JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Opini

Filosofi Rengginang dan Pandemi Covid-19

ilustrasi / liputan6
Sri Suprapti
Guru Bahasa Jawa di Surakarta

Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sampai sekarang masih belum mereda. Berbagai upaya Pemerintah dalam mengendalikan agar virus mematikan itu tidak menyebar terus diupayakan.

Upaya pengendalian tersebut antara lain anjuran tetap berada di rumah, tidak keluar rumah kecuali ada keperluan sangat penting, selalu cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan air mengalir, menggunakan masker kalau keluar rumah serta menjaga jarak dengan orang lain (social distancing).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan segera mengambil langkah kebijakan awal untuk guru agar bekerja dari rumah (Work From Home). Sedangkan Siswa tetap belajar di rumah dengan bimbingan guru dan orang tuanya dengan fasilitas HP android dan program tayangan pendidikan yang bekerja sama dengan TVRI.

Kebijakan yang diterapkan sekarang adalah bahwa guru tetap masuk kantor dan menyampaikan pembelajaran jarak jauh (PJJ), siswa tetap di rumah dengan didampingi oleh orang tua atau saudaranya.

Perilaku hidup sehat dan bersih adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran anggota keluarga di rumah yang dapat menolong diri sendiri dan orang lain dalam hidup bermasyarakat.

Hidup sehat di sini juga harus selalu memperhatikan kebiasaan rutin yang dilakukan oleh anggota keluarga sendiri. Termasuk makanan yang dikonsumsi setiap harinya.

Mengapa harus rengginang? Secara filosofi bahwa rengginang itu merupakan simbol persatuan. Bisa dibuktikan, memang rengginang itu tersusun rapi dari butiran nasi atau bisa juga beras ketan yang saling berhimpitan sesuai dengan posisi masing-masing.

Tidak hanya berhimpitan tetapi juga bertumpukan, saling mengisi ruang yang membuat mereka saling berhubungan erat sekali. Satu dengan yang lainnya saling bersatu, tidak mudah dipecah belah.

Karena bagi rengginang, bersatu itulah yang sangat penting. Bisa dibuktikan bagi penyuka rengginang, yang diambil pertama kali pasti rengginang yang masih bersatu alias utuh.

Bahkan baru melihat rengginang yang utuh saja, mereka sudah sangat tertarik dan jatuh hati. Selain rengginang sebagai simbol persatuan, dia juga bisa menjadi simbol kemakmuran.

Terbukti bahwa rengginang terbuat dari beras atau beras ketan yang di Indonesia menjadi simbol kemakmuran. Gemah ripah loh jinawi sebagai wujud sedekah bumi kepada manusia.

Perlu diketahui bahwa Rengginang adalah sejenis kerupuk tebal yang terbuat dari beras ketan yang dibentuk bulat kemudian dikeringkan dengan cara dijemur di bawah terik matahari lalu digoreng dalam minyak yang panas dalam jumlah banyak.

Rasanya renyah dan nikmat sekali, serenyah hidup bangsa Indonesia. Terbukti di saat lebaran, biasanya makanan khas ini selalu ada di meja tamu. Karena banyak yang suka, sehingga makanan rengginang ini laris manis.

Saat ini makanan Rengginang bukan lagi makanan orang kampungan, banyak orang kota yang menyukainya, karena cara pembuatannyapun juga tidak mudah. Butuh proses yang lama. Harus dijemur lebih dulu, kemudian dikeringkan dan yang terakhir baru digoreng. Rengginang yang renyah dan enak harus melewati proses semua itu.

Di zaman now, banyak orang yang suka dengan Rengginang yang nikmat sekali. Apalagi makannya di saat hujan yang biasanya dengan minum kopi atau sedang baca buku. Sambil melihat pemandangan gunung atau laut, bahkan pemandangan di lingkungan rumah yang saat ini yang kebanyakan orang senang dengan bercocok tanam.

Dalam kondisi sedang pandemi, banyak berada di rumahnya kecuali ada kepentingan yang mendesak. Dari pada bosan dengan keadaan, maka banyak orang yang menggunakan waktu luangnya untuk sekedar menanam tanaman bunga atau sayur-sayuran dengan lahan yang sedikit.

Kalau sudah bisa dilihat hasilnya maka hati dan pikiran akan merasa senang. Kalau hati merasa senang maka rasa bangga akan muncul dengan sendirinya. Senang dan bangga merupakan idam-idaman manusia jaman sekarang.

Hanya dengan Rengginang bisa jadi sesuatu banget. Suara kunyahan Rengginang plus renyahnya menjadikan nada yang khas. Itulah kenikmatan yang membuat kita bisa bersatu dan merasa makmur, yang patut untuk disyukuri.

Agar supaya Rengginang biar tetap renyah, jangan lupa simpan di toples. Dan tentu saja toples juga harus tertutup rapat agar Rengginang tidak mlempem. Toplesnyapun juga sebaiknya transparan, biar kelihatan dari luar masih renyah atau sudah mlempem.

