JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Luhut: Setelah Pandemi, Beberapa Investor Mulai Alihkan Perhatian dari Cina ke Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan. Foto: Tempo.co
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM  – Pandemi Covid-19, ditengarai telah mengalihkan perhatian beberapa investor dari semula di negara Cina, ke Indonesia.

Hal itu dikatakan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan. Dia mengatakan, sebelum pandemi banyak negara berinvestasi ke Cina.

Namun kini, beberapa diantaranya mulai mencari negara lain untuk mengalihkan investasi mereka.

“Indonesia adalah salah satu negara yang mulai dilirik para investor untuk memindahkan industri mereka,” kata Luhut dalam keterangan tertulis, Senin (19/10/2020).

Di sinilah, kata dia, Indonesia harus mampu memanfaatkan situasi ini untuk membangun ekonominya dalam konteks Making Indonesia 4.0.

“Kita perlu mentransformasi kegiatan ekonomi kita dalam usaha membuat Making Indonesia 4.0, supaya kita mampu memanfaatkan situasi ini dengan menunjukkan bahwa kita kompetitif dan mampu bersaing secara global,” ujarnya.

Baca Juga :  Regulasi Tak Mampu Tanggulangi Risiko Kampanye di Medsos, Koalisi Luncurkan Pedoman Etik

Luhut berujar penting melakukan transformasi ekonomi dalam era Making Indonesia 4.0 di Indonesia, khususnya dalam masa pandemi Covid-19.

“Kita sedang mengalami perubahan lanskap geopolitik yang sangat cepat,” kata Luhut.

Perubahan itu, kata dia, ditandai dengan adanya perubahan dunia akibat teknologi dan globalisasi yang sangat cepat, kemudian adanya ketegangan geopolitik yang semakin meningkat di berbagai negara, terutama antara Amerika Serikat (AS) dan Cina dalam konteks perang dagang.

“Belum lagi kita juga menghadapi Covid-19 yang semakin mempercepat perubahan lanskap geopolitik dunia,” kata dia.

Dia menuturkan salah satu sektor yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan adalah sektor otomotif, terutama electric vehicle (EV). Menuturnya, Indonesia memiliki sumber daya melimpah dalam pembuatan EV, yakni nikel, aluminium, dan tembaga. Ketiga jenis sumber daya ini dapat diintegrasikan agar membuat industri hilirasi yang kompetitif di ranah persaingan global.

Baca Juga :  Kumpulkan Alat Bukti Pelanggaran Protokol Kesehatan, Polri Periksa Rekaman CCTV di Sekitar Kediaman Rizieq Shihab di Petamburan

Menurut Luhut produsen mobil dan baterai dunia sedang berlomba mencari destinasi investasi untuk fasilitas produksi mereka.

Peningkatan produksi kendaraan listrik dapat menghasilkan penciptaan 10 juta pekerjaan, dan nilai ekonomi sekitar $ 150 miliar karena berkontribusi pada kemajuan terkait dengan Perjanjian Paris tentang perubahan iklim, menurut Global Battery Alliance.

“Apabila semua atau sebagian besar supply chain yang terkait bisa diproduksi di Indonesia, maka Indonesia bisa menjadi pemain kunci secara global di  industri masa depan ini,” kata dia.

Luhut juga mengingatkan, bahwa Making Indonesia 4.0 ini mampu berjalan jika pihak industri mampu berkolaborasi dengan perguruan tinggi dalam mengembangkan SDM yang handal.

www.tempo.co