JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Cak Nun Sebut Polemik Perang Pernyataan Amien Rais VS Luhut, Seperti Penyakit Kudis

Emha Ainun Najib. Foto/Tempo.co
Emha Ainun Najib. Foto/Tempo.co

YOGYAKARTA – Polemik perang pernyataan antara Ketua Dewan Kehormatan PAN,  Amien Rais dengan Menko Kemaritiman,  Luhut Binsar Pandjaitan memantik respon dari budayawan Emha Ainun Nadjib. Budayawan yang akrab disapa Cak Nun itu menilai saling serang pernyataan itu menunjukkan bahwa dinamika politik di Indonesia saat ini tak ubahnya permainan sepakbola yang kacau dan penyakit kudis.

Cak Nun mengibaratkan sistem dan dinamina politik di Indonesia seperti permainan sepak bola yang aturannya sudah tak jelas.

“Kita ini ibarat sudah kacau sepakbolanya sehingga menendang bola kemanapun selalu salah bagi yang lain,” ujar Cak Nun saat ditemui di kediamannya di kampung Kadipiro, Yogya, Jumat (23/3/2018).

Baca Juga :  UGM Kembangkan Sistem Peringatan Dini Gempa, Klaim Bisa Deteksi dan Prediksi Gempa 3 Hari Sebelum Terjadi

Polemik perang urat syaraf itu mencuat ketika Amien Rais mengkritik pembagian sertifikat tanah yang selama ini dilakukan Presiden Jokowi. Politikus PAN itu menyebut program Jokowi tersebut sebagai tindakan yang membohongi publik. Tak lama setelah komentar Amien, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengancam membuka dosa pengkritik pemerintah yang asal-asalan.

Menurut Cak Nun, polemik tersebut tak ubahnya seperti rasa gatal dari kudis di tubuh Indonesia yang kemudian setelah digaruk sembuh tapi terjadi lagi.

Baca Juga :  Pilkada 2020 Berdampak Pada Penambahan Kasus Positif Covid-19

“Saya enggak bisa jawab soal kudis, wong darahnya yang kotor kok,” ujarnya.

Ketidakjelasan arah politik inilah yang membuat Cak Nun malas ikut campur dalam polemik politik yang terjadi di Indonesia.

“Aku tak gawe lapangan dewe sing bener wae, mainke sing bener (Saya bikin lapangan sendiri saja, memainkan yang benar saja),” ujarnya.

Menurut Cak Nun, Indonesia membutuhkan pemimpin yang tak berpihak pada golongan A atau B.

“Tapi sepertinya masyarakat juga sudah lupa butuh pemimpin yang tak berpihak,” ujarnya terkait polemik Amien dengan Luhut Panjaitan.

www.tempo.co