JOGLOSEMARNEWS.COM Market Ekbis

Tutik Solo Rajut, Bermula dari Iseng Berbuah Jadi Berkah

Para perajin di Tutik Solo Rajut tengah mengerjakan produk-produk kerajinan / dok pribadi
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sekitar tiga tahun lalu, tepatnya tahun 2017, Tutik (34) hanya bermaksud iseng-iseng membuat hiasan untuk mempercantik studio foto miliknya.

Seiring berjalannya waktu, tanpa disangka-sangka, banyak dari para pengunjung studio fotonya itu yang berniat membeli hiasan yang terpajang di dinding maupun ruang studionya.

Sekali, dua kali permintaan itu datang. Lama-lama, permintaan itu semakin banyak. Ada yang datang secara langsung, ada pula yang mennyampaikan permintaannya secara online. Hal itulah yang akhirnya mendorong naluri bisnis Tutik muncul ke permukaan.

2111 UMKM4 a
Dok Pribadi
“Saat itulah terpikir di benak saya untuk mengembangkan usaha di bidang kerajinan,” ujar Tutik kepada Joglosemarnews.

Untuk usahanya yang baru tersebut, Tutik memberinya label yang menyangkut tiga kata kunci. Yakni nama dirinya, nama kota di mana dia tinggal dan beraktivitas dan nama jenis usahanya. Dari pertimbangan itulah ia kemudian menamai usahanya dengan “Tutik Solo Rajut”.

Ada beberapa jenis kerajinan yang diproduksi Tutik Solo Rajut. Produk-produknya meliputi berbagai jenis homedecor, stool, jenis anyaman dan rajutan. Harga dari berbagai jenis kerajinan tersebut bervariasi, berkisar antara Rp 50.000 sampai Rp 300.000.

Tutik Solo Rajut beralamat di Karangasem RT 02/RW 08, Laweyan, Solo. Meski sentra aktivitasnya berada di Kota Solo, namun usaha tersebut mampu menyerap tenaga kerja dari seputaran Solo. Seperti dari Kabupaten Sukoharjo, Boyolali maupun Kabupaten Klaten.

Di awal perjalanan usahanya, promosi Tutik Solo Rajut hanya dilakukan dari mulut ke mulut antar teman atau lewat pengunjung studio foto miliknya. Selain juga melalui media sosial.

Ternyata lama-lama promosi tersebut berefek juga, karena sejak itu mulai ada perusahaan yang meliriknya dan memberikan order.

2111 UMKM3 a
Dok Pribadi
Bahkan, kini Tutik Solo Rajut selain memenuhi permintaan lokal, juga mulai melakukan ekspor produknya ke luar negeri.

Kian meningkatnya permintaan, berimbas pada meningkatnya jumlah tenaga kerja.

“Dari yang semula hanya lima orang, sekarang sudah menjadi 60-an orang. Sistemnya borongan. Mereka mengerjakan orderan di rumah masing-masing,” ujar Tutik.

Untuk menjaga kualitas produk, setiap perajin yang akan masuk dalam lingkaran Tutik Solo Rajut, melalui seleksi. Setelah lolos, mereka akan mendapatkan pelatihan khusus selama satu minggu.

2111 UMKM2 a
Dok Pribadi
Sebagaimana jenis usaha yang lain, Tutik Solo Rajut juga merasakan dampak pandemi Covid-19. Tutik mengatakan, usahanya sempat off, alias tidak ada orderan selama empat bulan. Dampaknya, barang produksi menumpuk, sehingga banyak tenaga kerja menganggur.

Namun demikian, mental berusaha tak pernah surut pada diri Tutik. Masa pandemi justru digunakan untuk membuat inovasi dan membikin produk produk yang sedikit berbeda, lalu ditawarkan ke berbagai tempat. suhamdani