JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Tragis, Gara-Gara Ada Tetangga Desa Terpapar Covid-19, Belasan Buruh Pabrik Boneka di Masaran Sragen Tangisan. Mendadak Diberhentikan dari Kerjaan, Padahal Sebagian Terlanjur Kredit Motor!

Ilustrasi buruh pabrik
Ilustrasi buruh pabrik

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kisah pilu dialami belasan buruh asal Desa Sepat, Masaran yang bekerja di sebuah pabrik produksi boneka di wilayah kecamatan setempat.

Gara-gara ada tetangga mereka yang dikabarkan positif terpapar covid-19, mereka harus kena dampaknya.

Belasan buruh muda itu harus menelan pil pahit kehilangan pekerjaan setelah mendadak diberhentikan sepihak oleh perusahaan.

Pemberhentian itu membuat belasan burun itu kini dilanda keresahan. Sebab sebagian sudah terlanjur mengambil kredit sepeda motor dengan berharap bisa mencicil pakai upah mereka.

Kisah pilu para buruh itu terungkap dari laporan yang diterima Kades Sepat, Mulyono. Kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , ia membenarkan ada sekitar 15an buruh di desanya yang diberhentikan dari pabrik gegara ada kasus positif covid-19.

Buruh yang diberhentikan itu sebagian berdomisili di Dukuh Mojoroto dan Dawungan. Mereka diberhentikan setelah ada salah satu warga di Mojoroto positif terpapar covid-19 beberapa waktu lalu.

“Ada sekitar 5 warga kami di Mojoroto yang memang diberhentikan dari pabrik itu (boneka). Di Dawungan ada sekitar 11an yang juga diberhentikan. Alasannya nggak tahu, katanya karena ada kasus positif di situ. Padahal yang positif itu sudah dinyatakan sembuh dan semua yang diswab hasilnya juga negatif,” paparnya Minggu (9/8/2020).

Baca Juga :  Polres Sragen Bekuk Predator Anak di Bawah Umur asal Mondokan. Bermodus Ancam Viralkan Foto-Foto Korban, Pelaku Perkosa Korban-Korbannya di Kuburan Cina

Informasi yang diterima JOGLOSEMARNEWS.COM , pabrik itu sebelumnya juga pernah meliburkan belasan buruh di Krebet, Masaran saat ada salah satu warga yang dinyatakan positif covid-19 dua bulan silam.

Mereka yang dirumahkan itu adalah yang tinggal di radius dekat hingga satu kilometer dengan yang positif. Mereka diliburkan 14 hari untuk karantina mandiri dan setiap hari diminta cek suhu lalu melaporkan ke pegawai pabrik via WA.

Setelah 14 hari tidak ada keluhan, mereka kemudian dipanggil semua untuk bekerja lagi. Namun hal yang sama tidak diberlakukan ke buruh di Desa Sepat.

Setelah lewat 14 hari dan tidak ada gejala, bukannya dipekerjakan kembali namun para buruh justru diminta mengembalikan seragam ke pabrik dan berhenti bekerja.

Tak pelak sebagian buruh yang mayoritas perempuan itu tangisan setelah tahu mereka tak boleh bekerja lagi.

Baca Juga :  Sempat Menolak Dites, Kades Trombol Mondokan Sragen Malah Positif Terpapar Covid-19. Kini Diisolasi di Technopark, 5 Saudaranya Juga Positif Semua

“Kami sangat menyayangkan kebijakan itu. Karena warga kami yang kerja itu juga nggak ada masalah apapun. Dia kan nggak salah, hanya karena ada tetangga yang kena covid-19 tapi kenapa ikut jadi korban. Toh, yang positif sekarang sudah sembuh, yang diswab pun hasilnya semua negatif. Kasihan, ada yang sudah kredit motor untuk kerja, tahu-tahu malah dipecat,” terang Mulyono.

Atas kondisi itu, ia berencana akan mendatangi pabrik untuk mempertanyakan kebijakan pemberhentian sepihak itu.

“Harapan kami, mereka bisa dipekerjakan kembali. Kasihan, jangan ada yang dibeda-bedakan. Kalau yang lain dipanggil kembali, kenapa ini malah diberhentikan,” tukasnya.

Terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sragen, Suwardi mengaku belum menerima laporan terkait pemberhentian sepihak buruh pabrik boneka itu.

Ia berjanji akan segera berkoordinasi dengan pihak manajemen untuk menindaklanjuti keluhan itu.

“Saya kebetulan baru pulang dari agenda di Jakarta. Besok akan segera kami konfirmasi ke pihak perusahaan,” tegasnya. Wardoyo