JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Sragen Berduka, 27 Pasien Covid-19 Meninggal di RSUD Dalam Waktu 24 Jam Terakhir. Ada 9 Pasien Tiba Dalam Kondisi Sudah Jadi Jenazah, Sebagian Meninggal Antri di IGD dan ICU

Ilustrasi petugas pemulasaraan jenazah pasien Covid-19 di antara deretan jenazah pasien yang meninggal di kamar jenazah. Foto/Istimewa

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Wabah Covid-19 di Sragen semakin mengkhawatirkan. Tak hanya lonjakan kasus harian yang kembali meledak, jumlah kematian pasien positif juga semakin mencemaskan.

Betapa tidak, di RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen saja dalam kurun 24 jam terakhir, tercatat ada 27 jenazah yang ditangani dan meninggal dalam kondisi positif terkonfirmasi Covid-19.

Ironisnya, sembilan pasien di antaranya tiba di rumah sakit dalam kondisi sudah jadi jenazah.

Sebagian lainnya meninggal dalam perawatan di ruang isolasi, dalam proses menunggu antrian di instalasi gawat darurat (IGD) maupun di intensif care unit (ICU).

Wakil Direktur Pelayanan dan Mutu RSUD di Soehadi Prijonegoro Sragen, Joko Haryono membenarkan sejak pagi kemarin hingga petang tadi, total ada sekitar 27 jenazah pasien Covid-19 yang meninggal dan ditangani di RSUD Sragen.

Dari jumlah itu, ada 9 pasien kiriman yang sudah dalam kondisi meninggal karena menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah.

“Yang lainnya meninggal di rumah sakit. Ada yang meninggal di ruang perawatan, di ruang ICU dan sebagian lagi meninggal saat antri di IGD. Karena memang banyak sekali antrian di IGD sementara kondisi ruangan sudah penuh,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Jumat (9/7/2021).

Joko menguraikan banyaknya kematian pasien di rumah sakit sehari terakhir terjadi lantaran mayoritas datang dalam kondisi sudah mengalami perburukan.

Baca Juga :  Update Covid-19 Sragen Hari Idul Adha, 133 Warga Positif dan 1 Meninggal Dunia Hari Ini. Total Kasus Aktif 1.550 Orang dan 727 Warga Meninggal

Mereka tiba dengan kondisi saturasi (kadar oksigen dalam darah) jauh di bawah ambang 90 persen. Bahkan tak sedikit yang datang dalam kondisi saturasi parah di bawah 60 persen.

“Rata-rata yang meninggal itu ketika datang saturasi di bawah 80 persen, ada yang 60, 65 persen. Ada yang bahkan datang dengan saturasi hanya 55 persen. Kalau sudah sedemikian itu, sangat sulit bisa terselamatkan,” terangnya.

Sementara, untuk 9 pasien memang meninggal di luar rumah sakit atau sudah terlebih dahulu meninggal di rumah.

Mereka rata-rata meninggal saat menjalani isoman di rumah karena tidak tertampung di rumah sakit atau menunggu antrian.

Sama halnya kematian di rumah sakit, pasien meninggal saat isoman di rumah pun mayoritas juga dalam kondisi buruk.

“Kebanyakan yang meninggal isoman itu awalnya juga dikira hanya demam atau flu biasa. Mungkin ada penyakit penyerta sehingga kemudian langsung memburuk dan sesek nggak tertolong. Untuk jenazah yang isoman itu hasil swab awal sudah positif, sehingga protapnya untuk pemulasaraan jenazahnya dikirim ke RSUD. Sampai RSUD jenazah diswab PCR lagi dan semua memang positif. Setelah pemulasaraan di sini baru dikirim kembali untuk dimakamkan sesuai prokes,” terang Joko.

Joko tidak menampik kapasitas ruang perawatan isolasi dan ICU di RSUD Sragen saat ini memang penuh. Sehingga banyak pasien bergejala yang terpaksa harus antri di IGD untuk menunggu kekosongan ruangan.

Baca Juga :  Mendadak Viral, Status WA Bidan Desa di Karanganyar Unggah Foto Bayi Cantik Jadi Saksi Kejahatan Covid-19. Langsung Banjir Empati, Ada Doa Semoga Bisa Kumpul di Surga

“Beberapa hari ini memang antrian di IGD banyak sekali. Hari ini tadi ada sekitar 16an pasien yang antri di IGD dan ICU. Mereka tetap ditangani tapi sebagian ya itu tadi kondisinya waktu datang sudah buruk dan saturasi sangat rendah,” imbuhnya.

Untuk ketersediaan oksigen, ia menyebut memang masih ada tapi juga selalu membuat ketar-ketir. Sebab pasokan yang tersedia terkadang sangat mepet sementara kebutuhan dan aliran pasien cukup banyak.

“Masih ada tapi ya ketar-ketir juga. Hari ini tadi masih ada 2 tabung liquid dan beberapa tabung. Tapi melihat banyak pasien yang antri, kadang juga ketar-ketir,” tandasnya. Wardoyo