JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Desk Collection, ini Karyawan Pinjol yang Bertugas Mengirimkan SMS Teror ke Korbannya, Sampai Seorang IRT di Selomarto Kecamatan Giriwoyo Wonogiri Bunuh Diri

Bareskrim Polri saat mengamankan puluhan karyawan sebuah perusahaan Pinjol Ilegal di Tangerang. Foto/Humas Polri

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Pinjaman online tak resmi alias pinjol ilegal nyata-nyata meresahkan masyarakat. Terlebih mengingat aksi mereka saat melancarkan penagihan yang acapkali berakhir bencana.

Ini seperti yang terjadi di Wonogiri. Dimana seorang ibu rumah tangga (IRT) nekat mengakhiri hidupnya lantaran teror pinjol ilegal.

Nah, Bareskrim Mabes Polri belum lama ini mengungkapkan sindikat pinjol ilegal. Salah satunya yang menebar teror ke IRT di Wonogiri.

Ternyata di dalam struktur pinjol ilegal terdiri atas beragam posisi. Mulai penyandang dana hingga penagihnya. Namun yang paling dirasakan kehadirannya adalah petugas penagih yang menebar teror melalui SMS ke peminjam atau pihak lain yang dijadikan penjamin hutang.

Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Helmy Santika, menerangkan, penyidik Polri menangkap setidaknya tujuh orang tersangka yang diduga terlibat pinjol ilegal tersebut. Mereka ditangkap setelah penyidik menggerebek 5 wilayah di sekitar Jakarta.

Tujuh tersangka yang ditangkap itu ternyata memiliki peran berbeda-beda. Tentu saja dalam aktifitas di struktur pinjol ilegal. Hanya saja, mayoritas dari mereka bertugas sebagai operator desk collection.

Dia menerangkan desk collection merupakan operator yang betugas untuk menyebar SMS berisikan ancaman dan penistaan kepada peminjamnya. Mereka merupakan pihak ketiga yang dipekerjakan untuk sejumlah perusahaan pinjol lain.

Saat ini, Bareskrim sedang memburu satu warga negara asing (WNA) berinisial ZJ. WNA yang diduga sebagai penyandang dana dari layanan penyebaran SMS ancaman pinjol.

Selain itu, bos pinjaman online (pinjol) ilegal yang meneror seorang ibu rumah tangga (IRT) di Kecamatan, Giriwoyo Wonogiri, berhasil ditangkap. Tersangka merupakan warga negara asing (WNA) Cina.

Bos tersebut adalah pengelola sejumlah pinjol ilegal yang beroperasi di Indonesia. Dia juga menjadi penyandang dana koperasi fiktif untuk operasional pinjol.

Dalam rilis yang disampaikan Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri, kepolisian menangkap bos penyandang dana Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Solusi Andalan Bersama (SAB). KSP ini menaungi salah satu pinjol ilegal yang meneror IRT di Wonogiri hingga berakhir bunuh diri.

Baca Juga :  Longsor Jati dan Janganti Tirtomoyo Wonogiri, Akses Jalan Tertutup Material Tanah

Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Helmy Santika, menyebutkan pinjol tersebut berinisial JS. Tersangka diduga mengelola sejumlah aplikasi pinjol ilegal yang beroperasi di Indonesia.

“JS merupakan fasilitator WNA, perekrut masyarakat untuk menjadi ketua KSP maupun direktur PT yang fiktif yang digunakan sebagai operasional pinjol ilegal,” kata Helmy, Jumat (22/10/2021).

Selain itu JS merupakan pemodal untuk mendirikan KSP fiktif yang diduga digunakan untuk operasional pinjol ilegal.

Salah satu aplikasi pinjol yang dikelola JS antara lain Fulus Mujur hingga Pinjaman Nasional. Nah, aplikasi pinjol Fulus Mujur ini yang diduga meneror IRT di Wonogiri hingga bunuh diri tersebut

“Korban meninggal gantung diri diakibatkan telah meminjam di 23 aplikasi pinjol ilegal. Salah satu di antaranya yaitu aplikasi Fulus Mujur yang dikelola oleh KSP Solusi Andalan Bersama,” beber dia.

Dari tangan JS, polisi menyita sejumlah barang bukti seperti HP, ratusan akte pendirian KSP, ratusan stempel KSP, 2 unit CPU, dan puluhan NPWP Koperasi Simpan Pinjam. Selain JS, turut diamankan Ketua KSP Solusi Andalan Bersama berinisial MDA dan SR.

Dari MDA disita akte pendirian KSP Solusi Andalan Bersama, perjanjian kerjasama dengan payment gateway, hp, uang senilai Rp 20,4 miliar pada rekening bank atas nama KSP Solusi Andalan Bersama, uang senilai Rp 11 juta pada rekening bank atas nama KSP Solusi Andalan Bersama. Sedangkan dari SR disita HP.

Sebelumnya dalam konferensi pers, Dittipideksus Bareskrim Polri sukses membekuk tujuh orang tersangka dari delapan kantor pinjol ilegal. Kantor mereka tersebar di wilayah Jakarta dan Tangerang.

Sindikat pinjol ilegal ini merupakan jaringan yang membuat ibu rumah tangga di Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri, nekat mengakhiri hidupnya gegara tak kuat menanggung beban utang, di antaranya dari para pinjol.

Baca Juga :  Waduk Pidekso Giriwoyo Wonogiri Bisa Airi Lahan Seluas 41 Hektare di 2 Kecamatan, Pembangunan Saluran Irigasi Telan Anggaran Segini

“Dari yang kami ungkap, nyangkut ke peristiwa yang di Wonogiri, Jateng. Tim kami kemudian berangkat ke sana, kita explore, dari 23 pinjol nyangkut ke sini satu,” ujar Brigjen Pol Helmy Santika.

Helmy menyebutkan sejumlah peran para tersangka dalam pinjol ilegal tersebut. Ada dari mereka yang bertugas menjadi operator SMS blasting dan desk collection. Untuk diketahui, desk collection merupakan aktivitas menagih utang melalui dunia maya.

Para tersangka ditangkap di sejumlah wilayah di Jakarta dan Tangerang sejak Selasa (12/10) dini hari. Mereka berinisial RJ, JT, AY, HC, AL, VN, dan HH.

Selain mengamankan tersangka, petugas juga sukses menyita sejumlah barang bukti. Meliputi 121 unit modem, 17 unit CPU, 8 unit monitor, 8 unit laptop, 13 unit handphone, 1 box SIM card baru, dan 2 unit flash disk.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 45B Jo Pasal 29 dan/atau Pasal 45 ayat (1) Jo Pasal 27 ayat (1) dan/atau Pasal 45 ayat (3) Jo Pasal 27 ayat (3) dan/atau Pasal 45 ayat (4) Jo Pasal 27 ayat (4) dan/atau Pasal 51 ayat (1) Jo Pasal 35 Undang-Undang RI No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang RI No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5 Undang-Undang No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan/atau Pasal 311 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP. Mereka terancam hukuman penjara paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar.

“Kalau misalkan ada yang melapor, kita bisa menindaklanjuti. Syukur-syukur kita bisa menemukan data yang bersangkutan sehingga tidak disalahgunakan lagi oleh pelaku-pelaku yang lain,” jelas dia.

Halaman selanjutnya

Halaman :  1 2 Tampilkan semua