungan.

Samdani kemudian mengisahkan Embung Bontit yang menjadi lokasi penemuan dua jenglot tersebut dibangun pada tahun 2010. Embung tersebut dibangun sebagai solusi atas kekurangan air para petani di wilayah tersebut.

“Adanya embung ini, warga memiliki cukup persediaan air untuk mengairi sawah. Ya cukup membantu pertanian di desa kami Mas,” terangnya.

Embung seluas tiga hektare tersebut, merupakan titik pertemuan dua sungai berbeda, yakni Sungai Bontit dan Mbothon.

Kedua sungai ini membawa debit air dari dua kecamatan, yakni Kecamatan Sumberlawang dan Mondokan.

Baca Juga :  Sah, Pasangan Yuni-Suroto Akan Ada di Kotak Kanan Surat Suara pada Pilkada Sragen 2020. Ketua KPU Yakinkan Tak Ada Pesanan!

Tepat di tengah pertemuan sungai muncul sebuah delta, gundukan tanah yang disebut warga sebagai Gunung Wijil.

“Di lokasi tersebut banyak warga berburu jimat terutama di malam satu suro,” urai Samdani.

Samdani kemudian menguraikan saat memasuki musim kemarau, debit air menyusut hingga menyisakan genangan di sekitar bendungan.

Di lokasi itulah dua makhluk jenglot yang menggegerkan warga, kemudian muncul beberapa waktu lalu. Karena terbilang aneh, warga sempat ketakutan dan tak ada yang berani mengambil.

“Lokasi sekitar Gunung Wijil ini memang dikenal angker. Beberapa warga sempat mengalami kejadian mistis di sini,” terangnya.

Ia menambahkan dua jenglot itu kini sudah dirawat oleh warga. Terlepas dari sisi mistis dan cerita horor yang melingkupi, faktanya Embung Bontit menjadi salah satu andalan warga untuk bertani dan jadi salah satu lokasi favorit para mancing mania di wilayah sekitar. Wardoyo