JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Makam Ki Mandung dan Cermin Kehidupan Toleransi

Makam Ki Mandung / lupita - joglosemarnews

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Persebaran Islam di Indonesia memiliki ciri khas yang berbeda di setiap daerah. Salah satunya, hal itu bisa ditilik dari persebaran Islam di daerah Ungaran.

Ungaran memiliki ceritanya sendiri dalam persebaran Islam. Konon ceritanya, persebaran Islam di kawasan itu memiliki sangkut paut dengan makam Ki Mandung.

Makam Ki Mandung dan Nyi Mandung berada di komplek pemakaman Gunung Kalong. Saat pengunjung mulai menaiki beberapa tangga pemakaman, akan terlihat pendapa yang bertuliskan Makam Ki Mandung.

Manurut cerita yang tersebar di masyarakat maupun cerita dari juru kunci makam, Mbah Kusman, Ki Mandung adalah seorang senopati yang bertugas menjaga bangsal kemandungan di Kabupaten Semarang.

Ki mandung adalah pengikut setia dari Ki Padanaran yang merupakan Bupati pertama di Semarang.

“Menurut cerita yang sering saya dengar, Ki Mandung ini pada awalnya sedang dalam perjalanan menuju ke Klaten mengawal Ki Ageng Pandanaran. Lalu tiba-tiba ada perampok yang merampas bekal perjalanan rombongan. Dari situlah Ki Mandung merasa bahwa di tempat itu belum ada kepercayaan terhadap agama Islam,” ujar Kusman kepada Joglosemarnews.

Baca Juga :  Duh Gusti, Naiknya Honda Brio, HR Warga Perum Puri Anjasmoro Semarang Ternyata Hobi Maling Celana Dalam Boxer di Sejumlah Indomaret. Tertangkap Saat Dikejar dan Ban Mobilnya Meletus

Perjalanan yang dipandu oleh Ki Mandung mendapat hambatan, sehingga dia memutuskan untuk tinggal di bukit tersebut. Selama mereka tinggal di sana, Ki Mandung bersama isterinya sekaligus menyebarkan agama Islam.

Sementara Ki Ageng Padanaran dan rombongan meneruskan perjalanannya ke Klaten. Sebelum berangkat ke Klaten Ki Ageng Pandanaran sempat bertapa di tempat tersebut untuk beberapa hari.

“Itulah kisahnya mengapa bukit itu diberi nama bukit Kalong. Jadi bukan karena banyak kelelawar. Tetapi berawal dari kisah dicurinya perbekalan rombongan Ki Ageng Padanaran dan Ki Mandung. Perbekalan tersebut berkurang dan dalam istilah jawa adalah kelong sehingga Ki Mandung memberi nama Bukit yang ia singgahi tersebut dengan bukit Kalong,” ujarnya.

Adapun untuk menyebarkan agama Islam di Ungaran, Ki Mandung mendirikan Pesantren di Susukan. Sekarang pesantren itu menjadi Ponpes Miftahul Ulum yang sekarang dikelola oleh Muhroh Hadi.

Sampai akhir hayatnya ki Mandung dikebumikan di Bukit Kalong bersama tujuh prajurit kepercayannya yang jaraknya berdekatan.

Baca Juga :  Aksi Kamisan di Semarang Sempat Diwarnai Adu Mulut dan Nyaris Dibubarkan

Upacara yang biasanya diadakan di Bukit Kalong adalah Nyadran dan selamatan yang digelar sehari penuh di malam Jumat Kliwan dan tiap tanggal satu sura.

“Tujuan upacara tersebut untuk memberikan penghormatan dan pembersihan makam. Untuk itu digelar wayang dua tahun sekali,” kisahnya.
Ada juga cerita versi lain mengenai Bukit Kalong tersebut. Kisah itu berkaitan dengan adanya makam dari berbagai agama yang saling berdampingan dalam satu tempat, dan disana tidak ada pembatas antara makam-makam tersebut.

Makam tersebut mengambarkan hidup bertoleransi antara masyarakt sekitar.
Terdapat makam dari agama Khatolik, Protestan, dan Islam yang saling berdampingan. Serta msayarakat sekitar tidak ada yang mempermasalahkan hal tersebut.

“Dari tahun 2000 saya jaga disini, makam itu sudah ada. Jadi saya dan warga tidak ingin mengusiknya. Kita lebih baik bersatu saja” ujar Mbah Kusman kepada Joglosemar News

Dan makam Gunung Kalong berdampingan dengan Vihara Avalokitesvara Sri Kukus Redjo. Gunung kalong tidak memandang agama yang berbeda, disana dikemas oleh kerukunan antar umat beragama. lupita – wandani