JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Penuhi Kekurangan Pasokan Oksigen di Jateng, Ganjar dan Jajarannya Bahas 5 Alternatif

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat meninjau produksi oksigen di PT Samator Kendal, Minggu (11/7/2021). Istimewa

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM — Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beserta jajarannya terus berusaha mencari cara untuk memenuhi kekurangan pasokan oksigen untuk rumah sakit di wilayahnya.

Ganjar dan jajarannya membahas masalah tersebut dalam akor Ketersediaan Oksigen Medis Jawa Tengah secara daring dari Kantor Gubernur, Selasa (13/7/2021).

Dalam Rakor tersebut dibahas sejumlah alternatif untuk mempercepat penambahan suplai serta distribusi, dengan mengedepankan situasi kedaruratan.

Ada lima alternatif yang dibahas, yakni teknis distribusi yang terkendala akses rumah sakit, konversi oksigen industri ke kesehatan, penghematan oksigen oleh rumah sakit, instalasi oksigen generator, hingga penggabungan perusahaan suplier oksigen.

“Kita mencoba meminta melalui pemerintah pusat, mbok dikonversi. Konversilah yang dari industri ke kesehatan, agar (kekurangan) bisa terpenuhi,” ujar Ganjar.

Masalah lainnya, menurut gubernur, adalah teknis pengiriman. Sebab seringkali transporter atau pengangkut oksigen yang berukuran besar (isotank) tidak bisa masuk ke rumah sakit.

“(Transporter) yang gedhe-gedhe ini tidak mungkin karena rata-rata rumah sakitnya tidak menyiapkan (jalan masuk) yang lebih lebar. Waduh pak ada gapurane, ada pagere pak. Nah saya bilang, kalau seperti itu dirobohkan aja gapuranya wong sudah darurat,” tegas Ganjar.

Baca Juga :  Meski Kasus Covid-19 di Cilacap Melandai, Ganjar Minta Jangan Lengah dan Isolasi Terpusat

Ditambahkan, penggunaan oksigen generator di rumah sakit menjadi opsi yang menarik dibahas. Dengan begitu, rumah sakit bisa memproduksi oksigennya sendiri. Namun hal tersebut jelas tidak bisa instan, karena peralihan ke oksigen generator butuh waktu untuk instalasi.

Alternatif lainnya, yakni penghematan oksigen di rumah sakit. Caranya dengan mengganti alat dari High Flow Nasal Cannula (HFNC) ke Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) yang aliran oksigennya tidak terlalu tinggi. Selain itu, harganya lebih terjangkau.

“Itu sudah dipraktikkan di Rumah Sakit Moewardi. Maka tadi kita sampaikan sama Persi (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) apakah setuju, minimal dari sisi penghematan. Jadi gerakannya di hulu kita mencari, transporternya aman, rumah sakit bisa berhemat tapi ini sustain. Sehingga kemudian stok yang ada di rumah sakit itu mencukupi untuk meng-cover pasien,” tegasnya.

Selain itu, Ganjar juga berencana menggabungkan kelola perusahaan penyuplai dengan distributor oksigen di masa darurat ini. Sehingga pelaksanaannya bisa terbuka dan lebih cepat mengatasi ketersediaan oksigen ini.

Baca Juga :  KPID Jateng : Siaran Tak Ramah Anak Masih Marak, Muatan Seksualitas dan Kekerasan Ditayangkan Saat Jam Siar Anak

“Perusahaan-perusahaan supplier yang ada, distributor yang ada, kita mau gabungkan agar punya MoU. Sehingga menjadi open akses. Kalau nggak kan nanti sendiri-sendiri. Ini punyaku kok, saya nggak mau setor sana kok. Nggak bisa, ini kondisi darurat,” tandasnya. Satria