Beranda Daerah Wonogiri 275 Kebakaran di Jateng Kerugian Tembus Rp27 Miliar, Bencana Kekeringan Meluas ke...

275 Kebakaran di Jateng Kerugian Tembus Rp27 Miliar, Bencana Kekeringan Meluas ke 25 Daerah

Kekeringan
Penyaluran bantuan air bersih di Jateng. BPBD Jateng

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM Musim kemarau 2026 mulai menunjukkan dampaknya di Jawa Tengah. Di tengah meluasnya wilayah yang mengalami kekeringan, ancaman lain yang tak kalah mengkhawatirkan justru datang dari meningkatnya jumlah kebakaran. Hingga pertengahan musim kemarau, ratusan peristiwa kebakaran telah terjadi dan menimbulkan kerugian hingga puluhan miliar rupiah.

Dilansir dari laman resmi Pemprov Jateng, data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah mencatat, sepanjang periode 5 Juni hingga 19 Juli 2026 telah terjadi 275 kejadian kebakaran. Rinciannya terdiri dari 56 kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta 219 kebakaran gedung dan rumah yang tersebar di berbagai wilayah.

Kepala BPBD Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menegaskan bahwa kebakaran lahan menjadi ancaman serius selama musim kemarau karena sebagian besar terjadi di area pertanian.

“Karhutla ini paling banyak terdampak itu lahan, utamanya lahan tebu. Jumlah kerugian karhutla Rp607 juta, kerugian kebakaran gedung dan rumah sampai Rp27 miliar. Karhutla ini yang perlu diantisipasi oleh daerah,” ujar Bergas, Senin (27/7/2026).

Besarnya jumlah kejadian kebakaran tersebut menjadi alarm bagi seluruh daerah di Jawa Tengah. Kondisi cuaca yang panas, minim curah hujan, serta vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah muncul dan cepat menjalar. Tak hanya menghanguskan lahan pertanian, kebakaran juga mengancam permukiman warga hingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar.

Baca Juga :  GEGER! Penemuan Tembakau Sintetis di Warung Kosong di Giriwoyo, 2 Pemuda Diringkus Polisi

Di sisi lain, musim kemarau juga membawa persoalan lain berupa krisis air bersih. Hingga 24 Juli 2026, sebanyak 25 kabupaten/kota di Jawa Tengah telah terdampak kekeringan. Dampaknya menjalar ke 83 kecamatan dan 148 desa, sementara 11 kabupaten/kota telah menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan 2026.

Untuk membantu masyarakat yang kesulitan memperoleh air bersih, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama pemerintah kabupaten/kota, TNI, Polri, PMI, perusahaan melalui program CSR, serta berbagai instansi lainnya terus melakukan distribusi bantuan air bersih ke wilayah terdampak.

Total air bersih yang telah disalurkan hingga 24 Juli 2026 mencapai 6,8 juta liter.

Rinciannya meliputi:

🟢 4.853.800 liter berasal dari APBD Provinsi Jawa Tengah dan APBD kabupaten/kota.

🟢 1.951.500 liter berasal dari bantuan CSR, PMI, TNI, Polri, dan berbagai lembaga lainnya.

Distribusi tersebut telah membantu sekitar 61.139 kepala keluarga atau sekitar 184.643 jiwa yang mengalami kesulitan air bersih akibat musim kemarau.

Tiga daerah yang menerima distribusi air bersih terbesar saat ini adalah:

🟢 Kabupaten Klaten

🟢 Kabupaten Pemalang

🟢 Kabupaten Banjarnegara

Meski kebutuhan air bersih terus meningkat, BPBD Jawa Tengah memastikan stok masih dalam kondisi aman. Pemerintah juga menegaskan bahwa cadangan air bersih masih sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat apabila kekeringan terus meluas dalam beberapa waktu ke depan.

Baca Juga :  Viral! Asyifa Penari Cilik 9 Tahun Ini Bikin Turnamen Voli Wonogiri Makin Meriah, Bupati Sampai Angkat Bicara

“Masih ada sisa ketersediaan air bersih sekitar 40 juta liter dari total 44,9 juta liter yang disediakan oleh APBD kabupaten/kota. Terkait dengan air bersih ini masih mumpuni, karena ketersediaan anggaran maupun air bersihnya masih tersedia,” jelas Bergas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa musim kemarau tahun 2026 menghadirkan tantangan ganda bagi Jawa Tengah. Di satu sisi, ratusan kebakaran terus bermunculan dengan kerugian yang terus bertambah. Di sisi lain, semakin banyak wilayah harus berjuang memenuhi kebutuhan air bersih akibat kekeringan yang meluas.

Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran seperti membakar sampah, membakar lahan, atau membuang puntung rokok sembarangan di area yang kering. Langkah pencegahan menjadi sangat penting agar jumlah kebakaran tidak terus bertambah selama puncak musim kemarau. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.