
SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM — Menjelang Peringatan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober, industri kreatif kerajinan batik lokal di Kabupaten Sragen terus menunjukkan dinamika perkembangan motif serta tantangan pasarnya tersendiri.
Salah satunya diungkapkan oleh Suwanti produsen batik asal Dukuh Karangwaru RT 28, Desa Krikilan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Pemilik label Batik Suwanti tersebut menjelaskan bahwa saat ini produk batik khas Sragen memiliki tren motif tersendiri yang sangat diminati oleh pasar lokal maupun regional.
”Kalau di Sragen itu ada ciri khas tersendiri. Yang sedang tren dan saya bawa saat ini adalah motif Rajawali Kembang. Gambarnya melambangkan burung rajawali yang dikombinasikan dengan ornamen kembang (bunga),” ujar Suwanti pada JOGLOSOMARNEWS.COM Kamis (1/10/2026).
Ia menjelaskan, karakter busana batik yang paling disukai masyarakat saat ini umumnya didominasi oleh ukuran motif yang cenderung besar serta warna yang tidak terlalu banyak.
”Motifnya besar-besar dan biasanya hanya menggunakan dua kombinasi warna utama, yaitu warna sogan (cokelat khas Jawa) dan warna hitam. Teknik pembuatannya menggunakan print cabang,” tambahnya.
Segmentasi pasar dan dominasi produk printing, dinamika teknik pengerjaan batikseperti teknik cap, tulis, maupun printing Suwanti membeberkan bahwa sebagian besar konsumen di Sragen didominasi oleh segmen menengah ke bawah. Hal ini berpengaruh langsung terhadap daya beli serta pemilihan jenis produk batik.
”Untuk masyarakat menengah ke bawah di Sragen, penggunaan teknik cap apalagi tulis kurang efisien dari segi harga. Batik tulis harganya berada di kisaran Rp500.000 ke atas hingga jutaan rupiah, biasanya untuk kalangan atas. Maka dari itu, konsumen di sini lebih banyak memilih busana batik printing yang harganya terjangkau,” jelasnya.
Untuk pakaian busana batik jadi berbahan dasar katun prima premium, pihaknya mematok harga di kisaran Rp150.000 per potong. Harga tersebut dinilai paling ideal dan diminati oleh pasar lokal Sragen dan sekitarnya.
Meskipun tren variasi gambar batik selalu berubah dari waktu ke waktu, Suwanti menuturkan bahwa motif burung tidak pernah ditinggalkan dan menjadi ciri khas utama kerajinan batik di Sragen.
”Biasanya tiap tahun ada variasi gambar baru, tapi polanya tidak jauh dari gambar motif burung yang dibesarkan atau dikecilkan. Filosofinya lebih mendekatkan diri pada keindahan alam sekitar,” paparnya.
Tantangan Pasar Digital dan Persaingan Antardaerah
Di sisi lain, Suwanti mengakui tantangan berat yang dihadapi para pelaku usaha UMKM batik lokal saat ini adalah gempuran produk di platform marketplace atau toko online.
”Tantangan terbesar saat ini ada pada persaingan pasar online. Di toko online banyak produk tiruan yang dijual jauh lebih murah dibanding harga penjualan langsung dari produsen rumah tangga. Perbedaannya jelas terletak pada kualitas bahan dasar kainnya; kalau yang murah sekali cuci biasanya kualitasnya sudah beda,” tegasnya.
Selain persaingan di ranah digital, produsen batik Solo Raya juga menghadapi kompetisi harga dari daerah tetangga seperti Pekalongan. Menurutnya, batik dari Pekalongan kerap masuk ke wilayah Solo Raya dengan tawaran harga yang sangat murah, bahkan berada di kisaran Rp50.000-an.
Namun demikian, Suwanti optimistis kualitas bahan serta kerapian pengerjaan batik dari wilayah Sragen dan Solo Raya tetap unggul dan memiliki tempat tersendiri di hati para pencinta batik.
”Kalau soal kualitas bahan dan pengerjaan dari daerah Sragen, Solo, maupun Sukoharjo, insya Allah tidak diragukan lagi dan bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya. Huri Yanto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.













