JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Jumlah Karyawan Penerima Bantuan Gaji Bertambah, Anggaran Naik Jadi Rp37,7 Triliun

Ilustrasi uang rupiah. Foto: pixabay.com

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Anggaran yang disiapkan pemerintah untuk program bantuan gaji pegawai bertambah menjadi Rp37,7 triliun dari semula Rp33,1 triliun. Hal itu menyusul jumlah tenaga kerja yang akan mendapat manfaat program itu juga bertambah.

Disampaikan Menteri Tenaga Kerja, Ida Fauziyah, jumlah pegawai calon menerima bantuan gaji tambahan mengalami kenaikan menjadi 15.725.232 orang dari sebelumnya 13.870.496 orang.

“Dengan demikian maka anggaran bantuan pemerintah untuk subsidi upah ini mengalami kenaikan menjadi Rp37,7 triliun dari semula Rp33,1 triliun,” kata Ida dalam konferensi pers virtual, Senin (10/8/2020).

Ida menjelaskan bahwa data calon penerima bantuan tersebut diperoleh dari BPJS Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek. Pengumpulan data telah dilakukan hingga 30 Juni 2020.

“Sehingga hanya peserta yang telah terdaftar dalam batas waktu tersebut, mereka yang berhak menerima subsidi upah tersebut,” katanya.

Baca Juga :  Viral Surat Nikah dan Perjanjian Cerai Soekarno Dijual, Harga Dibuka Rp 25 Miliar. Pihak Penjual Disebut adalah Cucu Inggit Garnasih

Seperti diketahui, syarat untuk penerima manfaat program bantuan gaji adalah warga negara Indonesia. Kemudian pekerja atau buruh tersebut harus aktif terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan (BPJamsostek) dengan iuran di bawah Rp150.000 per bulan atau setara gaji kurang dari Rp5 juta per bulan.

Nilai manfaat dari program subsidi gaji senilai Rp600.000 per bulan selama 4 bulan dan dicairkan per 2 bulan sekali. Dengan demikian dalam satu kali pencairan, pekerja akan mendapatkan subsidi sebesar Rp1,2 juta.

Adapun skema pemberian bantuan ini dilakukan karena pemerintah ingin memastikan daya beli dan konsumsi masyarakat tetap terjaga di masa pandemi Covid-19 saat ini, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dalam kuartal III dan IV.

Baca Juga :  Giliran FPI, Alumni 212, dan Rizieq Shihab Desak Pemerintah Tunda Pemilihan Kepala Daerah. Sebut Pilkada 2020 sebagai Pilkada Maut

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa kuartal III adalah kunci untuk menjaga Indonesia terhindar dari jurang resesi.

Staf Khusus Presiden Joko Widodo bidang ekonomi Arif Budimanta mengatakan bahwa berdasarkan konsensus global resesi ekonomi terjadi bila sebuah negara mengalami pertumbuhan negatif selama dua kuartal secara berurutan.

Pertumbuhan harus dihitung dengan perbandingan tahun lalu (yoy) bukan secara kuartalan (qtq). “Indonesia masih bisa menghindari resesi jika pertumbuhan ekonomi kita pada kuartal III ini secara tahunan dapat mencapai nilai positif,” katanya.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik Badan (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2020 terkontraksi sebesar 5,32 persen (yoy). Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa satu sektor yang terkontraksi cukup dalam adalah pariwisata dan penerbangan.

www.tempo.co