JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

20 Persen Relawan Yang Diujicoba Vaksin Covid-19 Ternyata Alami Demam. Begini Kata Menristek!

Ilustrasi anak sakit demam. Foto: pexels.com

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Kepala Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro, mengatakan  bahwa apapun jenis vaksin Covid-19 yang dikembangkan dan akan dipakai nanti, harus dipastikan pertama-tama bahwa vaksin itu aman kemudian bisa bekerja efektif.

Adapun efek samping berupa demam satu-dua hari dinilainya hal biasa, seperti saat vaksinasi penyakit lainnya.

“Efek samping (demam) itu sepertinya hal yang biasa. Toh kita waktu masih kecil barangkali setelah divaksin satu-dua hari demam tapi setelah itu sembuh,” ujar menristek, Jumat 27 November 2020.

Menristek menyatakan itu saat menanggapi perkembangan terkini dari uji klinis vaksin Sinovac di Bandung, Jawa Barat.

Ketua tim riset uji klinis vaksin itu mengungkapkan kalau seluruhnya ada sekitar 20 persen relawan yang mengalami demam pasca menerima suntikan.

Baca Juga :  Usai Viral di Twitter soal Tinggal Setahun di Bali dan Ajak WNA Lain, Turis Asing Kristen Gray Akhirnya akan Dideportasi

Uji klinis vaksin itu kini sudah memasuki tahap pemantauan setelah seluruh relawan mendapatkan dua kali dosis penyuntikan–kecuali sebagian kecil yang menyatakan mundur karena beberapa alasan.

Menristek mengatakan bahwa pemerintah, dalam hal ini kementerian yang dipimpinnya, tak terlibat langsung dalam uji klinis vaksin Covid-19 asal Sinovac Biotech, Cina, itu.

Namun dia berpesan, jangan sampai suatu vaksin saat diberikan justru menimbulkan efek samping yang terlalu berat bagi penerimanya. Apalagi sampai membahayakan nyawa.

Tak terkecuali pesan yang sama ditujukan kepada pengembangan vaksin Merah Putih yang kini menjadi proyek nasional dan dikembangkan melalui enam lembaga dan universitas di bawah koordinasinya.

Baca Juga :  Mobil Goyang Sendiri di Pasar Kamisan Sampang Hebohkan Warga, Eh di Dalamnya ada PNS Wanita & Selingkuhan Diduga Lagi Beginian

“Sekarang yang juga menjadi tantangan bersama adalah berapa lama efektivitas vaksin yang kita pakai nanti akan melindungi tubuh,” ujar Bambang.

Bambang menuturkan, sejauh ini pihaknya melihat dari sejumlah vaksin yang sedang dikembangkan belum ada satupun yang bisa dipastikan akan memberi perlindungan seumur hidup.

Sehingga, Bambang menilai, upaya pengembangan vaksin Covid-19 memang tidak bisa hanya dipatok dalam jangka waktu tertentu seperti hanya satu tahun saja.

“Pengembangan vaksin ini program multiyears, untuk memastikan Indonesia mandiri untuk penanganan Covid-19,” katanya.

Menurutnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowii pun sudah menginstruksikan, jika vaksin Merah Putih sudah siap, maka Indonesia harus stop impor vaksin dari negara lain.

www.tempo.co