JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Begini Cara Membuat Bonsai Dari Tanaman Liar Hutan, Ternyata Ada Masa Krisisnya, Sabar dan Telaten Jadi Kuncinya

Mas Kurik di antara bonsai yang masih dalam proses. Foto : istimewa
Mas Kurik di antara bonsai yang masih dalam proses. Foto : istimewa

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Salah satu jenis budidaya tanaman yang sedang diburu para pecinta maupun kolektor adalah bonsai. Seni maupun tampilan menjadi daya tarik tersendiri dari bonsai Semakin lama usia pohon semakin tinggi pula harga tawarannya.

Hanya saja perlu perjuangan keras dari para seniman untuk bisa menghasilkan bonsai berkualitas. Salah satu pencari bibit dan pembuat bonsai adalah Mas Kurik. Nama ini sudah tidak asing bagi warga Sukoroyom Kulon Desa Pucanganom Kecamatan Giritontro Wonogiri dan sekitarnya.

Kurik bisa dikatakan petani, perancang, ataupun pembuat tanaman di hutan liar yang sebelumnya tidak ada nilainya. Kemudian disulap menjadi bonsai yang mempunyai nilai jual berkat keuletan dan kesabarannya.

Ketika ditemui di sela-sela kesibukannya, dalam sehari dia bisa mendapatkan tunggak (bakal bonsai) 2 sampai 3 batang. Pencarian dilakukan di hutan maupun lereng gunung dengan menempuh jalan kaki puluhan kilometer.

Menurut dia kalau pas mujur bisa menemukan atau mendapatkan tunggak yang bagus. Tapi kadang juga mendapatkan yang biasa saja atau malah tidak dapat sama sekali. Pohon yang dicari di antaranya jenis Serut, beringin, asam, wau, atau tunggak apa saja yang bisa dibuat menjadi bonsai.

Baca Juga :  Dari Razia Masker di Pasar Purwantoro Wonogiri, ini Hukuman Bagi yang Kedapatan Tidak Memakai Masker Maupun Pemakaian yang Tidak Sesuai Ketentuan

Aktifitas mencari tunggak pohon ini sudah dilakukan kurang lebih 6 bulan yang lalu. Dalam pencarian di hutan sering bertemu dengan para pencari tunggak bonsai dari berbagai daerah, luar kecamatan bahkan ada yang dari wilayah Surakarta.

Tidak hanya di hutan, dia kadang mencari bahan bonsai di pekarangan atau lahan warga. Yang jelas dia meminta izin dulu kepada pemilik lahan. Setelah ada izin, baru bibit dia ambil.

Setelah terkumpul di rumah tunggak tersebut mulai diproses dengan pembuatan media tanam di pot. Lalu dibungkus plastik dan menunggu hasil semi. Terlihat ratusan tunggak calon bonsai yang baru proses tersusun rapi di pelataran samping rumah.

“Dalam menunggu hasil semi ini butuh waktu 2 sampai 3 bulan. Selama masa inilah merupakan masa kecemasan dan harapan antara bisa bersemi hidup ataupun mati,” kata dia, Kamis (27/8/2020).

Setelah melewati masa itu maka hidup atau mati tumbuhan tersebut bisa diketahui. Untuk yang hidup maka tentu akan dirawat dan dibuat bonsai sesuai karakter pohonnya. Pohon yang paling diminati para kolektor adalah jenis pohon serut.

Baca Juga :  Ini Dugaan Penyebab Menurunnya Partisipasi Pemilih Dalam Pilkada, Gegara Penggabungan TPS Hingga Jarak Semakin Jauh Dikhawatirkan Pemilih Malas Datang

Menurutnya prinsip dalam merawat bonsai haruslah sabar. Bonsai tidak boleh diperlakukan secara instant. Harus diperlakukan seperti mahluk hidup yang lain. Tanpa kesabaran hasilnya tidak akan bisa dinikmati.

Bonsai-bonsai hasil karyanya tersebut akan dilepas ke pembeli apabila benar benar sudah melewati perawatan minimal 2 sampai 3 tahun. Karena masa itulah masa yang benar benar baru bisa melihat hasil bonsainya.

“Semakin lama usia bonsai tersebut semakin muncul seni eksotik yang bisa dilihat maupun dinikmati para pecintanya,” jelas dia.

Saat ini walau bonsai masih tahap perawatan pembungkusan menurutnya sudah banyak orang yang menawar. Tapi karena pembeli belum tentu bisa merawat dan bisa hidup maka lebih baik tidak dijual dulu. Harus menunggu 2 sampai 3 tahun.

“Itulah sebabnya para peminat dan pembeli juga harus sabar,” beber dia.

Harapan ke depan semakin lama semakin tua maka bonsai akan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.

Saat ditanya apakah tidak tertarik dengan bisnis bunga yang lain diapun menjawab tidak. Bagaimanapun bonsai tetep mempunyai daya tarik dan seni tersendiri. Semakin sabar menanti maka bonsai akan semakin dinikmati. Aria