
SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Grup Riset Kriya dan Inovasi Program Studi Desain Mode, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan industri kreatif berbasis budaya melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Gallery Batik Abstrakan Pandono, Laweyan, Surakarta.
Program yang dilaksanakan pada tahun 2026 tersebut merupakan upaya untuk memperkuat identitas Batik Abstrakan sekaligus meningkatkan daya saingnya melalui pengembangan desain yang lebih relevan dengan selera pasar masa kini.
Kegiatan tersebut didukung dan didanai Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS melalui Skema Pengabdian kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HRG-UNS) Tahun 2026.
Program yang diketuai Prof. Dr. Sarwono, M.Sn. tersebut diarahkan untuk memperkenalkan Batik Abstrakan kepada masyarakat yang lebih luas melalui pengembangan desain kontemporer, diversifikasi produk, serta penguatan strategi promosi.
“Salah satu sasaran utama pengembangan tersebut adalah pasar generasi muda yang dinilai memiliki karakter dan preferensi fesyen yang terus berkembang,” jelas Ketua Program, Prof. Dr. Sarwono, M.Sn.
Dia menjelaskan, Gallery Batik Abstrakan Pandono merupakan salah satu pelaku industri batik di Kampung Batik Laweyan yang memiliki kekhasan melalui eksplorasi motif abstrak. Karakter visual tersebut menjadi identitas sekaligus pembeda produk Batik Abstrakan Pandono dibandingkan produk batik pada umumnya.

Sekalipun memiliki karakter yang kuat, pengembangan pasar Batik Abstrakan masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah bagaimana memperkenalkan produk tersebut kepada konsumen yang lebih luas, terutama generasi muda yang cenderung menyukai produk fesyen modern, fungsional, dan selaras dengan perkembangan tren.
Kondisi itulah yang kemudian menjadi pijakan bagi Grup Riset Kriya dan Inovasi FSRD UNS untuk membangun kolaborasi bersama mitra. Dosen, mahasiswa, dan perajin dilibatkan dalam proses pengembangan desain, produk, hingga strategi pemasaran.
Namun kolaborasi tersebut diarahkan bukan untuk menghilangkan karakter khas Batik Abstrakan, melainkan demi mengembangkan produk tersebut agar lebih adaptif terhadap kebutuhan pasar. Dengan pendekatan tersebut, nilai budaya lokal tetap dipertahankan sekaligus dipadukan dengan inovasi desain yang lebih kontemporer.
Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah diskusi mengenai eksplorasi dan pengembangan desain Batik Abstrakan. Kegiatan tersebut didampingi Ratna Endah Santoso, S.Sn., M.Sn. dan Dr. Sujadi Rahmat Hidayat, S.Sn., M.Sn.
Melalui kegiatan tersebut, dilakukan eksplorasi berbagai alternatif motif serta penerapannya pada produk fesyen yang lebih kekinian. Pengembangan desain dilakukan dengan tetap mempertahankan karakter visual Batik Abstrakan sebagai identitas utama produk.
Proses pengembangan selanjutnya melibatkan mahasiswa Program Studi Desain Mode dan Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) FSRD UNS. Para mahasiswa turut mengidentifikasi preferensi desain yang diminati konsumen muda melalui observasi tren dan eksplorasi konsep produk.
Dari proses tersebut, mahasiswa memberikan sejumlah rekomendasi terkait warna, motif, bentuk produk, hingga gaya visual yang dinilai sesuai dengan karakter konsumen dari kalangan Generasi Z dan Milenial. Masukan tersebut menjadi bagian dari upaya agar hasil pengembangan desain memiliki daya tarik yang lebih kuat bagi target pasar.
Tidak berhenti pada pengembangan desain dan produk, menurut Prof. Sarwono, pendampingan itu juga menyentuh aspek komunikasi visual dan pemasaran digital. Pendampingan di bidang ini dilakukan M. Rudianto, S.Sn., M.Sn. dan Nisaul Hasanah A. Rosyad, S.Ds., M.B.A.
Pendampingan mencakup penyusunan konsep konten Instagram, fotografi produk, serta penguatan identitas visual merek. Strategi tersebut diharapkan dapat membantu Gallery Batik Abstrakan Pandono membangun citra merek yang lebih kuat sekaligus memperluas jangkauan promosi melalui media digital.
“Melalui kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan perajin, Batik Abstrakan Pandono diharapkan mampu terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya. Inovasi desain dan penguatan pemasaran menjadi bagian penting untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperluas peluang pasar produk batik khas Laweyan itu,” papar Prof. Sarwono.
Program tersebut sekaligus menjadi bentuk kontribusi Grup Riset Kriya dan Inovasi FSRD UNS dalam mendukung pelestarian budaya melalui pengembangan industri kreatif berbasis batik. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku usaha diharapkan dapat melahirkan inovasi yang tidak hanya menjaga keberlanjutan budaya, tetapi juga membuat produk batik semakin relevan di tengah perubahan selera dan perilaku konsumen di era digital. [*]
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.













