JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Kampanye Pilkada di Gunungkidul, Model Tatap Muka Masih Pilihan Utama

Ilustrasi Pilkada serentak 2020
madu borneo
madu borneo
madu borneo

GUNUNGKIDUL, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kampanye model tatap muka, sejauh ini masih menjadi primadona bagi para pasangan calon (Paslon) dalam Pilkada 2020 di Kabupaten Gunungkidul.

Sebagian besar Paslon memilih cara ini demi efektivias. Namun, model tatap muka ini tetap diperbolehkan dengan berbagai pembatasan sesuai protokol kesehatan.

Alasan memilih metode tatap muka itu pun beragam. Mulai dari tingkat efektivitas kampanye hingga akses telekomunikasi yang masih sulit di berbagai lokasi kampanye.

Immawan Wahyudi, satu dari beberapa calon Bupati Gunungkidul memaparkan ada 3 model kampanye yang digunakan. Namun metode tatap muka masih yang utama.

“Ini (model tatap muka) yang paling saya sukai. Sebab saat Pilkada sebelumnya tatap muka ini juga kami lakukan selama kurang lebih 5 bulan,” kata Immawan lewat pesan singkat, Rabu (07/10/2020).

Namun metode kampanye daring tetap menjadi opsi kedua bagi tim sukses Immawan, sebab model ini berkaitan dengan efisiensi waktu dan tenaga.

Baca Juga :  1.300-an Karyawan Perusahaan Telekomunikasi di Sleman Jalani Rapid Test

Ia mengakui ada kendala pada model ini namun sifatnya teknis dan masih bisa diatasi.

Model kampanye lain yang dipilih Immawan adalah melalui siaran radio,
televisi, atau pun alat peraga kampanye (APK) yang terpasang di lokasi-lokasi sesuai ketentuan.

Ia menyebutnya sebagai “serangan udara”.

“Sebenarnya masih banyak lagi model kampanye yang kami laksanakan, tapi tak bisa saya paparkan satu per satu,” ujarnya.

Sismono La Ode selaku bagian dari tim pemenangan Sutrisna Wibawa dan Mahmud Ardi Widanto pun juga setali tiga uang.

Timnya masih memilih kampanye konvensional dengan model tatap muka. Menurutnya, model ini lebih efektif untuk kampanye.

Selain itu, faktor sulit sinyal hingga sasaran pemilih dengan kampanye daring juga tergolong rendah. Sebab tidak semua warga memahami cara mengaksesnya.

“Dari sisi kuota kan juga lebih boros, jadi lebih efektif dengan tatap muka,” kata Sismono.

Baca Juga :  Puluhan Guru dan Tenaga Kependidikan SMKN 1 Girisubo Gunungkidul DIY Ikuti Pelatihan Penguatan Budaya Kerja Industri Bagi Guru dan Tenaga Kependidikan

Namun ia menegaskan pertemuan tatap muka tetap berdasarkan protokol kesehatan dan aturan PKPU 13/2020. Antara lain pembatasan peserta maksimal 50 orang hingga penggunaan masker dan jaga jarak.

Sejauh ini, kampanye daring memang dimanfaatkan oleh tim sukses Sutrisna. Namun Sismono mengatakan kampanye daring lebih dimanfaatkan untuk konten kreatif.

“Ya konten kreatif ini dimanfaatkan untuk perkenalan pada masyarakat,” katanya.

Stefanus Sujoko yang juga tim pemenangan dari paslon Bambang Wisnu Handoyo dan Benyamin Sudarmadi menyebut kendala sinyal jadi alasan tatap muka lebih dipilih.

Menurutnya, ada beberapa wilayah yang jaringan telekomunikasinya tidak stabil. Namun begitu, timnya tidak menutup peluang untuk mencoba model kampanye lainnya.

“Ada beberapa model yang sudah kami siapkan, sejauh ini masih mencari format yang tepat,” kata Joko.

www.tribunnews.com