JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Penelitian: Meski Kaya Protein, Sebagian Besar Kerang Hijau Pantai Utara Jawa Tak Layak Konsumsi

Kerang hijau. Teras.co

JOGLOSEMARNEWS.COM – Salah satu makanan laut yang telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan di beberapa negara adalah kerang hijau. Salah satu zat yang terkandung di dalamnya adalah protein.

Selain diperoleh langsung dari alam, kerang hijau telah dibudidayakan. Untuk membudidayakan kerang hijau biayanya tergolong murah dan dengan pertumbuhan yang cepat.

Pemijahan kerang hijau umumnya dipicu oleh peningkatan suhu air dan ketersediaan makanan. Proses memijah pada kerang hijau dapat terjadi sepanjang tahun di wilayah tropis, sedangkan di negara beriklim sedang bersifat musiman, bisanya terjadi pada musim panas.

Namun, hasil penelitian yang diterbitkan Agustus tahun ini, sebagian besar kerang hijau yang diproduksi dari pantai utara Jawa tidak layak konsumsi.

Penelitian ini dipublikasi di Jurnal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia 2020 5 (2) dengan judul “Akumulasi Logam Berat Pada Kerang Hijau di Perairan Pesisir Jawa.”

Para peneliti yang mempublikasikan hasil ini masing-masing Ariani Andayani, Isti Koesharyani, Ulfa Fayumi, Rasidi, dan Ketut Sugama dari Pusat Riset Perikanan, Jakarta.

Di Indonesia kerang hijau banyak dibudidayakan di perairan pantai utara Pulau Jawa. Pulau Jawa merupakan pusat ekonomi juga memiliki penduduk yang padat dan banyak kawasan industri.

Seluruh aktivitas penduduk dan industri kerap kali menghasilkan limbah yang terbuang ke sungai dan tanpa pengolahan yang efisien akan terbawa aliran sungai ke laut dan menyebabkan pencemaran.

Tujuan penelitian ini untuk mengukur akumulasi logam berat seperti raksa (Hg), timbal (Pb) dan kadmium (Cd) yang terdapat pada tubuh kerang hijau.

Baca Juga :  Pandemi Covid-19 Juga Bikin Anak-anak Stres, Ini Tips Menjelaskan tentang Virus Corona pada Anak agar Tidak Cemas

Sampel kerang hijau diambil pada 2017, dari satu stasiun (pengepul) di empat lokasi yang berdekatan dengan lokasi budidaya di pesisir Jawa yaitu dari perairan pantai Panimbang, Teluk Jakarta, Brebes, dan Cirebon.

Hasil analisa kandungan logam berat Hg, Pb, dan Cd di empat lokasi sebagai berikut: Panimbang berkisar dari tidak terdeteksi hingga <0,22 mg/kg, Teluk Jakarta berkisar dari 0,42 mg/kg hingga 29,4 mg/kg, Brebes 0,01 mg/kg hingga 3,52 mg/kg, dan Cirebon 0,01 mg/kg hingga 2,66 mg/kg.

Berdasarkan penelitian ini, diambil kesimpulan bahwa sebagian besar kerang hijau yang diproduksi dari pantai utara Jawa telah tercemar logam berat dan tidak layak konsumsi.

Cemaran logam berat Hg, Pb dan Cd pada kerang bila dikonsumsi akan menyebabkan keracunan. Keracunan Hg menyebabkan penyakit neurotoksik.

Keracunan Pb dapat berpengaruh pada hampir semua sistem organ manusia, anak dibawah usia enam tahun lebih rentan terhadap efek Pb, juga keracunan timbal pada wanita hamil dapat berakibat serius pada janin.

Organ paling terpengaruh terhadap keracunan Pb adalah sistem hematopoetik, sistem saraf pusat, sistem saraf tepi, dan ginjal.

Keracunan Pb dapat mempengaruhi sistem peredaran darah, sistem saraf, sistem urinaria, sistem reproduksi, sistem endokrin, dan jantung. Efek keracunan Pb menyebabkan penyakit paru-paru dan kerusakan saraf (neurotoksik).

Baca Juga :  Merasakan Efek Samping Setelah Minum Obat, Berhenti atau Lanjut?

Keracunan Pb memiliki efek buruk pada perilaku dan mental perkembangan anak-anak berusia 2-4 tahun. Paparan timbal pada masa kanak-kanak mempengaruhi perkembangan saraf dan temperamen anak usia dini.

Kadmium yang termakan akan menyebabkan mual, muntah, salivasi, diare dan kejang perut. Efek racun dari kadmium menyebabkan kerusakan pada paru, ginjal, hati dan tulang.
Sampel kerang hijau yang diperoleh para peneliti dari uranenggala, Kabupaten Cirebon dan Losari, Kabupaten Brebes tidak layak konsumsi karena Pb dan Cd melebihi ambang batas.

Kondisi paling buruk, menurut para peneliti, adalah kerang hijau dari Teluk Jakarta yang telah tercemar Hg, Pb, dan Cd dengan konsentrasi tinggi sehingga tidak layak dikonsumsi.

Mengonsumsi kerang hijau menjadi berbahaya jika dibudidayakan di perairan yang tercemar. Hasil ini menegaskan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang menyebutkan bahwa kerang hijau dari Teluk Jakarta tidak layak dikonsumsi akibat pencemaran logam berat (Hg, Pb, Cd).

Telah banyak penelitian di Teluk Jakarta yang menunjukan bahwa kerang hijau hasil budidaya tidak layak konsumsi.

Adapun kerang hijau dari Panimbang masih bisa dikonsumsi, namun perlu waspada karena kandungan Cd mendekati batas nilai ambang batas.

Sejauh ini, kerang hijau sering digunakan sebagai indikator pencemaran bahan organik yang bersifat toksik di suatu perairan. Hal ini karena kerang hijau hidup secara sesil, sehingga dapat mengakumulasi bahan toksik seperti logam berat.

www.teras.id