JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Curhat Pilu Sopir-Sopir Terdampak Mimpi Buruk PPKM. “Yang Kaya Makin Kaya, Yang Menderita Menderita!”

Aksi Mba Lina sang sopir perempuan di balik kemudi bus PO Agramas. Joglosemarnews.com/Aris Arianto

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM level 3 yang diterapkan di DKI Jakarta dan 3 wilayah di Jawa, pekan ini, kembali menjadi mimpi buruk bagi pelaku usaha.

Salah satunya pelaku usaha jasa transportasi konvensional. Para pengemudi angkot dan taksi menjerit bayangan PPKM bakal menjadi lonceng kemesorotan pendapatan seperti yang mereka alami saat PSBB.

Seperti diungkapkan Warsun Hidayat, seorang sopir taksi yang beroperasi di kawasan Sudirman, Jakarta.

Baca Juga :  AHY Kunjungi Prabowo di Rumahnya, Sinyal Koalisi Demokrat-Gerindra?

Ia mengatakan kebijakan PPKM yang diberlakukan bakal sangat tidak menguntungkan bagi profesinya.

Pembatasan aktivitas masyarakat dipastikan akan berdampak pada berkurangnya orang-orang yang menggunakan jasanya.

“Kalau aktivitas kurang berarti otomatis sewa kurang, jadi PPKM ini saya kurang setuju,” tuturnya, Selasa, (8/2/2022).

Sebagai warga pendatang dari Banjarnegara, Jawa Tengah, Warsun merasa dampak dari PPKM Level 3 terasa lebih berat baginya.

Pasalnya ia dan keluarga masih tinggal di rumah kontrakan di Jakarta. Jika pendapatan makin menurun, alih-alih kebutuhan, bayar kontrakan pun pasti akan kesulitan.

Baca Juga :  Dinilai sebagai Sosok Tepat untuk Lakukan Recovery Ekonomi, KIB Kepri Siap Menangkan Airlangga di  2024

Curhat serupa datang dari Yanto, sopir taksi yang beroperasi di kawasan Gatot Subroto. Menurutnya PPKM akan membuat profesi seperti dirinya berada dalam ketidakpastian.

“Yang kaya makin kaya, yang menderita (makin) menderita. Ini supir dilema, enggak jalan salah, jalan juga salah,” ujarnya.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua