Beranda Daerah Sragen UNS Perkuat Kemandirian Peternak Kambing Perah Sragen, Terapkan Good Dairy Goat Farming...

UNS Perkuat Kemandirian Peternak Kambing Perah Sragen, Terapkan Good Dairy Goat Farming Practice

Tim Fakultas Peternakan Universitas Sebelas Maret (UNS) berfoto bersama anggota Kelompok Tani Ternak (KTT) Berkah Susu usai pelaksanaan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Desa Purworejo, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen | Foto: Dok. Fakultas Peternakan UNS

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta terus memperkuat pemberdayaan peternak rakyat melalui penerapan inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kali ini, tim dari Fakultas Peternakan UNS mendampingi Kelompok Tani Ternak (KTT) Berkah Susu di Desa Purworejo, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, melalui penerapan Good Dairy Goat Farming Practice (GDGFP) guna meningkatkan produktivitas sekaligus kemandirian usaha peternakan kambing perah.

Dr. Ir. Ahmad Pramono, S.Pt., M.P selaku Ketua tim menjelaskan, KTT Berkah Susu yang beranggotakan 20 peternak di bawah kepemimpinan M. Alex Prasetya selama ini mengembangkan usaha budidaya kambing perah jenis Sapera. Namun, pengelolaan peternakan masih dilakukan secara tradisional sehingga produktivitas susu belum optimal.

Tim Fakultas Peternakan Universitas Sebelas Maret (UNS) memberikan paparan materi mengenai teknologi fermentasi silase kepada anggota Kelompok Tani Ternak (KTT) Berkah Susu di Desa Purworejo, Kecamatan Gemolong, Sragen | Foto: Dok. Fakultas Peternakan UNS

Menurut Ahmad Pramono, hasil identifikasi tim UNS menunjukkan produksi susu harian rata-rata kambing di kelompok tersebut baru sekitar 0,8 liter per ekor per hari. Angka tersebut masih jauh di bawah potensi genetik kambing Sapera yang dapat menghasilkan sekitar 1,5 hingga 2 liter susu per hari. Rendahnya produksi dipengaruhi manajemen pakan laktasi yang belum memenuhi kebutuhan nutrisi secara seimbang serta keterbatasan hijauan berkualitas, terutama saat musim kemarau.

Selain persoalan pakan, peternak juga menghadapi tantangan lain berupa jarak beranak (kidding interval) yang masih cukup panjang, yakni sekitar 10 hingga 13 bulan. Kondisi itu berdampak pada lambatnya regenerasi ternak. Risiko perkawinan sedarah (inbreeding) juga cukup tinggi akibat belum optimalnya sistem pencatatan pembibitan.

Permasalahan lain muncul pada aspek kesehatan ternak. Kasus mastitis subklinis atau radang ambing sering kali tidak terdeteksi karena tidak menunjukkan gejala yang tampak secara kasat mata, padahal penyakit tersebut dapat menurunkan kualitas maupun kuantitas susu. Di sisi lain, pengelolaan kandang dan limbah ternak juga belum optimal, sementara pemasaran hasil produksi masih terbatas pada penjualan susu segar tanpa diversifikasi produk.

Baca Juga :  CFD Desa Padas Tanon Sragen Pemdes Gandeng PT Aktech Digital Solutions Menuju Desa Digital Melalui Jaringan Internet Wifi

Melihat berbagai persoalan tersebut, tim Fakultas Peternakan UNS menghadirkan solusi melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai hibah internal UNS Tahun Anggaran 2026.

Program tersebut dipimpin oleh Dr. Ir. Ahmad Pramono, S.Pt., M.P., bersama dengan Prof. Dr.agr. Ir. Muhammad Cahyadi, S.Pt., M.Biotech., IPM, drh. Wari Pawestri, M.Sc., serta Farouq Heidar Barido, S.Pt., Ph.D., dan melibatkan mahasiswa Fakultas Peternakan UNS.

Pendampingan dilakukan melalui pelatihan teknis, pendampingan intensif, serta penyerahan bantuan teknologi tepat guna (TTG). Pendekatan yang diterapkan mencakup seluruh aspek usaha peternakan, mulai dari pembibitan, pakan, kesehatan ternak, pengelolaan limbah, hingga pemasaran hasil produksi.

Pada aspek reproduksi, tim UNS memperkenalkan teknologi sinkronisasi birahi menggunakan hormon Prostaglandin F2α (PGF2α) dan hormon GnRH (Conceptase) untuk meningkatkan keberhasilan perkawinan sekaligus memperpendek jarak beranak. Proses tersebut didukung penggunaan alat pendeteksi birahi (heat detector) serta pemeriksaan kebuntingan dini menggunakan ultrasonografi (USG).

Peternak juga mendapatkan pelatihan mengenai penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) bibit kambing perah Sapera dan Saanen agar mampu melakukan seleksi bibit unggul secara mandiri sekaligus mencegah terjadinya inbreeding.

Dalam bidang pakan, UNS mengenalkan teknologi pembuatan silase menggunakan Fermented Juice of Lactic Acid Bacteria (FJLB). Hijauan terlebih dahulu dicacah menggunakan mesin chopper sebelum difermentasi sehingga menghasilkan pakan berkualitas yang dapat disimpan dalam jangka panjang. Teknologi tersebut diharapkan  mampu menjamin ketersediaan pakan bergizi sepanjang tahun, termasuk saat musim kemarau.

Sementara itu, upaya peningkatan kesehatan ternak dilakukan melalui pemanfaatan Dramiński Mastitis Test, alat yang mampu mendeteksi mastitis subklinis secara dini melalui pengukuran konduktivitas listrik pada susu. Dengan deteksi lebih awal, penanganan penyakit dapat dilakukan sebelum berdampak terhadap produksi susu.

Baca Juga :  Diduga Korsleting Listrik, Innova Venturer Ludes Terbakar di Jalan Sragen–Tangen
Anggota Kelompok Tani Ternak (KTT) Berkah Susu bersama tim Fakultas Peternakan Universitas Sebelas Maret (UNS) mempraktikkan pembuatan silase dengan memanfaatkan mesin chopper dalam Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Desa Purworejo, Kecamatan Gemolong, Sragen | Foto: Dok. Fakultas Peternakan UNS

Tidak hanya itu, tim UNS juga mendorong penerapan konsep ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah peternakan. Kotoran padat dan urin kambing yang sebelumnya belum termanfaatkan kini diolah menjadi pupuk organik padat maupun pupuk organik cair melalui proses pengomposan dan penggunaan dekomposer, sehingga memberikan nilai tambah sekaligus menjaga kebersihan lingkungan kandang.

Pada sektor hilir, peternak dibekali keterampilan mengolah susu segar menjadi berbagai produk bernilai ekonomi lebih tinggi, seperti susu pasteurisasi, yoghurt, kefir, es krim, hingga karamel susu. Di saat yang sama, strategi pemasaran juga mulai diarahkan ke platform digital melalui pemanfaatan website dan media sosial agar jangkauan pasar semakin luas.

Melalui penerapan paket teknologi Good Dairy Goat Farming Practice, tim UNS menargetkan peningkatan produksi susu sedikitnya 30 persen, penurunan angka kesakitan ternak, serta pemendekan jarak beranak menjadi sekitar delapan hingga sembilan bulan.

Dengan transformasi dari sistem peternakan tradisional menuju peternakan modern yang higienis, ramah lingkungan, dan berbasis data, KTT Berkah Susu di Gemolong diharapkan mampu menjadi kelompok peternak kambing perah yang semakin mandiri, memiliki daya saing tinggi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi para anggotanya.  [*]

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.