JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Prasasti Ngrawan, Bukti Kebudayaan Hindu-Budha Berkembang di Semarang

Prasasti Ngrawan / najmi yafi - joglosemarnews

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia telah lama mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Hal itu diindikasikan dengan adanya temuan beberapa peninggalan berupa prasasti, candi hingga arca. Peninggalan-peninggalan itu menandakan bahwa kebudayaan Hindu-Budha sempat berkembang baik di Indonesia.

Dengan kontur yang berbukit dan hawa yang dingin, Kabupaten Semarang sangat kaya akan kebudayaan, mulai dari tradisi hingga kesenian adat.

Salah satu peninggalan yang jarang dikenal masyarakat yakni Prasasti Ngrawan di Kabupaten Semarang. Prasasti itu diyakini merupakan peninggalan kebudayaan Hindu-Budha.

“Ini merupakan tempata petilasan resi atau brahmana zaman dulu,” kisah Yitno, penjaga situs purbakala prasasti Ngrawan kepada Joglosemarnews, Jumat (11/9/2020).

Baca Juga :  Menguak Cerita di Balik Sendang Keramat Kalimah Toyyibah

Yitno mengatakan, prasasti di tempat itu terbagi menjadi tiga. Yang pertama maesan atau tetenger dengan tulisan Jawa Kuno, dan dua lainnya berbentuk seperti gentong, yang salah satunya juga terdapat tulisan Jawa Kuno.

Sampai saat ini, menurut Yitno, tulisan tersebut masih belum diketahui artinya. Walaupun sudah cukup banyak peneliti yang mencoba mengartikan, namun mereka masih kesulitan untuk mengetahui makna tulisan tersebut.

“Konon kabarnya, prasasti yang berbentuk seperti gentong itu dulu digunakan untuk membuat obat-obatan,” ujarnya.

Berkembang pula kisah, bahwa salah satu prasasti berwujud gentong tersebut jika diisi dengan air, tidak akan habis menguap.

Sebagaimana tempat-tempat peninggalan masa lalu, di prasasti Ngrawan ini pun terdapat pantangan-pantangan yang harus ditaati oleh pengunjung sebelum memasuki area.

Baca Juga :  Ide Rahasia Program Kreatif Pengolahan Kulit Kerang di Demak

“Yang masuk ke sini harus dalam keadaan bersaih. Misalnya, tidak minum alkoho. Untuk wanita yang sedasng haid juga larangan masuk tempat ini,” ujar Yitno.

Masyarakat sekitar pun, ujar Yitno, masih menganggap tempat tersebut keramat dan memiliki daya. Pada waktu-waktu tertentu, seperti di bulan Rajab, warga sekitar mengadakan ritual tradisi menyembelih kambing di situs tersebut.

Masyarakat luar pun juga memandang situs tersebut sebagai punden yang dikeramatkan. Pada hari-hari tertentu, banyak orang luar datang ke tempat itu untuk sekadar berziarah atau bahkan melakukan samadi. najmi yafi – lukman