JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Terlantar, Situs Kalitaman Butuh Perhatian Pemerintah

lupita / joglosemarnews
madu borneo
madu borneo
madu borneo

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Diam-diam, Kabupaten Semarang menyimpan peninggalan Arkeologi yang hingga kini masih menjadi misteri, yakni situs Kalitaman.

Situs Kalitaman terletak di Desa Wujil, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Salah satu warga setempat menuturkan, situs Kalitaman yang terletak di bukit Grumbul itu merupakan peninggalan dari zaman Hindu.

Saat Joglosemarnews datang ke lokasi ini, batu-batu candi terlihat berserakan. Sebagian ada yang masih berwujud yoni dengan posisi tidak beraturan.

“Mungkin dulunya ini bangunan candi yang belum selesai, atau bagaimana kami tidak tahu,” ujar warga yang enggan disebut namanya itu.

Sepanjang Joglosemarnews menjelajah kawasan tersebut, tidak terdapat papan nama yang menunjukkan bahwa kawasan tersebut dilindungi. Begitu pula, tak ditemukan pagar yang menandakan batas situs, sebagaimana situs-situs Arkeologi pada umumnya.

Baca Juga :  Bea Cukai Kudus Ungkap 66 Pelanggaran Pita Cukai, 16,79 Juta Batang Rokok Ilegal Disita

Pandangan secara faktual menunjukkan bahwa situs tersebut seperti belum dilestarikan keberadaanya oleh pemerintah, sehingga terlihat tidak terawat.

“Dari saya kecil sampai sekarang ya tetap begitu saja. Tidak terawat, bahkan dulu ada patung juga di lereng-lereng bukit. Tapi sekarang patung-patung itu sudah tidak ada, mugkin diambil orang?” ujarnya kepada Joglosemarnews.

Menurut penjelasan warga, dulu pernah ada beberapa patung, tetapi sekarang sudah tidak diketahui lagi keberadaanya. Ada pla beberapa batu candi yang tertimbun tanah.

lupita / joglosemarnews

Saat tim Joglosemarnews menelusuri tempat tersebut, hanya ada jalan-jalan setapak yang sudah mulai hilang dipenuhi rumput-rumput liar serta perkebunan warga sekitar.

Baca Juga :  Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Terus Gelorakan Budaya Tertib Arsip

Di kawasan situs Kalitaman, pernah terdapat pula beberapa peninggalan yang wujudnya seperti batu ilir, batu kasur, dan beberapa yoni. Sebagian lagi, kemungkinan diperkirakan masih terkubur.

Warga berharap, pemerintah turun tangan untuk melestariakan peninggalan yang terbengkalai itu. Setidaknya, menurunkan Arkeolog dan ahli sejarah untuk menguak misteri historis peninggalan sejarah tersebut.

Dari jalan besar, paling tidak dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk bisa sampai ke situs bersejarah itu.

“Sekarang warga menggunakan tempat ini untuk berkebun singkong dan menanam pohon sengon,” ujarnya. lupita – wandani