JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Miris, Kisah TKI Atau PMI Asal Wonogiri Jarno Alias Tri Sujarno yang Mengalami Kebutaan dan Terlunta-lunta di Malaysia, Berkat Kolaborasi Birokrasi dan Legislatif Akhirnya Bisa Kembali ke Kampung Halaman

Jarno (kanan) bersama Camat Sidoharjo Sarosa (tengah) dan Anggota DPRD Wonogiri Wawan Kristanto di kediaman Paino di Desa Mojoreno Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri. Joglosemarnews.com/ Aris Arianto

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Miris nian nasib seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI)-dulu istilahnya TKI-kelahiran Wonogiri ini. Dia mengalami kecelakaan kerja hingga matanya buta, ditambah lagi sempat hidup terlunta-lunta di Malaysia.

Beruntung dia akhirnya diselamatkan dan ditampung oleh sesama pekerja asal Indonesia. Happy endingnya, berkat upaya keras pemerintah desa, kecamatan, dan Pemkab Wonogiri serta legislatif Kota Sukses, pria bernama asli Jarno alias Tri Sujarno berhasil dipulangkan dan menetap di Wonogiri.

Informasi yang diperoleh, Jarno kelahiran Dusun Cungkrung RT 1 RW 2, Desa Mojoreno, Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri. Namun sudah pindah alamat dan berkerja bertahun tahun di Negeri Jiran.

Camat Sidoharjo, Sarosa, awalnya mendapat informasi salah satu relawan asal Indonesia yang ada di Malaysia.
Dari informasi awal, Jarno ditampung di rumah salah satu PMI di Malaysia. Hampir dua tahun belakangan ini Jarno tak lagi bekerja di perkebunan kelapa sawit lantaran mengalami gangguan penglihatan.

Mirisnya, ada informasi sebelum ditampung rekannya, Jarno nyaris akan dibuang oleh pemilik perkebunan. Bahkan, kemungkinan terburuk akan dilaporkan aparat kepolisian setempat lantaran tak memiliki dokumen lengkap.

“Beruntung, ada relawan yang menolong dia. Akhirnya diketahui bahwa Jarno merupakan kelahiran Wonogiri,” kata dia kepada wartawan di rumah Paino, famili Jarno, Selasa (13/4/2021).

Setelah dilakukan komunikasi dengan pihak keluarga, mereka sepakat mau menerima Jarno. Kemudian pemerintah desa dan kecamatan meminta bantuan kepada Pemkab Wonogiri khususnya Bupati Joko Sutopo bersama anggota DPRD untuk proses selanjutnya.

Baca Juga :  Berbarengan Dengan Idul Fitri Begini Pelaksanaan Ibadah Kebaktian di GPPS Petra Kecamatan Purwantoro Wonogiri

“Pak Bupati kemudian berkoordinasi dengan BNP2TKI (BP2M) dan KBRI di Malaysia untuk proses pemulangan yang bersangkutan. Lalu pada 7 April kemarin dia tiba disini. Karena disini sudah tidak punya keluarga, ditampung oleh saudara sepupunya yakni Pak Paino,” ujar Sarosa.

Selama di Malaysia, Jarno bekerja di sebuah perkebunan di Kuantan. Di sana, dia bersama ratusan pekerja migran lainnya tinggal di pondok yang ada di kebun kelapa sawit.

Jarno meninggalkan Wonogiri sejak tahun 2000. Awalnya dia merantau dan menetap di kota Medan. Di kota itu dia menikah dan dikarunia empat orang anak. Sementara, saat ini kedua orang tuanya yang ada di Mojoreno sudah meninggal dunia dan hanya tinggal kerabatnya.

“Dia itu sudah tidak tercatat sebagai warga Wonogiri. Memang dia kelahiran sini,” ujar dia.

Sarosa menyatakan, tengah berupaya memfasilitasi Jarno agar tercatat sebagai penduduk Wonogiri. Bahkan, Jarno sudah melakukan rekam e-KTP. Selain mengupayakan dokumen kependudukan melalu data warga tercecer, pihaknya juga mengusahakan agar yang bersangkutan masuk dalam DTKS. Setelah semua clear, nantinya pihaknya akan mengupayakan untuk pengobatan kedua mata Jarno agar terkaver program BPJS KIS.

Saat dijumpai awak media, Jarno mengaku pergi ke Malaysia menggunakan visa pelancong tahun 2016. Setiap tahunnya, visa itu harus diperbarui. Namun karena jarak tempat bekerja dan kantor pengurusan visa jauh, akhirnya masa aktif visa yang digunakan habis.

Baca Juga :  LKP Matematika Indonesia Bagikan Beras Peduli Masyarakat Terdampak COVID-19 di Wonogiri

“Anak dan istri saya ada di Medan, tapi sekarang sudah pisah,” ujar Jarno.

Jarno mengaku mengalami kecelakaan kerja. Kedua matanya terkena racun yang ditimbulkan dari obat pembasmi rumput. Saat itu Jarno lalai menggunakan kacamata akhirnya kedua matanya terkena racun pembasmi rumput saat menggunakan alat penyemprot.

Dia mengaku berkerja di Malaysia lantaran faktor ekonomi. Saat berada di Medan keluarganya memiliki hutang banyak. Lalu nekad mengadu nasib ke Malaysia.

“Sebulan gajinya kalau dirupiahkan Rp 3 juta, itu kotor. Disana tinggal di pondok di perkebunan. Itu sebenarnya milik perorangan. Luas perkebunan itu sekitar 100 hektar,” beber Jarno.

Pria berperawakan sedang inj mengaku sangat bahagia bisa kembali ke tanah kelahirannya. Dia sangat berterimakasih dengan pemerintah desa, kecamatan dan Pemkab Wonogiri dan DPRD yang sudah susah payah memulangkan dirinya.

Anggota Komisi II DPRD Wonogiri Wawan Kristanto mengapresiasi kinerja Pemkab Wonogiri dan jajarannya. Termasuk warga sekitar tempat kelahiran Jarno. Bahkan pasca pemulangan Jarno, pihak kecamatan dan desa sudah menyiapkan program stimulan. Salah satunya dengan merencanakan memberikan ketrampilan memijat.

“Kerja nyata inilah salah satu bukti semangat Go Nyawiji Saserangen Mbangun Wonogiri yang selalu dikumandangkan oleh Pak Bupati,” sebut Wawan. Aris