Beranda Daerah Pantura Desa Lolong Pekalongan: Antara Ingatan Ebiet G Ade dan Legitnya Durian  

Desa Lolong Pekalongan: Antara Ingatan Ebiet G Ade dan Legitnya Durian  

Put. Bupati Pekalongan, Sukirman (tengah) saat menikmati durian Lolong bersama komisioner KPID Jateng di Desa Lolong, Pekalongan. Foto: dok

PEKALONGAN, JOGLOSEMARNEWS.COM –Musisi terkemuka tanah air, Ebiet G Ade pernah mencipta lagu dengan judul Lolong. Tak banyak yang tahu, lagu Lolong yang populer di tahun 1970-an ini ternyata terinspirasi dari sebuah desa di Kabupaten Pekalongan, tepatnya di Kecamatan Karanganyar. Meski berada di pelosok, Desa Lolong punya potensi wisata alam yang asri. Maka tak heran sampai menginspirasi penyanyi legendaris Ebie G Ade sampai menjadi syair lagu. Inilah sebagian cuplikan syair tersebut;

Jembatan batu di sebelahku diam
Pancuran bambu kecil memercikkan air
Menghempas di atas batu hitam
Merintih, menikam sepi pagi

 Pucuk-pucuk cemara bergoyang-goyang
Diterpa angin dingin bukit ini
S’perti mengisyaratkan doa
Rahasia alam diam di sekitarnya

Di sini pun aku mencari Engkau
Setiap kali kupanggili nama-Mu
Namun selalu saja hanya gema suaraku
Yang terdengar rindu

Lolong diciptakan Ebiet saat berkunjung ke Desa Lolong. Ia menggambarkan suasana alam di Desa Lolong dalam bait-bait lagunya.  Alam asri berpadu dengan sebuah jembatan batu melengkung, memantik inspirasi Ebiet untuk menuangkannya ke dalam lagu. Menurut Kepala Desa Lolong, Solehudin, dirinya pernah mendengar cerita dari para sesepuh, kalau Ebiet G Ade pernah mengunjungi desanya sekitar tahun 1976-an. Ebiet menikmati alam pedesaan yang saat itu sangat asri. Pada tahun 2013, Ebiet G Ade, juga kembali datang ke Lolong untuk kembali mengenang sekaligus menyaksikan acara festival durian yang rutin digelar di Kecamatan Karanganyar termasuk di Desa Lolong ini. “Saat kesini beliau menyaksikan festival durian, dan mencicipi durian khas Lolong. Seingat saya tahun 2009 dan 2013,” ungkap Solehudin.

Desa Lolong memang memiliki keindahan alam yang memikat. Terutama sungai yang jernih serta jembatan tua yang melengkung, yang menjadi salah satu daya tarik utama desa tersebut. Jembatan tersebut bahkan telah menjadi ikon desa. Sungai tersebut juga kadang digunakan untuk arum Jeram jika airnya pasang. Jembatan Batu Desa Lolong atau jembatan melengkung berukuran panjang lebih dari 40 meter dan lebar 3 meter itu dibangun pada masa penjajahan Belanda tahun 1912 menjadi ikon desa. Jembatannya panjang, sehingga membutuhkan struktur yang mampu menahan beban tanpa penyangga di tengah.

Foto: dok

Di masa lalu, jembatan tersebut merupakan jalur utama satu-satunya untuk aktivitas ekonomi masyarakat. Pedagang dari wilayah Banjarnegara dan Kalibening biasa melintasi jalur ini untuk menuju Pasar Wonopringgo guna menjual hasil bumi maupun ternak. Kkarena kian tua, jembatan itu tidak bisa dilalui kendaraan roda empat, dan hanya untuk roda dua. Akses ke Banjarnegara juga ada jalur lain yang dibuat oleh pemerintah.

Selain memiliki nilai sejarah, kemudian alam yang asri, Desa Lolong juga dikenal sebagai sentra durian di Pekalongan. Sepanjang jalan masuk Desa Lolong, akan berjejer penjual durian. Di kanan kiri jalan juga dipenuhi dengan pohon-pohon durian  Sekitar 80 persen lahan di desa tersebut ditanami pohon durian. Tak hanya di Desa Lolong, desa-desa sekitarnya yang masuk di Kecamatan Karanganyar juga penghasil durian di Pekalongan. Bahkan di Kecamatan terdekat yakni Kecamatan Doro juga merupakan sentra durian. Di Kawasan ini merupakan sentra penghasil durian di Jawa Tengah selain kabupaten lainnya. Bahkan banyak pohon durian yang buahnya bisa dipetik dengan mudah karena bergelantung berjarak dekat dengan tanah.

Kepala Dinas Kominfo Pemkab Pekalongan, Supriyadi mengatakan, daya tarik utama wisata Lolong justru terletak pada keaslian alamnya yang masih terjaga. Air sungai di wilayah itu masih jernih seperti puluhan tahun lalu. Meskipun untuk debit airnya mengalami penurunan lantaran sumber mata air yang juga semakin berkurang. Sungai di area ini selain dipakai untuk tempat nongkrong, juga dipakai arum Jeram sepanjang 9-12 kilometer dengan pemandangan alam di sepanjang Sungai Sengkarang yang indah.

Selain alam dan sejarah, sentra durian di Kawasan ini juga menjadi daya Tarik. “Hampir semua penduduk Desa Lolong dan sekitarnya memiliki kebun durian. Varian durian disini memiliki cita rasa berbeda. “Di area ini dikenal durian dengan cita rasa berbeda. Tidak ada nama durian khusus, namun durian setempat dikenal dengan nama durian Lolong. Durian legit, dengan daging yang tebal dan punya aneka rasa, baik yang manis, bahkan juga ada yang rasa gurih dan pahitnya,” kata Supriyadi seraya menambahkan hampir tiap tahun, digelar festival durian, karena melimpahnya durian di Desa Lolong.

Foto: dok

Festival Durian biasanya digelar di Lapangan Rejomulyo, Desa Lolong. Acara ini merupakan momen memperkenalkan durian unggulan dari penjuru desa di Kabupaten Pekalongan, tak terkecuali Desa Lolong. Durian dari masing-masing desa dikonteskan untuk mencari yang terbaik atau terlezat. Ribuan pengunjung dari berbagai daerah mengikuti pesta durian. Sebab, panitia selalu menyediakan durian untuk dibagikan kepada pengunjung secara cuma-cuma.

Plt. Bupati Pekalongan, Sukirman berkomitmen untuk menjaga keasrian Kawasan wisata di Desa Lolong dan sekitarnya sehingga akan tetap menjadi daya Tarik wisatawan. Apalagi, Kawasan ini memiliki keunggulan menjadi ikon Kabupaten Pekalongan sebagai sentra durian yang memiliki cita rasa khas. “Kita akan terus tingkatkan kualitas produk durian di Kawasan ini, sehingga makin kompetitif dengan penghasil durian dari daerah lain. Kemudian promosi jugakita galakkan agar makin dikenal banyak orang,” ungkapnya dalam acara Podcast Ngopi Bareng Mas Kirman di Lolong Adventure,  11 September lalu.

Dalam acara podcast itu hadir sebagai narasumber utama yakni Plt. Bupati Pekalongan, Sukirman dengan narasumber pendamping Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Supriyadi. Serta dua narasumber tamu dari Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah yakni Mukhammad Nur Huda (Korbid Isi Siaran) dan Anas Syahirul Alim (Komisioner KPID Bidang Isi Siaran). (ali)

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.