JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Buku “Satu Kampung, Tiga Maestro: Sardono W Kusuma, Mlayawidada, dan S Ngaliman” Dibedah

Dok Pribadi

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sedari lama Kota Solo kondang sebagai gudangnya maestro seni. Banyak seniman moncer dengan karya kreatif yang menggetarkan jagad nasional, bahkan internasional.

Hampir di semua bidang ada, mulai dari karawitan, tari, wayang wong, wayang kulit, keris, campursari, keroncong, hingga musik kontemporer.

Ternyata, terdapat keunikan sejarah yang selama ini belum diketahui publik. Dalam cakupan lebih kecil, skala kampung, terlahir beberapa empu ternama. Kampung itu bernama Kemlayan, daerah dipenuhi gang sempit dan berada di tengah Kota Bengawan.

Para seniman tersebut, yakni maestro tari Sardono W Kusuma, empu karawitan Mlayawidada, dan empu tari tradisional S Ngaliman.

Proses kreatif sekaligus aneka karya ketiga tokoh seni itu ditulis oleh sejarawan muda Solo cum dosen sejarah Sanata Dharma, Heri Priyatmoko.

Baca Juga :  Lokasi untuk Rumah Sakit Darurat Covid-19 di Benteng Vasternberg Solo Jadi Sarang Ular. Saat Bersih-bersih Ditemukan Belasan Ekor

Buku berjudul “Satu Kampung, Tiga Maestro” itu dibedah di Warung Padmasusastra pada Kamis (3/12/2020).

Hadir beberapa pembicara pakar, antara lain doktor seni keroncong Daniel Tito, dosen ISI Surakarta Fafa Utami dan ibu Takari yang mewakili keluarga S. Ngaliman.

“Banyak kisah lelaku dan lelakon tiga seniman itu yang tidak diketahui publik. Misalnya, Sardono tahun 1971 menarikan Samgita di Solo mau dibunuh. Ia bukan hanya dilempari telur dan dihujat, tapi hampir ditabrak mobil saat latihan gara-gara dinilai merusak pakem,” ujar Heri yang belakangan intens mengikuti Sardono selama pulang kandang.

Baca Juga :  Senin Malam Jalanan Solo Lengang,  SE Walikota Ditanggapi Beragam

Contoh lainnya, Mlayawidada (1911-1997) memiliki cara unik menghapal gending. Berkeliling Solo bagian selatan kala pagi sembari mulutnya komat-kamit menghapal gending. Dia dijuluki ensiklopedi karawitan gaya Surakarta, karena hapal ratusan gending.

Acara bedah buku tersebut didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tujuannya adalah mengajak generasi muda mengenali kiprah para maestro dari Surakarta.

Juga mengajak menyelamatkan buah karyanya agar tidak lenyap gara-gara diabaikan. Tak lupa, menyadarkan generasi kontemporer bahwa para empu ini berproses tidaklah instan.

Itulah sebuah keteladanan bagus dari ketiga sosok maestro yang perlu dikabarkan ke khalayak ramai. Dari kampung kecil, mereka berkarya untuk negeri. suhamdani