
WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ancaman penyalahgunaan narkoba yang terus mengintai kalangan remaja mendorong dunia pendidikan mengambil langkah lebih tegas. Tidak hanya melalui sosialisasi, upaya pencegahan kini mulai diintegrasikan ke dalam proses belajar mengajar. Langkah inilah yang menjadi fokus Deklarasi dan Komitmen Sekolah Bersih Narkoba (Bersinar) yang digelar di SMP Negeri 6 Wonogiri, Jumat (7/8/2026), hasil kolaborasi BNN Surakarta bersama sekolah dan berbagai pemangku kepentingan.
Program ini menjadi bagian dari strategi membangun benteng pertama pencegahan narkoba sejak usia sekolah. Melalui sinergi antara dunia pendidikan, aparat penegak hukum, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, orang tua, hingga masyarakat, diharapkan lahir generasi muda yang memiliki karakter kuat dan berani mengatakan “tidak” terhadap narkoba.
Deklarasi tersebut dihadiri langsung oleh Kepala BNN Surakarta Kombes Pol Ventie Bernard Musak, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri Sriyanto, Kepala SMPN 6 Wonogiri Marseno Aji, Forkopincam Wonogiri, Pengawas Pembina SMP SR 01, Komite Sekolah, Kepala Puskesmas Wonogiri II, dewan guru, tenaga kependidikan, perwakilan orang tua murid, hingga seluruh peserta didik SMP Negeri 6 Wonogiri.
Suasana penuh semangat tampak ketika seluruh peserta bersama-sama membacakan deklarasi anti narkoba yang kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen bersama sebagai simbol keseriusan mewujudkan Sekolah Bersinar (Bersih Narkoba).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri, Sriyanto, mengajak seluruh kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan memperkuat pengawasan agar lingkungan sekolah benar-benar terbebas dari ancaman penyalahgunaan narkotika.
Ia menegaskan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman untuk membangun karakter, membentuk prestasi, sekaligus melindungi masa depan generasi muda dari bahaya narkoba.
Sementara itu, Kepala BNN Surakarta Kombes Pol Ventie Bernard Musak menjelaskan bahwa Program Sekolah Bersinar tidak hanya bertujuan memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bahaya narkoba, tetapi juga membangun budaya pencegahan yang berkelanjutan melalui pendidikan.
“Program Sekolah Bersinar bertujuan agar murid-murid bisa mengetahui tentang narkoba dan bahayanya sehingga bisa menghindarinya,” ujar Kombes Pol Ventie Bernard Musak.
Ia juga berharap para guru mengambil peran lebih besar dengan memasukkan materi mengenai bahaya narkoba ke dalam proses pembelajaran sehingga pesan pencegahan dapat diterima siswa secara terus-menerus, bukan hanya melalui kegiatan seremonial.
Usai deklarasi, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi yang menghadirkan Penyuluh Narkoba BNN Surakarta, Farida Nur, sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, Farida mengenalkan konsep IKAN (Integrasi Kurikulum Anti Narkoba) yang memungkinkan materi pencegahan narkoba disisipkan dalam berbagai mata pelajaran sesuai karakteristik masing-masing.
“Bapak/Ibu bisa mengimplementasikan kurikulum anti narkoba di mata pelajaran yang Bapak dan Ibu ampu. Misalnya untuk mata pelajaran IPS itu ada tema sosial, mata pelajaran Bahasa Indonesia bisa diimplementasikan dalam materi puisi, dan sebagainya,” jelas Farida.
Menurutnya, pendekatan tersebut membuat edukasi anti narkoba menjadi lebih efektif karena diterima siswa secara alami dalam kegiatan belajar di kelas.
Farida juga mengimbau agar setiap guru minimal menyisipkan materi anti narkoba satu kali dalam setiap semester sehingga nilai-nilai pencegahan terus tertanam selama peserta didik menempuh pendidikan.
“Setidaknya, Bapak dan Ibu bisa menyisipkan materi anti narkoba ini sekali dalam setiap semester,” tambahnya.
Program Integrasi Kurikulum Anti Narkoba menjadi salah satu inovasi yang dinilai mampu memperkuat ketahanan pelajar terhadap pengaruh negatif narkotika. Dengan melibatkan seluruh guru tanpa memandang mata pelajaran, edukasi anti narkoba tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari budaya belajar di sekolah.
BNN Surakarta juga menyampaikan bahwa implementasi program ini akan terus dipantau untuk melihat efektivitas penerapannya di SMPN 6 Wonogiri. Evaluasi tersebut diharapkan menjadi model bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Wonogiri.
Ke depan, BNN berharap seluruh satuan pendidikan di Wonogiri dapat menerapkan Integrasi Kurikulum Anti Narkoba sebagai bagian dari upaya menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045 yang sehat, berkarakter, berprestasi, serta terbebas dari penyalahgunaan narkotika.
Melalui deklarasi bersama ini, SMPN 6 Wonogiri tidak hanya menegaskan sikap menolak narkoba, tetapi juga membangun sistem pendidikan yang menempatkan pencegahan sebagai bagian penting dalam membentuk masa depan peserta didik. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














