JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

(Bag 2) Kisah Haru Perjuangan Ervan Wahyu, Bocah Asal Sragen Berhasil Bertemu Keluarganya Setelah 11 Tahun Hilang di Jakarta. Bapaknya 2 Bulan Nyari Keliling Ibukota, Kakeknya 2 Tahun Lemes, Neneknya 2 Bulan Tak Bisa Tidur

Ervan (tengah) saat diapit ayahnya, Suparno (kanan) dan kakek neneknya, Selasa (6/10/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM  – Kisah Ervan Wahyu Anjasworo (16), remaja asal Dukuh Panurejo, RT 15, Kedungupit, Sragen yang berhasil menemukan kembali keluarganya setelah hilang di Jakarta selama 11 tahun sejak masih usia 5 tahun, menyisakan cerita menarik.

Hampir tak ada yang menyangka, Ervan yang sudah 11 tahun berpisah dengan ayah ibunya, akhirnya bisa berkumpul kembali.

Dikisahkan sebelumnya, Ervan hilang pada umur 5 tahun di saat diajak liburan bapaknya, Suparno (37) ke Jakarta sekitar medio tahun 2009.

Suparno menceritakan begitu putra kecilnya itu tak pulang hingga petang, ia dan istrinya, Warsi (35) kemudian berusaha mencari ke sekitar kontrakan mereka di wilayah Kemayoran.

Keduanya mencari ke setiap sudut gang hingga larut malam. Namun sampai pukul 23.00 WIB, putra mereka tak kunjung diketahui keberadaannya.

“Kemudian kami pulang ke kontrakan dan besoknya sekitar pukul 09.00 WIB, kami lapor ke Polsek Kemayoran,” ujar Suparno ditemui di kediamannya di Dukuh Panurejo, RT 15, Kedungupit, Sragen.

Karena saat itu tengah ramai kabar penculikan anak, Suparno sempat cemas dan terlintas di benaknya putranya diculik. Ia juga mencoba meyakinkan bahwa putranya memang tak mungkin kabur karena masih terlalu kecil.

Baca Juga :  7 Jam Dihajar Kobaran Api, Pabrik Sepatu di Kalijambe Sragen Luluh Lantak. Total 10 Mobil Pemadam dan 30 Tangki Air Ludes Dikerahkan

“Sebenarnya waktu itu dia sudah ngajak pulang ke Sragen. Hari itu Jumat, saya bilang iya nanti pulang hari Minggu. Pikir saya karena Sabtu biasanya ramai kerjaan jadi itung-itung sambil nyari sangu buat pulang. Belum sampai Minggu, terus kejadian itu (hilang),” tutur pria yang merantau di Jakarta sejak 2003 sebagai sopir metromini dan fotografer pocokan di Ancol itu.

Kehilangan Ervan menjadi pukulan berat bagi Suparno dan Warsi. Hampir dua bulan lamanya sejak kejadian, mereka tanpa lelah berjuang mencari keberadaan Ervan dengan menyusuri gang demi gang hampir di seantero ibukota.

Namun, upaya mereka tak kunjung menuai hasil. Laporan polisi juga tak kunjung ada kabar di mana bocah kecil itu berada.

“Selama 2 bulan itu nyaris terus sampai nggak kerja. Pokoknya jalan terus, tiap hari dapat berapa kilometer, besok sambung lagi,” terang Suparno.

Suparno menuturkan dalam kelananya, di setiap masjid ia juga tak lupa singgah sembari menitip pesan apabila melihat anak kecil dengan ciri-ciri Ervan.

Sampai kemudian, asa untuk mencari itu mulai mengerut. Setelah dua bulan nihil, ia kemudian mencoba mencari informasi ke beberapa stasiun televisi swasta mulai dari Indosiar, SCTV hingga MNC TV.

Baca Juga :  Terungkap, Pabrik Sepatu PT Eiro Kalijambe Sragen Yang Terbakar Hebat, Ternyata Belum Ada Setahun Beroperasi. Operasional Disebut Masih Dalam Proses Training

Namun dua pekan pencarian informasi via televisi pun tak juga mendapatkan hasil.

“Akhirnya kami pupuskan pasrah pada yang di Atas. Kami tetap mencari tapi sambil kerja. Sambil nyopir metromini, sambil lihat-lihat setiap perempatan, kalau-kalau ada terlihat. Ternyata juga nggak ada,” tuturnya.

Tak hanya memukul orangtua, hilangnya Ervan secara misterius kala itu juga memberi pukulan berat bagi kakek dan neneknya, Parmin (70)- Giyem (65).

Keduanya yang sejak kecil lebih banyak mengasuh Ervan ketika ditinggal merantau orangtua, mengaku sempat mengalami masa berat ketika menerima kabar Ervan hilang di Jakarta.

“Saya dua tahun kalau kelingan thole (Ervan) langsung ndredeg (lemas). Nak kerja pun tiba-tiba teringat itu, langsung mbengong. Namanya cucu masih kecil dan biasanya sama mbahe, tiba-tiba hilang,” ujar Parmin.

Sementara, Giyem mengaku sejak menerima kabar hilangnya cucu kecilnya itu, ia sempat syok berat. Hampir dua bulan pertama, ia mengaku tak pernah bisa tidur.

“Dua bulan nggak bisa tidur. Anane kelingan terus. Mbayangkan bocah masih 5 tahun hilang, kan pikirannya jadi kemana-mana. Tiap habis salat tahajud, saya hanya doa muga-muga ditulungi orang yang bejo,” ujar Giyem. (Bersambung/Wardoyo)