JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Faisal Basri: Ekonomi RI Berpotensi Turun Kelas

Pengamat ekonomi, Faisal Basri. Foto: Tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM  -Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri mengatakan, Indonesia memiliki potensi turun kelas karena adanya potensi kontraksi ekonomi tahun ini.

“Bahkan sebenarnya kita justru memiliki potensi untuk turun kelas karena adanya potensi kontraksi ekonomi tahun ini,” katanya dalam webinar bertajuk Indonesia ‘Naik Kelas’ yang dihelat Cambridge Indonesia Association dalam rangka menyambut 75 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Sabtu (15/8/2020).

Namun demikian, Faisal Basri mengakui
 Indonesia naik kelas ke upper middle income dan terus berupaya untuk masuk ke kelas lebih lanjut yakni high middle income dengan gross national income per capita di atas US$ 12.535.

Baca Juga :  Kasus Penusukan Syekh Ali Jaber: Menko Polhukam Instruksikan Aparat Selidiki Latar Belakang Pelaku, Periksa Dugaan Terkait Jaringan

Hanya saja, masih banyak tantangan yang perlu tetap diperhatikan seperti tidak meratanya kekayaan, indeks kapitalisme-kronis, dan rendahnya belanja untuk penelitian dan pengembangan.

Dia menjelaskan data indeks inekualitas nasional telah berada di bawah 0,4, yang artinya sudah bagus. Namun, indeks kepemilikan 10 persen kekayaan orang kaya di Indonesia justru masih tinggi yakni mencapai 74,3 persen.

Di samping itu, indeks kapitalisme-kronis masih tinggi yakni 3,8. Ini menunjukkan kecilnya kesempatan individu untuk mencapai kesuksesan dengan kemampuan pengetahuannya.

Faisal menyebutkan belanja negara untuk penelitian dan pengembangan sangat rendah. Kementerian Ristek bahkan harus rela memangkas belanja menjadi Rp 2 triliun dari pagu awal Rp 42 triliun.

Baca Juga :  Identitas Pelaku Penusukan Syekh Ali Jaber Akhirnya Terungkap, Keluarga Sebut Pelaku Punya Gangguan Jiwa

Berbanding jauh dari Kementerian Pertahanan yang belanjanya masih tinggi di Rp 122 triliun pada tahun ini.

Hal ini tercermin juga pada porsi ekspor teknologi tinggi yang sangat rendah yakni 8 persen, dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia yang porsinya mencapai 52 persen.

“Trennya ini juga turun, dari 2010 yang masih berada di 12 persen dari ekspor manufaktur nasional,” kata dia.

www.tempo.co