JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Diserang Guru Swasta Berserdik 500 Poin, Pengabdian 27 Tahun Seakan Sia-Sia. Honorer Berusia 52 Tahun di Sragen Tegas Bersuara: Pemerintah, Tuntaskan Dulu Guru Negeri!”

Dua guru honorer SMPN di Sragen, Hari Wahyuti dan Lis Wijiarsi saat menyuarakan aspirasi dan tuntutan agar diangkat PPPK karena lulus PG tapi tidak dapat formasi. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kalangan guru honorer di sekolah negeri yang lulus passing grade (PG) tapi gagal dapat formasi di Sragen menuntut pemerintah untuk lebih adil dan bijak dalam perekrutan honorer menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK atau P3K).

Pasalnya munculnya afirmasi sertifikasi pendidik (Serdik) 500 poin untuk guru swasta, menjadi ancaman besar yang akhirnya membuat guru-guru honorer di sekolah negeri tersingkir.

Padahal rata-rata guru honorer yang lolos PG tak dapat formasi itu sudah mengabdi belasan hingga puluhan tahun.

Guru honorer di SMPN 1 Sambungmacan, Hari Wahyuti (52) menilai tambahan 500 poin bagi guru berserdik menjadi ancaman besar bagi guru honorer negeri yang sudah puluhan tahun mengabdi.

Sebab senjata serdik itu mayoritas hanya bisa dimiliki guru swasta yang bisa mengikuti PPG dengan bekal SK yayasan.

Baca Juga :  120 UMKM Binaan Lazismu Dibimbing Strategi Marketing. Praktisi: Pemasaran Lewat Status WA Cukup Efektif!

Sementara, untuk honorer di negeri sulit mengikuti serdik karena syaratnya harus punya SK Bupati atau dinas.

Seperti apa yang dialaminya dan banyak guru honorer berusia di atas 40 tahun yang lolos PG tak dapat formasi.

Hari yang sudah 27 tahun mengabdi dan lolos PG, gagal di seleksi PPPK tahap kedua karena dikalahkan oleh guru swasta yang sudah punya modal 500 poin dari serdik.

“Harapan kami pemerintah selesaikan dulu guru-guru honorer di sekolah negeri yang sudah puluhan tahun mengabdi. Bukan guru swasta yang didahulukan. Guru swasta biar di yayasan dulu. Angkat yang honorer negeri menjadi PPPK. Saya usia sudah 50 tahun ke atas, WB sudah 27 tahun lebih dan lolos PG tapi kemarin kalah dari guru swasta berserdik,” paparnya.

Baca Juga :  Taklukkan Tim Satreskrim, Kesebelasan Polsek Kawedanan Gemolong Champion Piala Kapolres Sragen Cup 2022. Briptu Arif Sabet Top Scorer

Hari menuturkan di seleksi tahap pertama, dirinya gagal karena sekolahnya tidak membuka formasi.

Di seleksi kedua, sebenarnya dia sudah bisa memenuhi passing grade akan tetapi tidak mendapat formasi juga.

“Intinya kami guru-guru honorer di sekolah negeri ini sudah lulus PG tapi belum dapat formasi karena regulasi. Guru honorer negeri belum punya serdik, bukan belum mampu. Akan tetapi kita belum mempunyai kesempatan PPG Pak. Kalau guru swasta pasti semua punya serdik, karena SK kepala yayasan sudah bisa langsung ikut PPG,” jelasnya.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua