JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Apes! Pedagang di Semarang Sampai 3 Kali Dapat Uang Palsu Pecahan Rp 100.000 Selama Puasa Ini. Kapolsek Pun Sampai Turun Tangan Beri Papan Imbauan

Ilustrasi/Foto: Beni Indra

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Bahaya peredaran uang palsu menjelang lebaran disuarakan oleh Kapolsek Semarang Tengah, Kompol Gali Atmajaya. Ia pun memimpin patroli wilayah ke pasar-pasar untuk mencegah peredaran uang palsu.

Pihaknya tak hanya memberikan imbuan secara lisan, namun papan imbauan.

Setiba di pasar, Kapolsek menerima keluh kesah pedagang kecil terhadap peredaran uang palsu.

Di antarnya pedagang daging ayam, Rusmini, yang mengaku sudah tiga kali mendapat uang palsu menjelang lebaran.

“Selama puasa tiga kali saya sudah dapat uang palsu. Semua 100 ribuan. Kondisi pembeli waktu itu ramai jadi saya nggak teliti,” keluh Rusmini.

Baca Juga :  Sudah 5.928 Kendaraan Diputar Balik dari Semarang. Ada 1.283 Pengendara Dites, Satu Orang Positif

Sementara pedagang lain, Wati mengatakan, sudah lima kali mendapat uang palsu pecahan Rp 50.000. “Dapatnya pagi-pagi baru buka lapak. Saya baru tahu waktu uang itu saya gunakan untuk membayar barang.  Pemilik barang nggak mau nerima karena palsu,” imbuhnya.

Maraknya peredaran uang palsu yang menyasar ke pedagang kecil, membuat Kapolsek Kompol Gali Atmajaya memerintahkan anggotanya untuk secara rutin melakukan imbauan.

Seperti kegiatan Jumat (23/4/2021) pagi ini, Kapolsek bersama Forkompimcam Semarang Tengah, blusukan ke Pasar Beteng untuk melakukan imbauan dan sosialisasi uang palsu.

Baca Juga :  Indomaret di Semarang Dilalap Si Jago Merah. Rolling Door Terkunci Rapat, Petugas Pemadam Terpaksa Menjebol Jendela Belakang

“Kami datangi satu per satu pedagang untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya peredaran uang palsu menjelang lebaran ini. Kami harap dengan adanya imbauan, para pedagang lebih teliti lagi dalam bertransaksi,” jelas Kapolsek.

Selain imbauan uang palsu, jajaran Polsek Semarang Tengah juga mengimbau agar masyarakat tidak mudik di masa pandemi ini.

Mengingat, kasus covid 19 di beberapa daerah kembali meningkat karena menurunnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan. []