JOGLOSEMARNEWS.COM KOLOM

UMKM DAN PEMULIHAN EKONOMI

Ilustrasi resesi ekonomi. Foto: pixabay.com
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

analysis 4937349 1280
Ilustrasi resesi ekonomi. Foto: pixabay.com

Anton UMS

 Oleh : Anton A Setyawan*

 Sinyal resesi ekonomi di Indonesia semakin kuat karena pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II tahun 2020 hanya mencapai minus 5,2 persen. Triwulan III tahun 2020 diperkirakan masih terjadi kontraksi pertumbuhan ekonomi antara minus 1 sampai dengan minus 2 persen. Pemerintah Indonesia sudah mengantisipasi hal ini dengan menyusun program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional).

Program PEN ini berdasarkan PP 23 Tahun 2020 dengan tujuan melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan kemampuan ekonomi para pelaku usaha dalam menjalankan usahanya selama pandemi Covid-19. Untuk UMKM, program PEN diharapkan dapat ‘memperpanjang nafas’ UMKM dan meningkatkan kinerja UMKM yang berkontribusi pada perekonomian Indonesia. Secara khusus, bentuk dukungan usaha untuk UMKM adalah subsidi bunga sebesar Rp 34,15 triliun, insentif pajak Rp 28,06 triliun dan penjaminan untuk kredit modal kerja baru Rp 6 triliun.

Di masa pandemi ini UMKM memang terdampak karena mereka mengalami penurunan penjualan rata-rata sampai dengan 50 persen. Memulai pemulihan ekonomi dengan pemulihan kinerja bisnis UMKM adalah keputusan yang tepat. Sekitar 80 persen jenis usaha di negara ini adalah UMKM. Jenis usaha ini juga menyerap sekitar 75 persen dari tenaga kerja di Indonesia.

Pada masa pandemi Covid 19, UMKM adalah jenis usaha yang paling terdampak dari perlambatan ekonomi nasional, namun demikian UMKM juga menjadi pondasi bagi pemulihan ekonomi di era new normal. Pemerintah Indonesia mulai melaksanakan kebijakan new normal sebagai rangkaian kebijakan meminimalisir dampak pandemic Covid 19. Kebijakan new normal ini terutama untuk mengantisipasi  pelambatan ekonomi yang berdampak pada meningkatnya angka pengangguran terbuka dan penurunan daya beli masyarakat.

Beberapa survey yang dilakukan pemerintah daerah di Indonesia maupun lembaga penelitian menunjukkan banyak UMKM terdampak pandemi  Covid 19. UMKM di bidang industri pengolahan atau disebut juga IKM (Industri Kecil Menengah) misalnya mebel, furniture dan berbagai kerajinan mengalami dampak karena masalah distribusi (beberapa daerah melakukan PSBB) sehingga mereka sulit memperoleh bahan baku maupun mengirimkan barang jadi ke pembeli. IKM di bidang konveksi dan fesyen, misalnya batik mengalami dampak karena bahan baku dan penurunan penjualan. Namun demikian ada juga IKM yang justru mengalami peningkatan penjualan karena pandemi  Covid 19, misalnya IKM di bidang herbal yang mengalami peningkatan penjualan antara 20 sampai 30 persen karena peningkatan minat masyarakat terhadap produk mereka.  Mengapa UMKM menjadi jenis usaha yang diharapkan berperan penting dalam pemulihan ekonomi?

New Normal dan Bisnis UMKM

 Pandemi Covid 19 ini dari aspek ekonomi juga mempunyai dampak positif bagi pelaku bisnis. Covid 19 memberikan kesadaran bagi pelaku bisnis bahwa ketergantungan perekonomian nasional terhadap produk impor ternyata berdampak negatif.  Pada saat awal terjadi kasus Covid 19 di China, maka impor bahan baku dari negara tersebut terhenti, sehingga banyak industri pengolahan di Indonesia yang berhenti berproduksi. Masalah utama dalam industri nasional sejak lama adalah ketidaksinkronan rantai pasok.

Dalam kondisi ideal seharusnya sebuah industri yang dikembangkan di sebuah negara mempunyai landasan sektor primer yang kuat. Artinya sebelum sebuah negara membangun industri modern, maka sektor pertanian, perikanan dan perkebunan sudah mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri. Permintaan dalam negeri terhadap komoditas dari sektor primer bisa dicukupi dari kebutuhan dalam negeri. Kondisi ideal ini pernah tercapai di era Orde Baru tahun 1984 dengan tercapainya swasembada pangan waktu ini. Namun demikian, kondisi itu tidak pernah lagi tercapai sekarang. Sektor pertanian  Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Sektor pertambangan sejak dulu juga tidak mampu menghasilkan produk jadi hanya komoditas mentah yang sampai saat ini jadi andalan ekspor.

Saat ini pemerintah sudah memutuskan untuk membuka kembali 9 sektor ekonomi dengan persyaratan kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Adapun 9 sektor tersebut adalah; pertanian dan peternakan, perkebunan, perikanan, industri, konstruksi, logistic, transportasi barang, pertambangan dan perminyakan. New Normal  dalam pengertian sekarang adalah operasionalisasi bisnis dengan melaksanakan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid 19. Dalam konteks  pemulihan ekonomi, new normal juga termasuk memperbaiki struktur perekonomian dalam negeri  dengan memperkuat sektor primer yaitu pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, kehutanan dan pertambangan.

UMKM mempunyai peran penting terkait dengan penguatan sektor primer di Indonesia. Hal ini dikarenakan pengembangan sektor primer tidak memerlukan teknologi tinggi, tetapi teknologi tepat guna dan tidak memerlukan banyak permodalan operasional, serta industri yang menghasilkan produk olahan dari sektor ini adalah industri padat karya. Karakteristik ini sesuai dengan karakteristik UMKM. UMKM dalam bentuk industri pengolahan (Industri Kecil Menengah/IKM) yang menghasilkan produk jadi dari sektor pertanian, peternakan dan perikanan yaitu IKM makanan jumlahnya sangat banyak di Indonesia dan jenis usaha ini di beberapa tempat di Indonesia sudah mampu berkembang secara mandiri.  Sektor perkebunan dan kehutanan juga melahirkan IKM mebel, furniture, kerajinan, makanan dan fesyen serta tekstil yang mampu menyerap jutaan tenaga kerja.

Klaster UMKM

Salah satu peninggalan dari peran UMKM dalam perekonomian Indonesia adalah munculnya klaster UMKM. Klaster UMKM adalah sekumpulan UMKM dengan usaha sejenis di lokasi yang sama. Klaster atau sering juga disebut sentra UMKM ini sebenarnya sudah ada sejak lama, namun pasca krisis tahun 1998 perkembangan klaster atau sentra UMKM ini memperkuat jenis usaha ini. Program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) untuk UMKM bisa lebih efektif jika stimulus ekonomi dilakukan dengan focus pada klaster UMKM.

Beberapa klaster UMKM di Indonesia merupakan klaster UMKM produk jadi dari sektor primer, misalnya Klaster Opak Ubi Kayu di Kabupaten Serdang Bedagai – Provinsi Sumatera Utara, Klaster Emping Melinjo di Kabupaten Pandeglang – Provinsi Banten, Klaster Paprika di Kabupaten Bandung – Provinsi Jawa Barat, Klaster Sapi Potong di Kabupaten Langkat – Provinsi Sumatera Utara dan Klaster Tanaman Obat – Provinsi Jawa Tengah. Klaster –klaster UMKM ini merupakan klaster yang mapan dan bisa menjadi tulang punggung pemulihan ekonomi. Pemulihan ekonomi di masa pandemic Covid 19 bisa dilakukan dengan memberikan stimulus yang tepat pada UMKM Indonesia, sehingga pondasi ekonomi nasional bisa diperkuat dari sektor primer. (*)

*Penulis adalah Guru Besar Manajemen FEB

Universitas Muhammadiyah Surakarta