JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia kini semakin mendapat perhatian dari dunia internasional. Menurutnya, sejumlah tokoh dunia mulai menyoroti berbagai capaian Indonesia, termasuk keberhasilan menjaga stabilitas di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri peluncuran program Biodiesel B50 di Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Dalam pidatonya, ia mengaku terkejut karena perkembangan Indonesia menjadi bahan pembicaraan di berbagai forum internasional.
“Saya sendiri kaget, tokoh-tokoh dunia membicarakan Indonesia. Indonesia kok berhasil, Indonesia kok tidak panik, Indonesia kok tidak naikin harga BBM untuk rakyat kecil,” kata Prabowo.
Menurut Prabowo, perhatian dunia terhadap Indonesia tidak terlepas dari persaingan antarnegara yang semakin ketat. Ia bahkan menilai tidak sedikit negara yang memandang Indonesia dengan rasa iri.
“Banyak negara yang iri sama kita, banyak negara yang benci sama kita,” ujar Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.
Prabowo menegaskan bangsa Indonesia tidak memiliki kebiasaan membenci negara lain. Namun, ia menilai masih ada pihak-pihak yang justru berupaya menjatuhkan citra Indonesia.
“Maunya ngerjain kita, jelek-jelekin kita,” ucapnya.
Kepala Negara juga menyinggung berbagai narasi negatif yang sempat ramai di media sosial, seperti munculnya tagar Indonesia Gelap maupun anggapan bahwa Indonesia berada di ambang kekacauan atau kolaps. Yang lebih disayangkan, kata Prabowo, narasi tersebut justru ikut disuarakan oleh sebagian masyarakat Indonesia.
“Dia berharap kolaps, bayangkan, orang Indonesia sendiri berharap kolaps,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo meresmikan implementasi program Biodiesel B50, yakni kebijakan pencampuran biodiesel berbahan baku minyak sawit sebesar 50 persen ke dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan penerapan B50 menjadi langkah penting untuk memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor solar.
“Dengan implementasi B50, maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita,” kata Bahlil.
Ia menjelaskan, konsumsi solar nasional saat ini berkisar antara 38 hingga 40 juta kiloliter per tahun. Selama ini, kebutuhan tersebut masih ditopang impor sekitar 3 hingga 4 juta kiloliter setiap tahun.
Menurut Bahlil, peningkatan kandungan biodiesel dalam solar membuat kapasitas produksi dalam negeri kini dinilai mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar domestik tanpa bergantung pada pasokan impor.
Sebelum resmi diterapkan, pemerintah telah menguji penggunaan Biodiesel B50 selama enam bulan di enam sektor pengguna mesin diesel, yakni sektor otomotif, alat dan mesin pertanian, alat berat pertambangan, angkutan laut, pembangkit listrik, serta perkeretaapian. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















