JOGLOSEMARNEWS.COM KOLOM

Rindu Dokter Reisa….

Dokter Reisa Broto, tim komunikasi publik Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19. Foto: YouTube BNPB


Ilham Bintang. Foto: Republika

Catatan: Ilham Bintang*

Apa kabar dr Reisa? Yup. Dr Reisa Broto Asmoro. Saya dan mungkin Anda, juga rindu sapaan lembutnya,  di tengah horor penularan virus Covid 19 varian baru yang semakin tidak terkendali hari – hari ini.

Kini, virus itu malah yang mengendalikan  kita semau-semaunya. Menjadi  pembunuh amat keji di tengah masyarakat. Seenaknya mempermalukan negara, menampar muka pejabat tinggi kita, yang diserahi amanah mengendalikan pandemi virus itu mewakili negara.

Simaklah update data harian, Jumat (23/7) kemarin. Dua hari menjelang berakhirnya PPKM ( Perberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat. Angka kematian di Indonesia kembali tertinggi di dunia : 1.566 jiwa. Virus merenggut nyawa saudara kita seperti cuma memetik buah di kebun.

Advertisement

Kasus positif kemarin, memang turun: 49.072. Turun hanya sedikit dibandingkan hari sebelumnya. Tapi angka testingnya juga turun lagi dibandingkan hari sebelumnya.

Apa hubungannya dengan dr Reisa Broto  Asmoro? Saya cuma berimajinasi saja. Seandainya  dia masih tampil setiap sore di layar televisi Nasional, ada yang membuat kita nyaman, hati tenang menyaksikan dia. Tinimbang, mengikuti perdebatan di berbagai media yang atmosfirnya dipenuhi benci dan dengki.

Apalagi kalau yang bicara Ali Mochtar Ngabalin. Waduh. Heran. Presiden Jokowi masih mempertahankan dia berkomunikasi dengan khalayak luas. Ada teman sampai bilang, andaikata layar tivinya terbuat dari kardus mungkin sudah berkali kena lempar sendal.

Kita rindu  dr Reisa. Meski suaranya cempreng dan kurang lentur tapi wanita jelita itu  bertutur kata lembut menyampaikan update harian kasus Covid19. Tak banyak wanita secantik Reisa, yang istri kita, juga  nyaman tiap kali menonton bersama-sana ibu dua anak itu di televisi.

Baca Juga :  Regulasi LHKPN yang Mandul

Entah kenapa dokter dan model ini distop pemunculannya tempo hari bersama dr Ahmad Yurianto. Padahal, pemunculan mantan runner up Puteri Indonesia itu sungguh menjadi oase yang sejuk di tengah situasi  pandemi. Yang menyeret kita berimajinasi seperti berada di padang tandus.

Kita memang masih bisa melihatnya  tiap saat. Melongok aktifitasnya sehari-hari di berbagai media sosial dan Instagram pribadinya. Sekali- sekali. Cukup. Jika sering, berbahaya. Bisa menjadi horor baru pula. Kemungkinan  istri  akan bertindak menganggap kita sinting. Bisa di “BAP” berhari-hari, meminjam istilah sejawat Suryopratomo, Dubes RI di Singapura.

Atas bantuan Pemred Kumparan, sejawat Arifin Asydhad, saya memperoleh kontak dr Reisa. Saat menulis ini saya sudah mengiriminya pesan  minta waktunya  mewawancarai dia. Namun, belum dijawab. Mungkin sibuk. Baik kita lanjut lagi.

 

Hari-hari tak menentu

Sejak kasus positif Covid19 1 d 2 tdi Tanah Air  diumumkan Presiden Jikowi 2 Maret 2020, praktis sejak itulah hari-hari kita tak menentu . Padahal, pemerintah sudah berusaha keras, berbagai sumber daya telah dikerahkan untuk mengendalikan penyebaran Covid19 di Tanah Air.

Upaya pemerintah sudah diwujudkan pula dengan berganti judul- judul penanganan, seperti PSBB dengan pelbagai turunannya. Juga PPKM dengan berbagai tingkatannya. Dari PPKM biasa, PPKM Mikro, PPKM Darurat, dan ganti lagi mulai  26/7 PPKM Level 3 & 4.  PPKM nama baru belum berjalan, belum bisa kita nilai. Namun, sebelumnya, belum ada yang betul-betul jitu mengendalikan Covid19.

Baca Juga :  Regulasi LHKPN yang Mandul

Yang paling parah PPKM Darurat. Implementasi sudah serupa lockdown, namun pemerintah tidak menyertai kebijakan  pemberian biaya hidup standar kepada masyarakat terdampak. Seperti yang diamanatkan UU No 6/2018 Tentang Kekarantinaan. Khususnya Pasal 55 Ayat 1 yang mengatur pembatasan masyarakat dalam masa pandemi.

UU itu produk terbaru  yang ditanda tandatangani Presiden Jokowi tiga tahun lalu. Akibatnya, setiap hari, selama berlaku  PPKM Darurat ( 3- 20 Juli), penumpukan massa besar terjadi di tempat penyekatan, di mana-mana.

Konflik fisik tak terelakkan antara rakyat yang lapar versus petugas yang menjalankan tugas menyekat. Kuat dugaan kerumunan di tempat-tempat itulah yang melahirkan kluster baru yang mengerek angka positif melesat seperti roket. Juga angka kematian. Nyawa seperti melayang sia -sia.

Bersyukur, Presiden cepat tanggap. Tanggal 20 Juli lalu jokowi mengumumkan segera menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat terdampak. Nominalnya cukup besar sekitar 55 T. Biarpun terlambat,  tetapi sudah bantuan sosial  itu sekaligus pernyataan kehadiran negara. Semoga seutuhnya tiba di tangan rakyat.

 

Halaman:  
« 1 2 Selanjutnya › » Semua