JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Jejak Hewan Liar Ditemukan di Jalur Evakuasi Gunung Merapi, Warga Sempat Mengira Macan Tutul. Ini Penjelasan TNGM

Ilustrasi jejak hewan liar. Foto: pixabay.com

SLEMAN, JOGLOSEMARNEWS.COM Jejak hewan liar ditemukan di jalur evakuasi Gunung Merapi di dusun Ngancar, tepatnya di ruas Suruh-Singlar, Cangkringan, Sleman. Temuan jejak tersebut sempat membuat geger warga sekitar yang mengiranya sebagai jejak macan tutul.

Setelah mendapat laporan dari warga, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) melakukan pengecekan. Menurut Kepala Balai TNGM, Pujiati, jejak tersebut bukan dari macan tutul melainkan jejak anjing.

Pihaknya telah melakukan pengecekan langsung bersama dengan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) dan melakukan analisa jejak tersebut.

“Tadi kami ke sana (jalur evakuasi) bersama PEH yang memang biasa berurusan dengan macan tutul. Jadi dia (PEH) juga sering ikut kegiatan monitoring macan tutul dan lain-lain. Bahwa itu jelas jejak anjing,” tegasnya, Selasa (24/11/2020).

Baca Juga :  Gunung Merapi Siaga Erupsi, Ini Kondisinya

Alasan lain yang membuat yakin jejak tersebut bukan jejak macan tutul adalah dari bentuknya yang tampak terdapat kuku.

“Karena kalau jenis-jenis kucing macam kucing hutan, kucing rumah, atau macan itu kalau berjalan kukunya selalu diumpetin tidak mungkin keluar,” sambungnya.

Selain kuku, bekas bantalan kaki pada jejak hewan itu juga menunjukkan bahwa jejak yang menempel di jalur evakuasi adalah jejak anjing.

“Kalau (jejak kaki) macan itu cenderung agak membulat atau lonjong sedikit. Itu penjelasan dari PEH. Jelas itu jejak anjing,” terangnya.

Terakhir Terlihat 2012

Lebih lanjut Pujiati menerangkan, jejak macan tutul terakhir kali terlihat pada tahun 2012. Saat itu, pihaknya masih menemukan jejak kaki atau bekas cakar macan tutul di Gunung Bibi, di daerah Boyolali, atau di Plawangan, Sleman.

Baca Juga :  BPPTKG Catat, Gunung Merapi Miliki 2 Kubah Lava, di Tengah dan Sisi Barat

Namun setelah 2012, sudah tidak pernah terlihat lagi adanya bekas cakaran macan tutul, apalagi wujud secara fisik. Untuk lebih memastikan, Pujiati mengatakan pihaknya pernah meminta pemasangan jebakan kamera di sejumlah titik di gunung. Tapi hasilnya tetap nihil.

“Makanya kami minta agar dipasang kamera trap di beberapa tempat. Ada 40 kamera trap yang kami pasang selama tiga bulan, itupun kami tidak mendapat macan tutul. Tapi kami mendapatkan kijang lumayan banyak,” ujarnya.

www.tribunnews.com