DENPASAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Bali mulai mengarahkan pembangunan menuju kawasan yang lebih ramah lingkungan. Sanur ditetapkan sebagai lokasi utama Pekan Iklim Bali 2026, yang mengajak masyarakat mengurangi emisi melalui perubahan pola mobilitas, penggunaan transportasi rendah emisi, hingga keterlibatan langsung dalam aksi iklim.
Melalui rilis, Senin (12/10/2026), Pekan Iklim Bali 2026 berlangsung pada 13–17 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Gerakan Iklim Daerah: Memaknai Transisi Berkeadilan untuk Semua”. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan pemerintah, komunitas, pelaku usaha, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil untuk membahas langkah konkret menghadapi perubahan iklim.
Kawasan Rendah Emisi (KRE) Sanur menjadi pusat kegiatan. Peserta didorong menjangkau lokasi menggunakan jalur pejalan kaki, sepeda kayuh, maupun shuttle listrik Intaran.
Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, pemerintah daerah perlu mengambil peran penting dalam merancang solusi perubahan iklim sesuai kondisi wilayah masing-masing.
“Provinsi Bali dengan bangga menyelenggarakan Pekan Iklim Bali di Kawasan Rendah Emisi Sanur sebagai wadah bagi setiap daerah untuk berbagi pandangan dan strategi dalam merespon perubahan iklim. Daerah harus menjadi yang terdepan dalam mendorong aksi iklim dan harus didukung penuh oleh pemerintah pusat, mitra pembangunan, serta lembaga-lembaga internasional,” ujar Koster dalam konferensi pers di Gedung Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Minggu (11/10/2026).
Enam kawasan di Bali disebut masuk dalam pengembangan Kawasan Rendah Emisi, yakni Ubud, Kepulauan Nusa Penida, Nusa Dua, Kuta, Sanur, serta Kawasan Cagar Budaya Gajah Mada di Kota Denpasar.
Koster menyebut pendekatan tersebut sebagai bagian dari arah pembangunan yang berupaya menyelaraskan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat.
“Kerthi Bhumi Satwika bukan sekadar nama kawasan melainkan perubahan arah pembangunan untuk memastikan keselarasan alam, budaya, dan manusia,” katanya.
Tantangannya bukan hanya menyediakan transportasi yang lebih ramah lingkungan. Penerapan kawasan rendah emisi juga membutuhkan perencanaan yang sesuai dengan kebutuhan warga, pola perjalanan, kondisi jalan, serta karakter setiap wilayah.
Anggota Komite Pengarah Koalisi Bali Emisi Nol Bersih sekaligus Country Director WRI Indonesia, Nirarta Samadhi, menilai keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam penerapan kebijakan tersebut.
“Tantangan mobilitas di Bali merefleksikan karakteristik lanskap dan pola perpindahan warga di tiap kawasan. Sebagai sebuah strategi, penerapan Kawasan Rendah Emisi perlu dirumuskan bersama dengan perwakilan seluruh elemen masyarakat yang ada dalam kawasan tersebut,” kata Nirarta.
Ia menambahkan, kolaborasi pemerintah kota, desa, desa adat, komunitas, dan kelompok masyarakat diperlukan agar perbaikan mobilitas di KRE Sanur dapat berjalan sesuai kebutuhan setempat.
Target Emisi Nol Bersih 2045, Apa Saja Agendanya?
Direktur Eksekutif ViriyaENB, Suzanty Sitorus, mengatakan penetapan kawasan rendah emisi di Bali menjadi bagian dari upaya mencapai target Emisi Nol Bersih pada 2045.
“Penetapan Kawasan Rendah Emisi di Bali menjadi wujud nyata dari komitmen Emisi Nol Bersih pada 2045. Hal ini merupakan contoh bahwa pemimpin daerah memiliki posisi strategis dalam memahami tantangan maupun solusi iklim dari daerahnya masing-masing,” ujar Suzanty.
Melalui Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, ViriyaENB mendukung Pemerintah Provinsi Bali dalam memperkuat kerja sama lintas sektor. Pekan Iklim Bali 2026 diharapkan memperluas kolaborasi dan mendorong inisiatif yang mendukung ekonomi tangguh serta berkeadilan.
Selama lima hari penyelenggaraan, terdapat empat rangkaian kegiatan utama yang menghubungkan kebijakan, pendanaan, inovasi, dan partisipasi masyarakat.
✓ Forum Kebijakan Publik
Forum ini mempertemukan pemerintah pusat dan daerah, mitra pembangunan, serta kelompok masyarakat untuk membahas penerjemahan kebijakan dan komitmen iklim menjadi rencana aksi.
✓ Forum Investasi Iklim
Lembaga keuangan, pengelola dana lingkungan, wirausaha iklim, dan mitra lainnya akan membahas peluang pendanaan bagi berbagai inisiatif lingkungan.
✓ Jelajah Inovasi
Peserta diajak mengunjungi lokasi kerja mitra pembangunan dan inovator untuk melihat penerapan solusi iklim yang tumbuh dari praktik serta kebutuhan masyarakat setempat.
✓ Festival Rakyat
Kegiatan ini menghadirkan penayangan perdana lima film pendek dari program Lensa Iklim Bali, Bazaar Berkelanjutan, serta lokakarya interaktif yang terbuka untuk partisipasi publik.
Selain berpusat di Sanur, rangkaian kegiatan juga mencakup kunjungan ke sejumlah wilayah Bali, antara lain Canggu, Kintamani, Wanagiri, Gianyar, dan Kusamba.
Pekan Iklim Bali 2026 mengajak masyarakat, komunitas, pelaku usaha, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil untuk terlibat dalam pembahasan maupun pelaksanaan aksi iklim.
Agenda ini tidak hanya membahas pengurangan emisi. Ketahanan masyarakat menghadapi bencana, pengelolaan sumber daya alam, keberlanjutan mata pencaharian, dan kualitas ruang hidup juga menjadi bagian penting dalam membangun Bali yang lebih siap menghadapi dampak perubahan iklim.
Keberhasilan kawasan rendah emisi nantinya akan bergantung pada pelaksanaan di lapangan: seberapa mudah masyarakat menggunakan transportasi alternatif, seberapa besar keterlibatan warga dalam pengambilan keputusan, dan seberapa jauh kebijakan tersebut mampu mengurangi emisi tanpa mengabaikan kebutuhan ekonomi masyarakat. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














