JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus titik terendah sepanjang sejarah memicu beragam respons.
Di tengah kekhawatiran pasar terhadap kurs yang mendekati level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat, Wakil Ketua DPR Bidang Politik dan Keamanan Sufmi Dasco Ahmad justru mengimbau masyarakat untuk tidak menahan simpanan dolar dengan harapan memperoleh keuntungan dari kenaikan nilainya.
Menurut Dasco, langkah tersebut tidak perlu dilakukan karena pemerintah diyakini telah menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat kembali posisi rupiah dalam waktu dekat.
“Bagi teman-teman sekalian yang saat ini menyimpan dolar karena ingin berharap ada kelebihan sebaiknya dolarnya dilepas,” kata Dasco di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Ia menilai kepercayaan publik terhadap pemerintah saat ini terus meningkat. Kondisi tersebut, menurutnya, akan menjadi faktor yang ikut menopang penguatan nilai tukar rupiah ke depan.
“Karena kalau kemudian sudah minggu depan nilai rupiah menguat, kan kasihan kalau simpan-simpan dolar,” ujarnya.
Ketua Harian Partai Gerindra itu juga mengaku telah memperoleh informasi dari kalangan pemerintah mengenai sejumlah langkah yang akan dijalankan untuk menjaga stabilitas mata uang nasional.
“Dalam minggu ini dan ke depan ada strategi-strategi khusus yang akan dilakukan oleh pemerintah, yang kalau saya sudah dengar dan saya yakini akan membuat nilai tukar rupiah menguat,” tuturnya.
Sebelumnya, rupiah sempat mencatatkan pelemahan tajam hingga menyentuh level Rp 18.201 per dolar AS pada Senin (8/6/2026), yang menjadi titik terendah sepanjang sejarah. Pada perdagangan Kamis pagi, kurs rupiah bergerak di kisaran Rp 17.941 per dolar AS.
Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi berbagai faktor eksternal, termasuk sentimen global, meningkatnya sikap hati-hati investor di pasar keuangan internasional, serta tekanan dari transaksi perjalanan dan aktivitas finansial domestik.
Data pemerintah menunjukkan nilai tukar rupiah hingga 8 Juni 2026 berada di level Rp 18.039 per dolar AS. Meski demikian, pemerintah menilai pelemahan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional.
Purbaya mengatakan posisi rupiah saat ini berpotensi mengalami overshooting atau berada di bawah nilai wajarnya. Ia menegaskan sejumlah indikator domestik masih berada dalam kondisi yang relatif kuat, mulai dari cadangan devisa yang memadai, inflasi yang terkendali, hingga kebijakan Bank Indonesia yang tetap berorientasi pada stabilitas ekonomi.
Pemerintah pun optimistis koordinasi yang lebih erat antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan akan mampu memperkuat pasokan devisa di dalam negeri sekaligus meningkatkan kepercayaan investor. Dengan dukungan perbaikan tata kelola devisa hasil ekspor dan pendalaman pasar keuangan, rupiah diharapkan dapat berangsur menguat pada paruh kedua tahun 2026.
Di sisi lain, proyeksi berbeda disampaikan Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi. Ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut hingga mencapai level Rp 19.000 per dolar AS pada akhir bulan ini apabila ketidakpastian geopolitik global belum mereda dan bank sentral Amerika Serikat mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga acuannya.
Menurut Ibrahim, indeks dolar AS masih memiliki peluang untuk kembali menguat. “Artinya, ada kemungkinan indeks dolar akan kembali menguat tajam,” katanya.
Ia menilai penguatan dolar dapat berdampak luas terhadap perekonomian, mulai dari kenaikan harga minyak dunia, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga tekanan terhadap harga emas dan logam mulia. Kondisi tersebut juga berpotensi mendorong masyarakat beralih memburu dolar AS sebagai aset yang dianggap lebih aman. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















