JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Sultan HB X Peringati Sewindu Keistimewaan Yogyakarta

Raja Keraton yang juga Gubernur DIY Sri Sultan HB X (baju kotak-kotak) menyatakan Keraton Yogya bersih dari potensi virus corona saat kunjungan Raja Belanda pada Rabu (11/3) lalu. TEMPO/Pribadi Wicaksono

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sri Sultan Hamengku Buwono X memperingati sewindu berlakunya Undang-undang No. 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY, Senin (31/2020).

Raja Keraton Yogyakarta yang juga Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menjelaskan sejarah terbitnya undang-undang yang sangat berarti bagi Yogyakarta itu.

“Undang-undang Keistimewaan bersumber dari peristiwa bersejarah saat Yogyakarta di bawah pemerintahan dua kerajaan mardikâ (Keraton dan Pura Pakualaman) kemudian bergabung dengan Republik Indonesia yang saat itu masih muda,” kata Sultan Hamengku Buwono X dalam acara Sapa Aruh Refleksi Sewindu Undang-undang Keistimewaan di Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, Senin (31/8/2020).

Baca Juga :  Jauh-jauh ke Kulonprogo Hanya untuk Nyolong Motor, Remaja Asal Temanggung Ini Akhirnya Meringkuk di Tahanan

Sultan Hamengku Buwono X menuturkan, bergabungnya Yogyakarta ke NKRI di masa silam layaknya proses ijab kabul, ada ikatan batin sehidup-semati antar dua pihak setara yang tak bisa diputus secara sepihak.

“Peristiwa itu juga bisa dimaknai sebagai pergeseran peradaban monarkhi ke demokrasi. Sebuah bentuk demokrasi khas Yogyakarta, yang di barat disebut demokrasi deliberatif,” ujar Sultan.

Baca Juga :  Kebijakan Pelonggaran Masker, Epidemiolog UGM: Harus Lihat Kondisi Lapangan

Dalam peringatan Undang-undang Keistimewaan ini, Sultan Hamengku Buwono X mengulas pesatnya perkembangan desa-desa wisata di DI Yogyakarta.

Sultan mengisyaratkan agar desa-desa di Yogyakarta kian maju dan setara dengan peradaban di wilayah perkotaan dengan memanfaatkan berbagai peluang.

Sultan Hamengku Buwono melihat perkembangan yang signifikan di desa-desa di Yogyakarta.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua