
SUKOHARJO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Profesionalisme guru tidak cukup hanya ditopang penguasaan materi dan kemampuan mengajar. Akan tetapi, kematangan moral, pengendalian emosi, serta nilai-nilai spiritual juga menjadi fondasi penting bagi guru dalam menjalankan tugas dan memberikan keteladanan kepada peserta didik.
Hal itu ditekankan Kepala SMA Negeri 1 Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Bagus Bintang Sukarno, M.Pd., saat membuka kegiatan In House Training (IHT) Peningkatan Kompetensi Guru tentang Kematangan Moral, Emosi, dan Spiritual dalam Berperilaku sesuai Kode Etik Guru, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan yang diikuti seluruh guru SMAN 1 Mojolaban tersebut menghadirkan Dr. Bramastia, M.Pd., pemerhati kebijakan pendidikan sekaligus akademisi Pascasarjana FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, sebagai narasumber.
Bagus mengatakan, guru memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan ilmu pengetahuan. Sikap, ucapan, dan perilaku guru sehari-hari juga menjadi bagian dari proses pendidikan karakter bagi peserta didik.
“Guru bukan hanya bertugas mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan keteladanan melalui sikap dan perilakunya. Karena itu, kita perlu terus mengasah skill, membangun mindset yang terbuka terhadap perubahan, menjaga attitude, dan memperkuat karakter serta integritas,” tegasnya, seperti dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.
Menurut Bagus, kegiatan IHT tersebut menjadi momentum bagi para guru untuk merefleksikan diri sekaligus memperkuat komitmen dalam menjalankan kode etik profesi.
Ia menegaskan, kode etik guru tidak boleh dipandang sebatas aturan tertulis yang harus dipatuhi. Lebih dari itu, kode etik merupakan komitmen moral yang harus diwujudkan dalam setiap ucapan, sikap, keputusan, dan tindakan selama menjalankan profesi.
“Sebelum membentuk karakter peserta didik, kita harus bersedia merefleksikan dan memperbaiki diri. Kematangan moral membantu kita mengambil keputusan yang benar, kematangan emosional menuntun kita untuk bersikap bijaksana, sedangkan kematangan spiritual memperkuat nilai-nilai luhur dalam pengabdian. Inilah fondasi penting untuk menjadi guru profesional yang mampu memberikan teladan,” imbuhnya.
Tiga Aspek Penting dalam Diri Guru

Dalam pemaparannya, Bramastia menekankan pentingnya kematangan moral, emosional, dan spiritual sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari profesionalisme guru.
Ia menjelaskan, kematangan moral berkaitan dengan kemampuan membedakan benar dan salah serta menjadikan prinsip etika sebagai dasar dalam mengambil keputusan. Sementara itu, kematangan emosional mencakup kemampuan mengelola perasaan dan merespons berbagai situasi secara tenang, proporsional, serta bijaksana.
Adapun kematangan spiritual menjadi landasan bagi guru untuk menjadikan nilai-nilai luhur sebagai pedoman dalam menjalankan profesi dan pengabdian.
Ketiga aspek tersebut, menurutnya, perlu berjalan beriringan agar guru mampu menjalankan tanggung jawab secara profesional, berintegritas, dan bertanggung jawab.
Bramastia juga mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip pendidikan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara, yakni Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
Prinsip tersebut menegaskan peran guru untuk menjadi teladan di depan, membangun semangat di tengah, serta memberikan dorongan dari belakang agar peserta didik dapat berkembang secara optimal.
Pemahaman terhadap kode etik, lanjutnya, harus tercermin dalam perilaku nyata, terutama ketika guru menghadapi perbedaan pendapat, tekanan pekerjaan, persoalan kedisiplinan, maupun dinamika hubungan dengan peserta didik.
Komunikasi Efektif Cegah Kesalahpahaman
Selain integritas dan kematangan pribadi, Bramastia turut menyoroti pentingnya komunikasi yang efektif dan empatik antara guru dan peserta didik.
Menurutnya, komunikasi yang baik tidak hanya bergantung pada kejelasan pesan yang disampaikan, tetapi juga pada kemampuan guru memahami lawan bicara, mendengarkan secara aktif, dan mengendalikan emosi.
Guru perlu menyampaikan pesan secara jelas dan terstruktur, memperhatikan bahasa tubuh peserta didik, serta melakukan klarifikasi apabila terdapat informasi yang belum dipahami secara tepat.
Sikap empatik dan kemampuan mengelola emosi juga diperlukan untuk mencegah kesalahpahaman sekaligus membangun hubungan yang positif di lingkungan sekolah.
Melalui kegiatan IHT tersebut, SMAN 1 Mojolaban berupaya memperkuat budaya profesionalisme guru yang berlandaskan integritas, kematangan moral, pengendalian emosi, dan nilai-nilai spiritual.
Penguatan kompetensi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman secara konseptual, tetapi juga diterapkan dalam proses pembelajaran, komunikasi sehari-hari, serta keteladanan guru di lingkungan sekolah.
Dengan demikian, kode etik guru tidak hanya menjadi kewajiban profesional, tetapi juga wujud tanggung jawab moral dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, bermartabat, dan mendukung pembentukan karakter peserta didik. [*]
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