Jangan sampai tertipu, kadang isinya jelek toplesnya bagus. Atau sebaliknya toplesnya nampak jelek namun isinya keren.Seperti penampilan zaman sekarang, banyak orang yang tampilannya bagus tapi perilakunya jelek, begitu juga sebaliknya.

Kembali kepada sang Rengginang, walaupun terkenalnya makanan kampungan, namun memberi pelajaran yang penting untuk orang sekarang. Yaitu pentingnya menjaga persatuan dan ikhtiar untuk kemakmuran itulah filosofi Rengginang.

Manusia hidup harusnya seperti Rengginang di dalam toples. Kalau toplesnya bagus, rengginangnya juga bagus dan renyah. Itulah yang dinamakan konsisten, bukan sebaliknya.

Dengan mengikuti filosofi Rengginang yaitu menjaga persatuan dan kemakmuran. Padahal rengginang itu tidak memiliki apa-apa yang anda inginkan, tetapi rengginang memiliki apa yang kamu berikan yaitu persatuan dan kemakmuran.

Pada umumnya orang yang membuat rengginang itu pasti membuatnya dengan jumlah banyak dan seringkali kehabisan wadah untuk menyimpannya.

Merupakan simbol persatuan bisa dibuktikan bahwa makanan ini terbuat dari butiran beras ketan yang saling menempel, sehingga saling menyatu dan tidak mudah terpecah belah. Jadi ingat akan istilah “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” yang artinya segala sesuatu akan berhasil apabila dikerjakan secara bergotong royong (bersama-sama).

Seperti yang sedang dialami saat ini bangsa Indonesia bahkan seluruh dunia sedang mengalami pandemi dengan munculnya Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan.

Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian.

Hal tersebut membuat beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown dalam rangka mencegah penyebaran virus Corona. Di Indonesia sendiri, diberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus ini.

Untuk itulah kita harus mengikuti anjuran pemerintah, yaitu bergotong royong (bersama-sama) untuk menjaga agar virus itu tidak menyebar kemana-mana dan semoga virus ini segera hilang.

Jangan kalah dengan rengginang yang selalu saling menyatu. Bagaimana kita agar bisa saling bergotong royong dalam menghadapi masalah ini? Yang harus dilakukan antara lain: Menerapkan physical distancing yaitu menjaga jarak minimal 1 meter dari orang lain dan jangan keluar rumah kecuali ada keperluan mendadak; Gunakan masker saat beraktivitas di tempat umum atau keramaian termasuk sat pergi berbelanja bahan makanan; Rutin cuci tangan pakai sabun dengan air yang mengalir atau hand sanitizer yang mengandung alkohol terutama setelah beraktivitas di luar rumah atau di tempat umum; Jangan menyentuh mata, mulut, dan hidung sebelum mencuci tangan; Tingkatkan daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, berolah raga secara rutin, beristirahat yang cukup dan mencegah stress; Hindari kontak dengan penderita Covid-19, orang yang dicurigai positif terinfeksi virus Corona, atau orang yang sedang sakit demam, batuk, atau pilek; Tutup mulut dan hidung dengan tisu saat batuk atau bersin, kemudian buang tisu ke tempat sampah; Jaga kebersihan benda yang sering disentuh dan kebersihan lingkungan, termasuk kebersihan rumah.

Selain rengginang merupakan simbol persatuan, ternyata juga simbol kemakmuran. Terbukti bahwa rengginang terbuat dari bahan dasar beras / beras ketan yang menjadi bahan makanan pokok bangsa Indonesia. Dibalik keleztannya beras ketan menyimpan berbagai manfaat kesehatan yang mungkin selama ini masih terpendam.

Menurut Hidup Sehat (May 2020, Fadli Adzani, ditinjau oleh dr. Reni Utari manfaatnya anntara lain: bernutrisi tinggi; mencegah datangnya penyakit; mencegah diabetes; mencegah peradangan, meningkatkan kepadatan tulang; meningkatkan kesehatan jantung; meningkatkan metabolism tubuh. (Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas) Kemakmuran merupakan suatu keadaan yang berkembang, berkemajuan, memiliki keberuntungan baik dan/atau memiliki status sosial yang sukses.

Kemakmuran sering kali mencakup kekayaan, tetapi juga meliputi faktor-faktor lain yang mungkin saja terpisah dari kekayaan pada berbagai tingkat, misalnya kebahagiaan dan kesehatan.

Dengan pernyataan tersebut di atas penulis bisa menyimpulkan bahwa memang terbukti kalau Rengginang itu merupakan simbol persatuan dan kemakmuran.

Sebagai simbol persatuan bahwa manusia yang berakhlak mulia memang seharusnya selalu bersatu dalam melakukan sesuatu demi kebaikan. Dengan bersatu bersama-sama dalam melawan Covid -19, agar virus bisa segera menghilang, yang bisa membuat kita sebagai manusia bisa hidup dengan tenang dan nyaman.

Dan sebagai simbol kemakmuran, kalau kita hidup dengan menjaga kesehatan maka kita akan bahagia. Hidup untuk bahagia! (*)